Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
79


Melihat Cacha menyentuh bunga pengantin bersama Rendra dan Mike, membuat sang bunda tersenyum dengan sangat lebar. Binar bahagia terpancar jelas dari raut wajahnya yang sudah tidak lagi muda.


"Mas, kalau menurut kamu, Cacha lebih cocok sama Rendra apa Mike?" tanya Mila tanpa mengalihkan pandangannya. Johan pun ikut menatap mereka bertiga.


"Bagiku, yang terpenting lelaki itu bisa menjaga dan menyayangi Cacha dengan baik," ucap Johan tenang.


"Aku pun kalau harus memilih juga bingung. Rendra tampan, tapi Mike lebih perkasa." Johan menoleh dan menatap Mila dengan tajam.


"Kamu menyebalkan!" Johan menyentil kening Mila hingga wanita itu mengaduh kesakitan.


"Mas, aku ini bicara jujur," kata Mila. Bibir wanita itu mengerucut seperti anak kecil sampai membuat Johan menjadi begitu gemas. Tanpa banyak bicara, dia langsung mendaratkan ciuman di pipi Mila hingga wanita itu tersenyum lebar.


Aku mencintaimu. Batin Johan


"Aku juga mencintaimu, Mas." Mila tersenyum lebar, lalu menaik turunkan alisnya menggoda Johan.


"Siapa yang bilang cinta padamu?" tanya Johan, berusaha terlihat setenang mungkin.


"Aku tahu kamu mengucapkannya dalam hati," tebak Mila. Johan pun hanya bisa terdiam karena tebakan itu benar.


Sementara itu, keadaan di tempat Cacha masih begitu canggung. Setelah terpaku cukup lama, Mike akhirnya menurunkan tangannya begitu juga dengan Rendra.


"Maafkan saya sudah lancang, Nona Muda." Mike bicara dengan sopan dan tangan tertangkup di dada.


"Tidak, Mike. Apa kamu mau menyimpan bunga ini. Siapa tahu kamu segera mendapat tambatan hati," tawar Cacha, tapi Mike langsung menggeleng cepat.


"Tidak, terima kasih, Nona. Lebih baik untuk Anda saja. Kalau begitu saya permisi." Mike berjalan pergi meninggalkan tempatnya dan Cacha hanya menatap kepergian lelaki itu.


"Ehem!" Cacha tersadar saat mendengar dehaman Rendra yang masih berdiri di sampingnya. "Apa kamu juga tidak menawariku bunga ini?" sindir Rendra.


"Enak saja!" sahut Cacha ketus. Rendra dengan gemas menarik tangan Cacha, mengajaknya pergi ke tempat yang lebih sepi.


"Cha, kamu yakin tidak mau menolongku dari perjodohan itu?" tanya Rendra dengan memohon.


Cacha menghela napas panjang. "Mas, aku tidak mau menjadi pacar pura-pura," tolak Cacha.


"Mas, aku tidak mau menjalin hubungan dengan seseorang yang masih menyimpan nama wanita lain di hatinya."


Deg!


Jantung Rendra berdegup kencang. Mungkinkah Cacha sudah tahu kalau dia mencintai Nadira?


"Cha, aku sedang berusaha ikhlas dan belajar menghapus perasaan untuk seseorang yang tidak mungkin aku miliki," kata Rendra lirih.


"Berusahalah dan semoga berhasil, Mas." Cacha hendak pergi dari sana, tapi Rendra menahan lengannya.


"Cha ...." Rendra terlihat begitu memohon.


"Baiklah, setelah semua selesai, aku akan membantumu." Senyum di bibir Rendra mengembang setelah mendengar ucapan Cacha yang bersedia membantunya. Sampai tanpa sadar, Rendra memeluk Cacha dengan sangat erat.


"Terima kasih, Cha." Rendra mengeratkan pelukannya, sedangkan Cacha hanya terdiam karena dia sedang berusaha keras menetralkan debaran jantungnya.


"Bisakah kamu melepaskan pelukanmu?" pinta Cacha. Rendra yang baru tersadar, langsung melepaskan pelukan itu begitu saja.


"Maafkan aku, Cha." Rendra merasa tidak enak hati.


"Tak apa, Mas. Aku balik ke tempat ayah bunda dulu, sepertinya Kak Rayhan dan Kak Queen sudah datang." Cacha berpamitan pergi dari sana. Rendra pun hanya mengiyakan saja.


Setelah kepergian Cacha, Rendra berniat untuk pulang, tapi dia terdiam saat melihat Mike dan Mario terlihat sedang begitu serius. Rendra pun segera berjalan mendekati mereka.


"Apa kalian berdua saling kenal?" tanya Rendra. Kedua lelaki bertubuh kekar itu pun saling melepas pandangan.


"Tidak, Tuan. Apa Anda akan pulang sekarang?" tanya Mario sopan, sedangkan Mike hanya membisu.


"Ya. Acara sudah selesai. Lebih baik kita pulang saja." Rendra pun segera menuju ke mobil diikuti Mario yang mengekor di belakangnya. Sebelum pergi dari sana, Mario sudah menatap benci ke arah Mike.


Andai kamu tahu semuanya, Mar. Mungkin kamu tidak akan salah paham padaku dan mungkin semua akan tahu apa alasanku tidak mau mengenal cinta. Mike menatap punggung Rendra dan Mario yang perlahan menjauh.