Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Pertunjukan Yang Seru


Setelah satu menit Chen Namgung melempar bom, tidak ada yang terjadi. Tidak ada suara ledakan, bahkan suara timer peringatan tidak ada.


Bom itu tidak meledak.


Gelak tawa para anggota Organisasi Tempur menggelegar. Mereka sangat puas menertawakan kebodohan Chen Namgung. Padahal mereka tahu jika itu adalah bom palsu. Namun mereka hanya diam untuk mempermalukan Chen Namgung.


"Inikah bom dari Ahli Bom Mei?" tanya Shi Guang meremehkan.


Chen Namgung membeku. Ia sudah menghabiskan banyak dana untuk membeli bom ini. Namun ternyata ia ditipu.


"Tidak, tidak mungkin!" ucap Chen Namgung. Ia merasa akan gila sekarang.


Di dalam markas, A Shui dan Mei Mengyi tertawa puas. Sebenarnya bom itu tidak palsu. Namun bom itu memang bukan berasal dari Mei Mengyi.


Namun, A Shui sudah mengambil alih bom itu. Jadi ia bisa menjinakkan bom bahkan tanpa disadari oleh Chen Namgung. Bagi A Shui, ini adalah hal kecil.


"Selanjutnya pertunjukan yang seru," ucap A Shui.


Klik!


Setelah A Shui mengetik tombol enter, di luar semakin kacau. Saat ini ada hujan bom yang dilemparkan dari atas jet. Hujan bom itu tanpa aba-aba. Bagi kultivator yang lebih rendah levelnya, mereka tak bisa menghindar.


Mereka mati tanpa tahu apa yang menyerang mereka.


Belum berhenti hujan bom, tanah di pulau bergetar. Dari dalam tanah itu, keluar kumpulan duri besi tajam. Bagi kultivator yang tidak siap, kaki mereka langsung tertusuk.


Mereka mati seketika.


Chen Namgung sudah tidak ada di lokasi. Dia kabur meninggalkan pasukannya. Sedangkan pasukannya yang lain yang masih hidup, mereka ikut kabur dan berpencar.


Mereka tidak mempedulikan satu sama lain lagi.


"Lemah," ucap A Shui sinis. Ia kembali mengetikkan serangkaian angka di komputernya. Sedangkan Mei Mengyi keluar dari ruangan.


*


Ling dijemput oleh jet Mei Mengyi. Ia memakai baju khas Ling X. Saat sampai di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya, ia melompat.


Ling tersenyum puas. Ia melihat darah segar yang begitu banyak. Anggota Organisasi Tempur benar-benar mengabulkan perkataannya untuk menyambutnya dengan jalan yang disiram darah segar.


A Shui dan Mei Mengyi keluar bersama. Mereka mendatangi Ling dan memberi hormat. Begitu pula dengan anggota yang lain.


"Aku bangga pada kalian," ucap Ling sambil tersenyum dalam topengnya.


Semua orang merasa sangat terharu. Biasanya mereka hanya akan membantu Ling dari belakang. Ling memang sering memuji mereka karena kerja keras mereka. Namun pujian kali ini terasa berbeda.


Ling melangkah santai di atas tanah yang sudah bersih dengan mayat. Di sana, hanya tersisa darah.


"Jaga selalu pulau ini. Cepat atau lambat, aku akan kembali menetap di sini," ucap Ling lantang. Ia menatap semua wajah anggotanya yang sudah tidak asing lagi.


"Jadikan Chen Namgung sebagai buronan," ucap Ling lagi. Hal itu membuat mereka semua menyeringai.


*


Ling tidak kembali ke asrama. Ia pulang ke rumah Keluarga Bo. Selama kuliah, bisa dihitung jari berapa kali dia masuk kelas. Dia sering mengambil cuti untuk menyelesaikan beberapa urusan.


Namun Ling kembali besok. Karena sebentar lagi ia akan bergabung ke acara kultivasi tahunan untuk mendapat potongan kertas dari Rektor Xiang.


Saat ini, Ling menyiapkan banyak ramuan. Ia sudah pernah melakukan ini sebelumnya. Dalam acara itu, mereka semua akan dikumpulkan menjadi satu. Namun sebelum itu mereka akan melakukan tes darah terlebih dahulu.


