
Nadira baru saja sampai di kamar hotel yang telah dipesan atas nama Nathan. Dia terkejut saat pintu terbuka, ruangan kamar itu terlihat begitu romantis khas pengantin baru. Wangi semerbak bunga mawar, menguar dan menyeruak masuk ke indera penciumannya.
Nadira segera masuk dan duduk di atas ranjang yang berhiaskan bunga mawar membentuk gambar hati. Nadira semakin merasa gugup saat bayangan malam pertama melintas dalam benaknya. Antara gugup dan takut menyatu dalam hatinya.
Nadira segera mengambil ponsel di tas dan mematikan mode pesawat. Setelah menunggu beberapa saat, ponselnya bergetar dan banyak sekali pesan masuk dari suaminya. Dengan cepat, Nadira menekan tanda panggil, tapi nomor suaminya tidak bisa dihubungi sama sekali. Dia pun segera membuka rentetan pesan barusan.
Sayang, aku sedang di pesawat untuk menyusulmu ke Lombok. Kamu tidak ketakutan karena diculik 'kan? Tunggu aku sebentar lagi. Aku sudah tidak sabar ingin segera memeluk, mencium, mengungkung, mencumbu dan ahh, sudahlah. Nanti saja kita praktekan. Suamimu lagi on the way, wait me and i love you, Beb.
Bibir Nadira tersenyum lebar membaca pesan itu. Suaminya memang benar-benar seperti kaleng rombeng seperti yang sering kakaknya sebut kepada lelaki itu. Nadira semakin merasa begitu gugup. Dia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Hampir setengah jam berendam dengan air hangat untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa begitu kaku, Nadira segera beranjak bangun dan keluar kamar dengan jubah mandi terpasang di tubuhnya.
Dia menatap koper yang tergeletak di samping ranjang. Kata Zack, koper itu berisi baju ganti yang sudah disiapkan oleh ibu mertuanya. Nadira segera membuka koper itu, tapi alangkah terkejutnya saat dia hanya melihat lingerie berbagai warna berada di sana. Nadira mengambil satu buah lingerie berwarna hitam dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Astaga! Ini yang benar saja!" seru Nadira, tubuhnya bergidik saat membayangkan memakai pakaian telanjang itu.
Nadir kembali menaruh lingerie itu di atas kasur, lalu mencari pakaian lain yang lebih layak. Namun, Nadira sama sekali tidak melihat pakaian yang lebih 'layak' untuknya. Hanya ada celana dan kaos yang dia tahu milik suaminya.
"Bunda keterlaluan sekali!" omel Nadira. Lingerie berbagai warna sudah berserakan di lantai. Pandangan Nadira tiba-tiba terfokus pada secarik kertas yang berada di dasar koper. Dengan cepat dia mengambil kertas itu dan membaca tulisan Mila yang begitu rapi.
Salam sayang dari Bunda Cantik dan Ayah Tampan.
Setelah selesai membaca tulisan itu, Nadira beralih menatap lingerie berbagai warna yang berserakan. Ada warna merah, jingga, hijau dan lainnya seperti pelangi. Persis seperti apa yang tertulis di surat itu. Dia menggeleng tak percaya dengan ibu mertuanya yang memang benar-benar ajaib. Dia pun terbayang Nathan yang sangat mirip dengan Mila.
"Mungkinkah ini yang dirasakan Ayah Jo? Walau mereka seperti itu, tapi hati ini tetap memilihnya," gumam Nadira.
Lingerie pelangi itu, Nadira kumpulkan menjadi satu tanpa melipat rapi lalu dia masukkan kembali ke koper. Kemudian, dia mengambil kaos milik Nathan untuk dipakai.
"Pakai ini sajalah." Nadira membuka jubah mandi, hingga tubuhnya telanjang bulat. Dia tetap percaya diri karena hanya dirinya seorang di kamar itu. Dengan santai Nadira memakai kaos itu. Namun, belum juga kaos milik Nathan terpakai dengan baik, suara seseorang dari arah pintu berhasil mengagetkan Nadira. Bahkan, tubuh Nadira menegang seketika. Jantungnya pun terasa berhenti berdetak. Untuk sekedar berbalik pun, Nadira tidak memiliki sedikit pun keberanian.
Dag dig dug nihhh
Siapa yang masuk yaa
Lanjut enggak nih? Kalau lanjut, jangan lupa dukungannya loh