Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
126


"Bun, seandainya Rendra benar-benar datang ke sini untuk ngelamar aku, apa itu tidak akan melukai hati Mike?" tanya Cacha.


"Cha, semua keputusan ada di tangan kamu. mantapkan hatimu. Rendra orang baik, dan Mike adalah pria yang bertanggung jawab dan selalu sedia menjagamu." Mila meletakkan piring yang telah kosong ke atas nakas.


Kemudian, dia mengusap puncak kepala putrinya dengan sangat lembut. "Kelak, ketika kamu sudah menikah, yang akan menjalani memang kamu dan suami kamu, tapi ayah dan bunda hanya ingin kamu mendapat suami yang bertanggung jawab tanpa peduli status sosial maupun usianya."


"Bun, Cacha belum bisa memilih. Hati Cacha masih ragu."


Tiba-tiba, ponsel Cacha terdengar berdering memenuhi ruangan kamar itu. Dengan segera, Cacha mengambil ponsel tersebut. Dalam hati dia menggerutu, siapakah yang sudah mengeraskan nada dering ponselnya. Karena seingat dirinya, suara deringnya tidak sekeras ini.


"Hallo, Mas." Cacha menaruh ponselnya di telinga.


"Siapa?" tanya Mila dengan berbisik. Bahkan wanita itu sudah menempel putrinya untuk menguping.


"Kamu sedang apa, Cha?" Suara Rendra terdengar begitu lembut.


"Aku baru selesai makan, Mas."


"Udah semalam ini kamu baru makan?"


"Habisnya aku lapar, Mas," balas Cacha dengan manja. Mila memutar bola matanya malas.


"Jaga kesehatan jangan sampai telat makan, Cha."


"I-iya, Mas." Cacha begitu gugup saat Rendra begitu perhatian dengannya.


"Cie ... ciee. Perhatian nih ye," seloroh Mila.


"Apaan sih, Bun! Jangan bikin malu." Cacha menepuk paha sang bunda dengan gemas.


"Auuw!! Sakit, Cha!" cebik Mila kesal.


"Kamu tidak sendirian, Cha?" tanya Rendra mengalihkan perhatian mereka.


"Tidak, Mas. Aku lagi sama bunda. Oh iya Mas, ada apa kamu telepon malem-malem?"


"Kangen," celetuk Mila. Cacha menghembuskan napas kasar, sedangkan Rendra hanya terkekeh.


"Bunda jangan ganggu, deh!" cebik Cacha.


"Cha, ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu." Suara Rendra terdengar gugup.


"Apa aku harus mengusir bundaku dulu, Mas. Takutnya nanti ganggu."


"Jahat banget kamu sama bunda, Cha!" potong Mila sewot.


"Habisnya Bunda tuh—"


"Tidak perlu, Cha. Justru hal ini kedua orang tuamu harus tahu, Cha." Suara Rendra terdengar begitu serius.


"Memangnya hal apa sih, Mas? Jangan bikin penasaran deh." Jantung Cacha bekerja dua kali lipat dari biasanya, dia takut Rendra akan berbicara yang tidak-tidak.


"Iya, bunda juga penasaran," ucap Mila begitu saja.


"Apa sih, Bun! Emak nimbrung aja perasaan." Cacha benar-benar sewot.


Rendra yang berada di seberang sana, kembali terkekeh geli. "Jadi gini, Cha. Lusa, aku dan orang tuaku akan berkunjung ke rumahmu untuk melamarmu."


"Apa!"


"Anjing kawin!" latah Mila karena terkejut dengan lengkingan suara Cacha. Wanita paruh baya itu langsung menutup mulutnya. "Kenapa latahku gaya favorit si Othong," gerutu Mila.


"Bunda!" kesal Cacha. Mila hanya tersenyum seolah tak berdosa.


"Cha," panggil Rendra. Cacha menepuk keningnya karena teringat kalau panggilan itu belum terputus.


"Maaf, Mas. Barusan gangguan. Jadi, kamu akan melamarku?" tanya Cacha memastikan pendengarannya tidaklah salah.


"Ya, mungkin sore aku sudah sampai sana."


Cacha menaruh kembali ponselnya, entah mengapa perasaannya mendadak tidak nyaman mendengar Rendra akan datang melamar, padahal hatinya belum begitu yakin.


Mila pun menelisik wajah putrinya, dia yakin kalau Cacha sebenarnya masih ragu, tapi tidak berani untuk menolak.


