Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
88


Rendra menatap memelas ke arah Bastian dan Nirmala secara bergantian, sedangkan Cacha hanya diam kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab atau merespon yang bagaimana lagi. Kalau orang tua Rendra benar-benar datang menemui Johan dan Mila, yang ada dirinya akan diasingkan karena sudah bersandiwara.


"Yah, aku tidak mau secepat itu," tolak Rendra sedikit merengek.


"Ren, sebuah hubungan yang memang dijalani dengan hati, tidak perlu waktu lama untuk bersatu dalam ikatan suci. Sebuah niat baik, sebaiknya jangan ditunda-tunda." Bastian memberi nasihat. Rendra menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan cepat. Dia merasa tersindir dengan ucapan sang ayah.


"Beri Rendra waktu, Yah. Iya 'kan, Sayang?" Rendra menoleh ke arah Cacha dan memberi kode dengan kedipan mata.


"I-iya, Om. Aku perlu memantapkan hati dulu, lagi pula aku sebentar lagi akan sibuk mengurus JS Group karena Kak Nathan akan kembali mengelola Saputra Group di Jakarta," ucap Cacha sopan.


"Ah iya, soal perusahaan Ayah jadi inget kalau dua hari lagi ada sekretaris baru yang akan menggantikan Nona Muda Alexander." Rendra terkejut mendengar ucapan ayahnya.


"Maksud Ayah?" tanyanya tak paham.


"Jadi gini, Tuan Johan dan putranya, Jonathan. Meminta izin dan maaf karena mulai hari ini Nona Muda tidak lagi bekerja di Alfa Group. Karena Nona Muda akan tinggal bersama suaminya di Jakarta," jelas Bastian. Rendra langsung bangkit berdiri begitu saja.


"Yah! Enggak bisa seenaknya gitu. Kenapa Ayah mengiyakan begitu saja?" Suara Rendra terdengar meninggi. Jelas sekali lelaki itu sedang marah saat ini.


Cacha melirik Rendra dengan perasaan yang susah dijelaskan. Tanpa kamu bilang pun aku tahu siapa yang menempati hatimu saat ini, Mas. Batin Cacha.


"Ingat, Ren! Kamu sedang berbicara dengan siapa!" Nirmala pun mulai meninggikan suaranya. Rendra kembali duduk dengan wajah tertunduk lesu.


"Maafin Rendra, Bu, Yah." Suara Rendra terdengar penuh sesal.


"Sudahlah. Kamu tenang saja, sekretaris baru kamu tidak kalah dengan Nona Muda Alexander, dia juga sangat berkompeten," Bastian bicara dengan sangat yakin.


"Yah, tapi aku tidak mengenalnya," sahut Rendra lirih.


"Kamu mengenalnya, tapi Ayah yakin kalau kamu sudah lupa karena dia sudah menjelma menjadi wanita yang sangat cantik." Bastian tersenyum lebar.


"Memang siapa dia, Yah?" tanya Rendra penasaran.


"Pokoknya ada lah." Senyum di bibir lelaki paruh baya itu tidak sedikit pun memudar sehingga membuat Rendra curiga.


"lebih baik gini saja, Ayah beri waktu kalian satu bulan terhitung mulai hari ini. Ini tanggal berapa, Bu?" tanya Bastian, dia menoleh ke arah Nirmala dengan penuh cinta.


"Duapuluh lima," sahut Nirmala lembut.


"Bagaimana kalau sekarang kita makan dulu, kasihan Nak Cacha pasti sangat lelah dan lapar." Nirmala bangkit berdiri dan duduk di samping Cacha. Wanita paruh baya itu mengusap punggung Cacha dengan sangat lembut.


"Kamu ke sini dengan siapa?" tanya Rendra berusaha mencairkan suasana.


"Mike, tapi di menunggu di mobil," sahut Cacha cepat.


"Mar, temuilah Mike dan katakan padanya kalau dia tidak perlu lagi menunggu Cacha karena aku yang akan mengantarkannya," titah Rendra.


Mario tidak menjawab, dia hanya menghembuskan napas kasar lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Sesampainya di teras, dia melihat Mike yang sedang duduk balik setir kemudi dengan pintu mobil yang terbuka. Dengan langkah enggan, Mario segera mendekati mobil itu.


"Pulanglah, karena Nona Cacha akan pulang diantar Tuan Rendra," kata Mario dengan ketus tanpa basa-basi.


Kedua kelopak mata Mike yang terpejam, langsung terbuka begitu saja. Awalnya Mike hanya diam saja dan menatap Mario dari atas ke bawah. Dia pun segera turun dari mobil dan berdiri di samping Mario.


"Aku tetap akan menjaga Nona Muda dan menunggunya," balas Mike dengan sedikit ketus.


"Apa kamu tidak bisa mendengar dengan baik? Tuan Rendra yang akan mengantarnya!" Mario mulai sedikit membentak.


"Aku tidak peduli! Karena bagiku Nona Muda adalah segalanya dan aku akan menjaganya dengan segenap jiwa raga dan tidak akan membiarkan siapa pun melukainya!" tandas Mike.


Mario tersenyum miring. "Kamu mencintai Nona Muda mu itu?" tanyanya menyelidik. Namun, Mike justru membisu. "Aku tidak menyangka kalau kamu masih suka sekali mencintai bahkan merebut milik orang lain!" ucap Mario dengan sinis.


Wajah Mike berubah lesu begitu saja. "Mar, aku tidak merebut siapa pun!" sanggah Mike.


"Jangan berpura-pura lupa! Aku tidak sebodoh yang kamu kira, Mike Anderson!" pekik Mario. Mike terdiam mendengar Mario memanggil nama lengkapnya.


"Mar, kamu sudah salah paham. Aku tidak pernah merebut Devi darimu." Suara Mike semakin terdengar lirih. Senyum sinis semakin terlihat di sudut bibir Mario, bahkan tangannya semakin mengepal erat hingga buku-buku kukunya terlihat memutih.


"Lebih baik pulanglah, sebelum aku mengusirmu dengan paksa! Karena Tuan Rendra akan menjaga Nona Cacha dengan baik!" Wajah Mario terlihat begitu dingin.


"Aku tidak akan pernah pergi dari—"


"Atau aku akan mengatakan pada Tuan Johan kalau majikan kita bersandiwara dan Nona Muda akan menyalahkanmu dan mengira kamu yang mengadu!" ancam Mario memotong ucapan Mike begitu saja. Mike langsung terdiam begitu saja. Netranya menatap lekat punggung Mario yang perlahan menjauh darinya.


Kapan kamu akan mendengar penjelasanku, Mar. Andai kamu tahu kalau Devi sudah bahagia di Surga dan kenapa aku membawanya pergi darimu. Mungkinkah kamu tetap akan semarah ini?