Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
61


Bibir Nadira tersenyum semringah saat mendengar panggilan Nathan. Dia berharap suaminya itu sudah kembali mengingatnya. Dia segera berjalan cepat mendekati brankar.


"Kak Nathan sudah mengingatku?" tanya Nadira tak sabar. Nathan menggeleng lemah, membuat senyum di bibir Nadira memudar seketika.


"Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu dan aku ingin kita hanya bicara empat mata," ucap Nathan. Dia menatap satu persatu mereka yang berada di ruangan itu.


Johan pun segera mengajak mereka semua untuk keluar dan memberi ruang untuk Nathan dan Nadira saling bicara. Setelah pintu ruangan tertutup, Nathan segera menyuruh Nadira untuk duduk di sampingnya.


Nadira hanya menurut, duduk di samping Nathan dan masih membungkam mulutnya. Bahkan Nadira hanya menunduk, menahan batinnya yang terasa begitu bergejolak.


"Bisakah kamu membantuku untuk mengingatmu?" tanya Nathan dengan memohon. Nadira sedikit mendongak lalu menoleh ke arah Nathan yang sedang menatapnya.


"Kak, jangan paksa untuk mengingat kalau kamu tidak ingin mengingatnya." Nadira bicara dengan sangat lirih.


"Aku ingin kamu menceritakan tentang masa lalu kita. Kenapa aku bisa hanya melupakanmu saja. Apa aku pernah menyakitimu atau kamu yang menyakitiku?" tanya Nathan panjang lebar.


Nadira menghela napas panjangnya. "Aku yang sudah menyakitimu, Kak. Bahkan sangat menyakitimu." Mata Nadira mulai kembali terlihat berkaca-kaca.


"Tapi kenapa Bunda bilang kita ini suami istri? Bagaimana kita bisa menikah?" cecar Nathan. Nadira kembali menghela napas panjangnya.


"Demi memenuhi keinginan terakhir daddy dan mommy." Nadira mengusap airmata yang mulai mengalir. "Tapi sekarang daddy dan mommy sudah pergi dan takkan mungkin kembali. Sepertinya hubungan kita harus berakhir sampai di sini."


"Kenapa begitu?" Nathan mencoba bangun, tapi Nadira segera menahannya.


"Tiduran saja, Kak. Tubuhmu masih lemah." Nadira sedikit mengernyit saat luka jahitnya sedikit nyeri karena gerakan tiba-tiba.


"Kenapa kamu terlihat begitu kesakitan?" tanya Nathan heran.


"Tidak apa. Aku terlalu lama tidur di mobil jadi punggungku rasanya sangat pegal," sahut Nadira beralasan, Nathan hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


"Kak, maukah Kak Nathan menceraikanku?" tanya Nadira ragu.


"Kenapa begitu? Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Nathan lagi. Raut wajahnya tetap terlihat tenang.


"Aku sangat mencintai Kak Nathan, tapi sepertinya Kak Nathan sudah mencintai orang lain. Aku tidak mau menjalin hubungan yang kita berdua sama-sama saling menyakiti, Kak." Nadira kembali menyeka airmatanya.


"Nona ...." Nadira meremas dadanya saat merasakan sakit karena Nathan kembali memanggilnya Nona. Mungkinkah Nathan benar-benar tidak mengingat dirinya sama sekali?


"Kak, sepertinya semua sudah cukup jelas. Aku akan pergi dari kehidupan kamu dan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Berjanjilah untuk hidup dengan baik, Kak." Nadira bangkit berdiri. Dia sudah tidak kuasa berada dalam satu ruangan bersama Nathan. Hatinya begitu terluka dan tersiksa.


"Jangan pergi," kata Nathan dengan lirih. Nadira tidak berbalik, dia hanya berusaha menutup mulutnya saat tak bisa lagi menahan tangisnya.


"Jangan menahanku, Kak. Semuanya sudah cukup." Suara Nadira terdengar serak khas orang menangis.


"Aku mohon jangan pergi, Nad. Temani aku di sini." Tubuh Nadira menegang mendengar Nathan memanggil namanya. Dia segera berbalik dan menatap Nathan yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Kak Nathan ingat aku?" tanya Nadira belum percaya.


Nathan mengangguk lemah. "Jangan pergi, temani aku di sini, Elvina Nadira Alexander." Nadira langsung memeluk tubuh Nathan dengan deraian airmata. Dirinya masih belum sepenuhnya percaya. Nathan merintih saat Nadira tanpa sengaja menindih lengannya yang terluka.


"Maafkan aku, Kak." Nadira hendak bangkit berdiri, tapi Nathan langsung menahannya.


"Jangan bangun. Biar seperti ini dulu." Satu tangan Nathan memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Isakan Nadira semakin terdengar mengeras.


"Aku pikir Kak Nathan tidak akan ingat denganku lagi," ucap Nadira di sela isak tangisnya.


"Mana mungkin aku melupakanmu. Menatap matamu saja aku sudah bisa mengingatmu dengan jelas," sahut Nathan. Dia mencium puncak kepala Nadira dengan sangat lembut.


"Jadi Kak Nathan berbohong?" tanya Nadira menuntut jawaban. Nathan tidak menjawab, dia masih saja menciumi Nadira dengan penuh kasih sayang. "Kalau Kak Nathan diam, itu berarti Kak Nathan memang bohong. Aku benci, Kak Nathan!" Nadira yang kesal langsung menepuk dada Nathan hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.


"Sakit, Nad!" kata Nathan berusaha menghentikan pukulan Nadira. Saat Nathan berhasil menangkap tangan Nadira, gadis itu segera mendongak dan mereka saling bertatapan. "Aku juga benci kamu, Nad. Benar-benar cinta padamu, Sayang."


Wajah Nadira yang masih penuh jejak airmata, terlihat bersemu merah mendengar Nathan memanggilnya sayang. Nathan yang begitu gemas, langsung memajukan wajahnya hendak mencium bibir ranum milik istrinya. Nadira pun memejamkan mata menunggu Nathan menciumnya. Namun, belum sempat bibir mereka saling bersentuhan, suara dari pintu sudah berhasil mengagetkan mereka berdua.


"Astaga!"


_____________________________________


Othor mah kebiasaan! Pasti ada pengganggu πŸ˜…


Gimana gaes? Seneng enggak si Nathan Nadira baikan?


Apa mau dibikin tegang lagi? Biasanya pada suka yang tegang-tegang πŸ˜‚πŸ˜‚


Selamat pagi dan semoga hari kalian menyenangkan.Jangan lupa dukungannya selalu ditunggu nihh.