"Bun, lusa Rendra akan datang melamar Cacha."


"Siapa yang akan datang?" Suara dari arah pintu kamar berhasil mengejutkan Cacha dan Mila.


"A-ayah." Cacha terlihat begitu gugup.


Johan berjalan mendekati tempat tidur dengan memasang wajah datar, sedangkan Cacha semakin terlihat gugup karena dia takut sang ayah tidak akan merestuinya.


"Kenapa kamu tidak menjawab, Cha? Siapa yang akan datang melamar putri ayah ini?" tanya Johan dengan sedikit lebih lembut.


"Rendra, Yah." Kepala Cacha menunduk dalam, tidak berani menatap sang ayah.


"Baiklah, ayah tunggu. Mil, ayo kita ke kamar. Aku sudah sangat lelah, besok kita harus bersiap-siap menyambut calon menantu kita." Johan bicara dengan sangat tenang.


Mila pun segera bangun dan berdiri di samping suaminya. " Selamat tidur, Sayang." Johan mengecup puncak kepala Cacha sebelum pergi dari kamar itu, Mila pun melakukan hal yang sama.


Cacha menatap pintu kamar yang baru tertutup dengan perasaan yang susah dijelaskan. Melihat sang ayah yang begitu tenang justru membuat hati Cacha menjadi gelisah. Namun, dia hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja.


Sesampainya di kamar, Johan langsung berjalan menuju ke balkon. Dia merogoh saku celana dan mengambil ponsel yang berada di sana. Mila hanya bisa diam melihat gerak-gerik suaminya.


"Hallo, Mike." Johan menghela napas berat setelah mendengar suara Mike yang menyahutnya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Mike tanpa curiga.


"Mike, maafkan aku sudah sangat menyakitimu." Suara Johan terdengar begitu lirih.


"Maksud, Tuan?" tanya Mike bingung.


"Aku menyuruh Rendra untuk datang melamar Cacha. Aku kira dia tidak akan datang, ternyata lusa dia akan datang bersama orang tuanya untuk melamar Cacha."


Hening. Panggilan itu mendadak hening karena Mike tidak menjawab sama sekali.


"Mike?" Johan sedikit menjauhkan ponselnya, untuk melihat apakah panggilan itu masih terhubung atau tidak.


"Maafkan saya, Tuan. Barusan saya sedang minum." Mike bicara dengan gugup, dan Johan tahu kalau lelaki itu sedang berbohong.


"Tidak apa, Mike."


"Tuan, saya bahagia kalau Nona Cacha akan menikah dengan Tuan Rendra. Bagi saya, yang terpenting adalah Nona Cacha bisa hidup bahagia."


"Aku akan tenang kalau Cacha menikah denganmu, Mike," ucap Johan berat.


"Tuan, setiap jodoh sudah ada garisnya masing-masing. Seberapa besar pun rasa cinta saya untuk nona muda, kalau belum jodoh kita tidak akan pernah bisa bersatu. Yang terpenting, saya masih bisa menjaga nona muda meski dari jauh."


"Terima kasih banyak, Mike. Semoga kamu lekas mendapat jodoh yang terbaik."


Mike hanya mengamini. Setelah itu, Johan memutus panggilan karena dirinya sudah sangat lelah dan ingin segera istirahat. Mila tersenyum lebar saat melihat suaminya berjalan mendekat ke arahnya.


"Bagaimana, Mas?" tanya Mila tak sabar.


"Mike menerima dengan lapang dada. Aku lebih setuju kalau Cacha dengan Mike, tapi sepertinya Tuhan menggariskan Cacha menikah dengan Rendra." Johan terdengar begitu pasrah. Dia merebahkan tubuhnya, telentang di atas tempat tidur.


"Sudahlah, Mas. Kita ikuti saja alurnya. Aku yakin kalau Cacha akan mendapat jodoh terbaik. Entah itu Mike ataupun Rendra." Mila ikut merebahkan tubuhnya di samping Johan.


Johan menghirup napas dalam. "Ya, semoga Cacha mendapatkan lelaki yang tepat." Johan mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya.


"Jangan mancing, Mas!" cebik Mila dengan bibir mengerucut. "Sensorku itu sensitif, Mas."


"Sensor yang mana?" tanya Johan pura-pura.


"Yang ini!" Mila mengarahkan tangan Johan ke pusat tubuhnya.


"Astaga, Mila! Kamu seperti siapa? Mesummu sungguh tidak main-main!"