
"Satu suapan lagi." Nathan menyodorkan sesendok nasi di dekat bibir Nadira, tapi wanita muda itu langsung menggeleng cepat.
"Aku sudah kenyang, Kak." Nadira menelan makanan yang barusan dikunyah, lalu meninum air putih untuk membasahi kerongkongannya dan melancarkan makanan itu masuk ke lambungnya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, Nathan pun segera membukanya. Setelah pintu itu terbuka lebar, Jasmin masuk dengan membawa kantong kresek, lalu menyerahkan kepada Nathan.
"Makasih, Jas." Nathan meraihnya dan mengeluarkan sebuah salep dari dalam sana.
"Sama-sama, Kak. Kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu. Mari, Nona." Jasmin sedikit membungkuk hormat, Nadira menarik kedua sudut bibirnya menampilkan senyum manisnya.
Pandangan Nadira tak lepas dari Jasmin yang berjalan menuju ke pintu. "Kamu lebih cantik dari dia, Sayang," kata Nathan, mengejutkan Nadira yang baru menyadari Jasmin sudah menghilang di balik pintu.
"Ku kira kalian berada satu ruangan," ucap Nadira.
"Tidak, Jasmin di ruangan sebelah. Memangnya kamu yang berada satu ruangan dengan lelaki itu." Dengan tenang Nathan membuka tutup salep, lalu mengoleskan salep berbentuk gel itu ke kening Nadira yang bengkak.
"Aku juga enggak tahu kenapa Mas Rendra menyuruhku satu ruangan dengannya," kata Nadira begitu saja. Dia tidak menyadari kalau ada hati yang memanas.
"Karena dia mencintaimu." Suara Nathan terdengar datar.
"Mana mungkin! Kak Nathan tuh suka banget mengambil kesimpulan dari pemikiran Kakak sendiri," timpal Nadira. Hembusan napas kasar terdengar dari lelaki itu.
"Kalau kamu enggak percaya ya udah." Nathan meniup luka memar itu, memberikan sensasi dingin saat hembusan napas Nathan menerpa nya.
"Kak, kerjasama Kak Nathan dengan Mas Rendra gimana?" tanya Nadira.
"Biar diurus Cacha, karena sekarang Cacha yang mengelola JS Group. Nad, bisakah kamu tidak memanggilku Kak Nathan lagi?" pinta Nathan. Alis Nadira terlihat saling bertautan.
"Terus aku harus manggil apa?" tanyanya.
"Panggilan yang lebih romantis dong. Kamu memanggil Rendra dengan sebutan 'mas'. Mesra sekali," sindir Nathan.
"Kan aku menghormati dia sebagai atasanku, Kak. Dia tidak mau dipanggil bapak apalagi tuan."
"Kalau begitu hormati aku sebagai suamimu. Aku enggak mau dipanggil dengan embel-embel kak, aku ini bukan kakakmu." Nathan merangkul pundak Nadira, lalu sedikit mendorong kepala Nadira dengan perlahan supaya bersandar di dadanya.
"Emang Kak Nathan mau dipanggil apa?" Bibir Nadira tersenyum saat Nathan menggenggam erat tangannya dan mencium puncak kepalanya. Seolah sudah menjadi candu untuk lelaki itu.
"Sayangku, cintaku, hubby, pangeranku atau apa pun," celetuk Nathan. Dengan gemas, Nadira memukulkan genggaman tangan mereka ke paha suaminya.
"Alay sekali! Kita bukan anak SD, Kak! Aku panggil Abang aja ya."
"Kalau begitu akang aja," kata Nadira lagi.
"Akang asep nanti jadinya. Panggil aku Mas aja deh, lebih mendunia."
"Apaan! Kak Nathan enggak jelas banget!" Bibir Nadira cemberut.
"Jangan menggodaku, Sayang." Nathan mendaratkan ciuman di pipi istrinya.
"Siapa yang menggoda? Kak, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Nadira ragu. Nathan tidak menyahut dan hanya mengangguk mengiyakan. "Apa Kak Nathan pernah melakukan itu?"
Nathan melongo mendengar pertanyaan istrinya. Sebuah pertanyaan yang tidak terduga. "Tentu saja belum pernah." Nathan menjawab cepat. "Bahkan kamu yang mengambil ciuman pertamaku dan hanya bibirmu yang selalu beradu dengan bibirku."
"Astaga! Kenapa bahasa Kak Nathan begitu?" Nadira mendengus kasar.
"Panggil aku Mas, jangan kakak terus," protes Nathan.
"Aku belum terbiasa, Kak." Nadira memejamkan mata, merasakan betapa nyamannya posisi mereka saat ini.
"Makanya dibiasakan dari sekarang. Emang kenapa kamu nanya gituan? Kamu udah enggak sabar buat malam pertama?" tanya Nathan menggoda. Nadira menggeleng dengan cepat.
"Justru aku takut, Kak," sahut Nadira lirih.
"Kenapa mesti takut? Kalau kamu sudah merasakannya, aku yakin kamu bakal ketagihan dan meminta lebih," ucap Nathan. Nadira mendongak tepat ketika Nathan hendak mendaratkan ciuman, hingga akhirnya ciuman itu mendarat di kedua matanya.
"Salah sasaran," seloroh Nathan, kembali mendaratkan ciuman di wajah istrinya.
"Kak, aku mau jujur kalau aku sebenarnya takut buat malam pertama. Dari yang aku dengar, katanya saat malam pertama itu rasanya sangat sakit. Bahkan kita tidak bisa berjalan sesudahnya." Nathan tergelak mendengar perkataan Nadira.
"Udah enggak usah dibahas, bikin aku pengen aja. Kita buktikan aja besok kalau tamu bulanan kamu udah pergi." Nathan menyudahi pembicaraan yang bisa saja membuat adik kecilnya terbangun karena membahas hal-hal yang menjurus.
Nathan melepaskan tubuhnya, lalu bangkit berdiri. Nadira hanya menatap suaminya dengan heran. Nathan mengulurkan tangannya, meminta Nadira menggandengnya.
"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Nadira. Dia bangkit dan berdiri di samping suaminya.
"Ke Mall, beli perlengkapan buat malam pertama kita," sahut Nathan santai, sedangkan wajah Nadira sudah merona merah.
"Emang apa yang mau dibeli?" tanya Nadira berusaha memberanikan diri.
"Lingerie warna warni." Nadira menoleh dan menatap kesal ke arah suaminya yang sedang tertawa keras.