
Ternyata apa yang diucapkan Nathan benar-benar menjadi kenyataan. Dengan langkah percaya diri dan tangan yang tak lepas merangkul pundak istrinya, Nathan sekarang berada di area pakaian dalam wanita. Lelaki itu tidak merasa malu sedikit pun, justru Nadira yang terlihat malu karena dirinya dan Nathan menjadi pusat perhatian. Bukan hanya dari beberapa karyawan, tapi beberapa pengunjung juga menatap ke arah mereka.
"Silakan, Tuan dan Nyonya. Anda akan mencari dalaman yang seperti apa?" tanya salah seorang karyawan di sana.
"Mbak, kenapa dalaman di sini warnanya hitam semua?" Nathan justru bertanya balik. Karyawan itu menutup tawanya dengan telapak tangan.
"Auu! Sakit, Sayang. Kamu ganas sekali." Nathan mengusap bekas cubitan Nadira di pinggangnya.
"Kak Nathan jangan bikin aku malu," bisik Nadira menggerutu.
"Aku bercanda, Sayang. Gitu aja ngambek. Uluuh uluuhh, istri siapa sih cantik banget," goda Nathan. Sebuah ciuman mendarat di pipi Nadira yang sudah merona merah. Orang-orang yang melihat pun merasa iri dengan keromantisan mereka.
"Kita pulang aja yuk, Kak. Nanti pesan online aja," ajak Nadira. Sumpah, saat ini dirinya merasa begitu malu karena baru kali ini mencari dalaman diantar oleh lelaki, meski lelaki itu adalah suaminya sendiri.
"Aku udah capek sampai sini, masa kita mau pesan online." Nathan melepas kacamata hitam yang barusan dia pakai. "Wah, ternyata warna warni beneran," selorohnya. Nadira pun kembali mendaratkan cubitan gemas di pinggang suaminya.
"Maaf ya, Mbak. Suami saya emang kadang suka bercanda," kata Nadira tak enak hati. Dia tersenyum canggung kepada karyawan yang sedari tadi tertawa melihat mereka.
"Tidak apa, Nyonya." Karyawan itu sedikit membungkuk hormat.
"Mbak, saya mau nyari bra ukuran segini, kira-kira 34b." Tangan Nathan memperagakan seperti sedang menggenggam sesuatu. "Pas di genggaman," imbuhnya.
Nadira langsung membenamkan wajahnya yang sudah merona merah ke dada bidang suaminya. Demi apa pun, dirinya benar-benar malu saat ini, sedangkan Nathan bersikap biasa saja seolah tak memiliki dosa.
"Kak Nathan jangan bikin aku malu gini, atau nanti aku pulang sendiri!" ancam Nadira.
"Baiklah, kalau begitu kita pesan lingerie saja. Warna hitam dan merah aja ya, jangan biru tosca." Nathan masih berbicara dengan sangat santai.
"Kak," rengek Nadira. Rasanya dia sudah tidak tahan menahan malu. Padahal tidak ada yang salah dengan sikap Nathan, justru dia begitu perhatian. Namun Nadira belum terbiasa dan masih merasa canggung dengan sikap dan ucapan suaminya yang terlalu intim di depan umum.
"Sayang." Nathan menangkup kedua pipi Nadira lalu menghadapkan ke arahnya. "Lingerie hitam itu terkesan elegan, sedangkan merah itu menggoda." Nathan berbisik tepat di telinga Nadira. Bahkan hangat napas Nathan menerpa belakang telinga Nadira hingga menciptakan gelayar aneh yang terasa di seluruh tubuh wanita muda itu.
"Nanti aja aku beli sama Bunda." Nadira tetap menolak. Sebenarnya, itu hanya alasan saja karena Nadira tidak berniat sedikit pun membeli lingerie. Tubuhnya merinding saat membayangkan dirinya memakai pakaian yang seperti telanjang itu.
"Baiklah, kalau begitu besok kamu harus beli dengan bunda. Ingat, Sayang. Sebentar lagi kita akan bulan madu." Nadira hanya mengangguk lalu menarik tangan suaminya menjauh dari tempat itu tanpa membeli apa pun. Dia sudah merasa begitu malu dengan para karyawan dan pengunjung yang sedari tadi memerhatikan mereka.
Setelah gagal membeli persiapan malam pertama, kini mereka sedang berada di sebuah kedai ice cream. Satu box ice cream rasa coklat vanila yang tinggal separo, tergeletak di depan Nadira. Sementara Nathan hanya duduk memerhatikan istrinya dengan sesekali menerima suapan ice cream itu dari sendok istrinya.
"Setelah ini kamu mau ke mana?" tanya Nathan. Dia menatap istrinya yang terlihat seperti anak kecil yang menggemaskan, apalagi melihat tampilan Nadira yang terlihat seperti anak remaja. Andai saja wanita muda itu tidak sedang kedatangan tamu, sudah pasti saat ini dia sudah berada di bawah kungkungan Nathan.
"Pulang," sahut Nadira. Dia mengusap noda ice cream di bibirnya.
"Kamu yakin akan pulang?" tanya Nathan lagi. Nadira mengangguk cepat. "Baiklah, habiskan ice cream mu dulu."
"Nanti aja, Kak. Aku mau ke toilet dulu." Nadira beranjak bangun dan Nathan mengikutinya, membuat kening Nadira mengerut. "Kak Nathan mau ke mana?"
"Ikut kamu ke toilet," sahut Nathan santai. Kedua mata Nadira terlihat melebar.
"Kak Nathan yang benar saja! Aku bukan anak kecil!" protes Nadira, tapi Nathan tetap bersikukuh mengantar istrinya. "Kak Nathan tunggu sini aja, atau tidak tidur bersamaku sampai empat hari ke depan?"
Mendengar ancaman istrinya, Nathan akhirnya mengalah dan memilih kembali duduk di kursi semula. Nadira tersenyum puas, karena dia sekarang tahu bagaimana mengancam Nathan agar menurut dengannya.
Setelah memastikan suaminya duduk dengan baik, Nadira segera melangkah ke toilet karena dirinya sudah tidak tahan untuk buang air kecil. Beruntung toilet itu sepi, bahkan tidak terlihat seorang pun di sana. Nadira segera masuk ke salah satu ruangan toilet dan menutup pintu itu rapat.
Hampir lima menit, Nadira keluar toilet dengan lega. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin untuk melihat apakah masih ada sisa ice cream di sekitar mulutnya. Nadira berbalik hendak pergi dari sana, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat dua orang berpakaian hitam bertubuh kekar berjalan mendekat.
Nadira memundurkan tubuhnya hingga sampai ke tembok. "Ka-kalian siapa?" tanya Nadira terbata. Tubuhnya sudah gemetar dengan keringat yang membasahi dahi.
"Maafkan kita, Nona Muda!" Salah seorang di antara mereka, membekap mulut Nadira dan sepersekian detik selanjutnya, Nadira tak sadarkan diri.
AWAS KAMU THOR!
Othor kasih yang tegang-tegang lagi nih, biar kalian rame ๐
Eh kapan malam pertama thor? Jangan bilang ditunda lagi. Doain aja Othor enggak khilaf ๐
Selamat beraktivitas gaes,
Semoga kalian semua selalu berada dalam lindungan Allah dan bumi kita tetap baik-baik saja.