Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Membatalkan Perjanjian


Keadaan rumah Keluarga Bo masih tenang seperti biasa. Bo Minghao tak mengumumkan ke publik jika Ling adalah seorang pewaris karena Ling tidak ingin. Lagipula Ling juga tidak ingin menjadi kepala keluarga, jadi tidak ada perayaan.


Dua orang turun dari mobil dengan simbol phoenix. Setiap orang yang melihat mereka membungkuk hormat. Di belakang mereka ada tiga orang lagi yang terlihat seumuran.


"Ling, Xia, ayo kita masuk," sapa Chen Lin dengan ramah.


"Liam, Yuan, Su Wen Ai, sudah lama Bibi tidak melihat kalian," ucap Chen Lin pada tiga orang di belakang Ling dan Zhuo Xia.


"Selamat pagi, Bibi," ucap Zhuo Xia sambil tersenyum.


"Selamat pagi juga. Apa kau sudah sarapan?" tanya Chen Lin.


"Sudah, Bibi. Hari ini aku akan berangkat ke luar negeri untuk urusan bisnis. Jadi aku ingin berpamitan padamu," jawab Zhuo Xia sambil menjelaskan.


"Baiklah. Hati-hati ya," ucap Chen Lin. Ia memeluk Zhuo Xia sebentar.


"Aku pergi dulu, Bibi," ucap Zhuo Xia. Ia hanya berpamitan pada Chen Lin, tidak yang lain, tidak juga Ling.


Ling hanya bisa menghela napas pelan. Ia tak bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh Zhuo Xia.


"Ayo sarapan," ucap Chen Lin mengajak mereka berempat.


Mereka pun masuk. Di dalam ruang makan sudah ada Bo Minghao dan Chen Qi. Di sebelah mereka, berdiri Paman Qian.


Berbagai jenis sarapan sudah disiapkan. Hari ini Chen Lin sengaja mengundang mereka semua untuk Ling. Itu juga karena ia sudah lama tidak bertemu dengan mereka.


Tanpa basa-basi, mereka semua mulai makan. Sambil makan, beberapa kali mereka mengobrol. Bo Minghao juga terbuka pada mereka. Ia banyak bercerita tentang pengalamannya saat berada di Universitas Internasional Kota Bayangan.


Ling memainkan ponselnya setelah selesai makan. Ia mengecek pesan dari A Shui, tapi tidak ada. Tidak biasanya A Shui telat seperti ini.


Ling kembali membuka situs web khusus Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Situs itu sedang ramai karena suatu hal. Semua anggota membicarakan tentang kembalinya A Shui.


Ia tersenyum tipis.


Tidak berapa lama kemudian, A Shui mengirim pesan padanya. Namun isinya bukan tentang pertanyaan Ling.


[Pergerakan Pegasus ke Keluarga Bo. Mereka mengincar kertas yang ada padamu, Raja.]


Ling menyeringai membaca pesan itu. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Kemudian ia melirik ke arah pimpinan tetua.


Pimpinan tetua menyadari tatapan Ling. Wajahnya semakin pucat. Ia menunduk dan meremas tangannya.


Ling berdiri dan menghampiri pimpinan tetua. Ia menyeringai jahat. Tatapannya setajam pisau. Auranya sedingin salju. Pimpinan tetua semakin bergetar di dekatnya.


"Pimpinan tetua, belum terlambat untuk menyesal," ucap Ling dengan suara lembut. Namun pimpinan tetua malah merinding mendengarnya.


Pimpinan tetua merasa bimbang. Ia tahu kesalahannya. Ia tahu apa yang ia perbuat. Namun ia ragu dengan pilihannya sekarang.


Ling menghentak-hentakkan kaki. Ia menunggu jawaban pimpinan tetua sambil melihat jam di ponselnya. Tersisa beberapa menit lagi.


"Aku akan membatalkan perjanjian," ucap pimpinan tetua sambil bergetar. Ia menunjukkan tangan kanannya yang terdapat tato kuda bersayap.


"Itu tidak bisa dihapus dalam beberapa menit," ucap Ling. Ia kembali melihat jam di ponselnya.


Pimpinan tetua semakin bergetar. Ia tak bisa berpikir jernih saat ini. Sebelum membuat perjanjian ia juga tak bisa berpikir jernih. Ia tak tahu harus melakukan apa sekarang.