Jika keturunan mereka masuk dalam kriteria, mereka bisa masuk. Namun jika keturunan mereka kurang baik, mereka tidak akan diizinkan.


Jika masuk saja tidak bisa, apalagi menyerapnya.


Ling meminum beberapa ramuan yang sudah ia siapkan. Saat ini ia ingin kembali menambah kekuatan dan menyusun kembali kultivasinya.


Setelah beberapa hari membaca buku kuno, kini Ling tahu jika buku itu ternyata buku teknik tingkat tinggi. Jadi, Ling akan mencobanya.


Ling yakin jika dia mencobanya, apalagi menggabungkan dengan sumberdaya kultivasi, kekuatannya akan melonjak drastis.


Setelah itu, Ling menyiapkan beberapa makanan di dalam saku dimensinya. Dalam acara itu, maksimal orang akan tahan paling lama selama seminggu. Jika lewat seminggu, kemungkinan mereka mati.


Semakin lama mereka bertahan, semakin banyak pula energi yang mereka dapat. Namun jika terlalu lama, bisa jadi mereka sudah mati di dalam.


Saat ini Ling kembali meracik ramuan. Ia akan membawanya untuk Keluarga Zhao. Saat ini, yang paling butuh perawatan adalah Tuan Tua Zhao dan Nyonya Zhao.


Belum lagi Ling menemui Zhao Nuan.


Dengan gerakan santai tapi pasti, Ling menyelesaikan ramuan. Kini bahan obat berserakan di kamarnya.


"Tuan Muda, ayo makan malam," panggil Paman Qian dari luar.


Sejak anggota Keluarga Zhao dirawat di rumah Keluarga Bo, Paman Qian dibawa ke sini untuk membantu. Sedangkan rumah Keluarga Chen dijaga oleh anak-anak Chen Liu.


"Baik," jawab Ling. Ia membawa senampan ramuan yang baru saja dia racik.


Ia melangkah keluar kamar. Paman Qian masih menunggunya di depan pintu. Sepertinya ia berpikir Ling tidak akan keluar jadi dia menunggunya.


"Ayo, Paman," ajak Ling. Ia melangkah lebih dulu. Sedangkan Paman Qian mengikutinya di belakang.


Di meja makan, sudah berkumpul banyak orang. Kali ini tidak ada tetua keluarga. Hanya ada Bo Minghao, Chen Lin, dan beberapa anggota Keluarga Zhao yang sudah mulai sembuh.


Termasuk Zhao Ran dan Zhao Nuan.


Ling duduk di sebelah Chen Lin. Makanannya langsung disiapkan oleh pelayan. Sekarang, pelayan-pelayan ini sudah sangat menghormati Ling. Bahkan beberapa dari mereka bergetar saat melihat Ling.


Melihat garis keturunan dan caranya mengalahkan Bo Hongyun sangat mengagumkan.


"Ayah, apa ada yang ingin dibicarakan?" tanya Ling saat melihat raut gelisah dari Bo Minghao.


"Aku akan bicara denganmu empat mata," ucap Bo Minghao. Ia langsung bangkit dan meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanannya.


Ling melirik Chen Lin sejenak. Chen Lin mengangguk, jadi Ling berjalan mengejar Bo Minghao.


*


Bo Minghao duduk menghadap jendela. Rautnya antara sedih, senang, khawatir, semua bercampur.


"Apa ada masalah?" tanya Ling menatap punggung Bo Minghao.


"Aku hanya ingin meminta bantuanmu," ucap Bo Minghao. Ia menggenggam erat tangan Ling. Sekarang tubuhnya bergetar.


"Apa itu?" tanya Ling lagi.


"Tolong jaga Chen Lin jika suatu saat aku mati," ucap Bo Minghao dengan suara parau. Ia seperti menahan tangisnya.


"Aku akan selalu menjaga Ibuku. Mengapa Anda harus mati?" tanya Ling.


"Mereka menginginkan kertas itu. Jika aku tertangkap, tolong jaga Chen Lin. Dan juga kertas itu jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah," ucap Bo Minghao menjelaskan. Saat ini air matanya benar-benar menetes.