Ling menyeringai kejam. Ia mengambil sebilah pisau yang cukup besar dari saku dimensinya. Ia membelai lembut pisau itu. Kilauan pisau itu sangat cerah. Ketajamannya sudah bisa dibayangkan.


"Kau yakin ingin membatalkan perjanjian?" tanya Ling sambil menatap pimpinan tetua.


Pimpinan tetua itu gentar saat melihat pisau Ling. Ia menggenggam erat tangan kanannya. Waktunya sudah tidak banyak lagi.


"Apa hanya cara itu?" tanya pimpinan tetua yang mengerti maksud Ling.


"Benar," jawab Ling singkat dan tegas.


Pimpinan tetua menarik napas dalam. Ia berkali-kali membuang napas kasar. Dengan suara bergetar, ia menjawab, "Aku yakin."


Ling berhenti membelai pisau itu. Ia mengambil sebotol ramuan dari saku dimensinya. Kemudian ia memberikan itu pada pimpinan tetua.


"Ini akan mengurangi pendarahan dan rasa sakit," ucap Ling menjelaskan kebingungan pimpinan tetua.


Dengan patuh, pimpinan tetua meminum ramuan itu. Wajahnya berubah menjadi aneh. Ramuan yang ia minum sangat tidak enak.


"Kau sudah siap?" tanya Ling memegang erat pisau itu.


"Ling apa yang akan kau lakukan?" tanya Bo Minghao yang belum mengerti keadaan.


"Pimpinan tetua bergabung dengan Pegasus. Aku akan membatalkan perjanjian mereka dengan memotong tangan kanan dengan gambar tato," jawab Ling santai. Ia tak peduli dengan apa yang dipikirkan Bo Minghao. Saat tangan pimpinan tetua ada di tangannya, tanpa basa-basi lagi Ling langsung menebas tangan itu.


Pimpinan tetua hanya terkejut sebentar. Ia melihat sedikit darah bercucuran dari lengan kanannya yang sudah tidak sempurna. Ia benar-benar tidak merasakan sakit sama sekali.


Beberapa saat setelah hal itu, rumah Keluarga Bo ramai dengan orang berpakaian serba hitam. Orang-orang itu juga memakai topeng.


Tanpa berlama-lama, mereka bergerak dan menggeledah. Mereka mengeluarkan senjata untuk menakuti mereka semua. Namun beda dengan Ling. Ia tetap berdiri santai sambil memutar ponselnya.


Orang-orang itu bergerak dan menyebar. Namun Ling tak memberi mereka kesempatan. Ling lebih cepat daripada mereka. Ling berlari dan memutari mereka. Ia mengeluarkan pisau andalannya dan menjatuhkan mereka semua.


Kertasnya aman di saku dimensinya.


Setelah beberapa menit, semua orang berpakaian hitam terjatuh. Mereka tergeletak bersimbah darah. Di tangan mereka ada bom mini yang siap digunakan jika identitas mereka terbuka.


Ling menghampiri mereka satu persatu. Ia membuka salah satu topeng mereka. Saat melihat wajahnya, ia membuang muka karena merasa jijik.


"Bersihkan mayat mereka," ucap Ling santai seolah bukan dia yang membunuh semua orang ini.


Bo Minghao dan Chen Lin masih membeku di tempatnya. Mereka tidak pernah menyangka jika Ling akan sekejam ini. Bahkan mereka sulit melihat pergerakan Ling.


Sedangkan Liam, Yuan dan Su Wen Ai dengan patuh menyingkirkan semua mayat. Pembantaian itu terjadi dalam sekejap mata. Sudah lama mereka tidak melihat aksi Ling.


"Jika kalian kembali ke asrama, belajar dan berlatih dengan baik. Berikan surat ini pada Rektor Xiang," ucap Ling memberikan satu surat pada Liam.


"Jika kalian sudah cukup kuat, aku akan membawa kalian," ucap Ling yang tak dimengerti mereka.


Kemudian Ling menghampiri Chen Lin. Ia menatap ibunya dengan pandangan lembut. Ia ingin bertanya identitas asli Chen Ling. Ia tak mungkin menjadi darah keturunan paling murni tanpa alasan. Apalagi saat melihat reaksi Chen Lin yang tak begitu terkejut karena hal ini.


"Ibu, sampai kapan lagi akan terus menyembunyikan rahasia ini?" tanya Ling yang membuat Chen Lin tercengang.