
Johan dan Mila yang baru masuk ke ruangan, menatap Nathan dan Mike bergantian. Wajah Nathan terlihat begitu kesal, sedangkan Mike duduk dengan tenang di sofa sambil membaca majalah yang tersedia di sana. Melihat kedatangan majikannya, Mike segera bangkit berdiri dan sedikit membungkuk hormat.
"Anda sudah datang, Tuan?" Mike bertanya dengan sopan.
"Sudah. Kamu istirahatlah, Mike. Nanti sore antar Cacha ke Bandung. Sudah terlalu lama dia di sini." Mike mengangguk menanggapi perintah Johan.
"Cacha mau pulang ke Bandung sekarang?" tanya Nathan memastikan.
"Ya. Rencana Ayah, Cacha akan tetap tinggal di Bandung untuk mengelola JS Group dan kamu tetap mengelola Saputra Group." Johan berdiri di tepi brankar, sedangkan Mila duduk di samping putranya.
"Yah, 'kan Nathan udah beli rumah di sana. Masa iya Nathan harus tinggal terpisah dengan Nadira." Nathan semakin mengerucutkan bibirnya.
"Nona Muda akan tinggal di Mansion Alexander dan Tuan Febian tetap berada di Bandung," sahut Johan santai. Nathan menoleh dan menatap lekat ayahnya.
"Berarti Nadira tidak lagi menjadi sekretaris Rendra?" tanya Nathan dengan wajah semringah.
Johan menghela napas panjangnya. "Nat, itu masih rencana Ayah. Nanti kita bahas lagi dengan Tuan dan Nona Muda. Ayah juga yakin kalau Tuan Rendra tidak akan semudah itu melepas Nona Muda."
"Nathan juga berpikir begitu. Rendra tuh suka sama Nadira. Nathan harus njaga Nadira dari para pebinor-pebinor macam Rendra." Kedua tangan Nathan saling mengepal dan memukul satu sama lain. Melihat itu, Johan tersenyum tipis.
"Nat, kamu yakin sudah baikan dengan Nadira?" tanya Mila saat Johan tidak lagi bicara.
"Sudah, Bun. Doakan saja semoga Nathan bisa segera jebol gawang jadi bisa kasih cucu buat kalian," ucap Nathan sambil cengengesan. Johan menghembuskan napas kasar.
"Pasti dong. Bunda juga sudah tidak sabar mau gendong cucu. Andai saja Rayhan sudah memiliki anak pasti saat ini Bunda sudah dipanggil Mamud."
"Apaan Mamud? Mama muda?" sela Nathan.
"Bukanlah. Mamud tuh Oma Muda," sahut Mila percaya diri. Kedua alis wanita paruh baya itu terlihat naik turun.
"Astaga, Bunda mah gitu. Suka bikin kesel orang. Bun, jangan bahas kenapa Kak Rayhan belum punya anak, kasihan Kak Queen. Nanti kena mental dia, Bun." Nathan berusaha memberi pengertian, Mila pun hanya terdiam.
Rayhan dan Queen hampir dua tahun menikah dan sampai saat ini belum memiliki keturunan, bahkan belum ada tanda-tanda Queen akan hamil. Tidak hanya Mila yang menunggu kehadiran cucu, tetapi Marvel dan Shania, apalagi Queen adalah putri mereka satu-satunya. Namun, hampir satu tahun ini mereka tinggal di Paris dan baru akan pulang bulan depan.
"Bun, kapan Nathan boleh pulang sih? Udah pengen banget tidur di rumah," kata Nathan sedikit merengek. Sebenarnya, bukan hanya itu alasan Nathan ingin cepat pulang, tapi dia juga ingin segera menemui istrinya.
"Sabar sih, Nat. Lagian kalau kamu pulang sekarang juga percuma. Enggak bakal bisa celap-celup." Mila melipat bibirnya menahan tawa. Mendengar pembicaraan anak dan istri yang mulai melantur, Johan segera menuju ke sofa dan duduk di samping Mike.
"Jangan gitu dong, Bun. Aku belum malam pertama loh, Bun." Kedua mata Mila membola sempurna mendengar ucapan Nathan.
"Kalian belum pernah malam pertama?" tanya Mila tak percaya. Nathan mengangguk lesu, sedangkan Johan dan Mike yang mendengarnya, hanya berusaha menahan tawanya.
"Menarik lah, Bun. 'Kan kemarin hubungan kita enggak baik," timpal Nathan diiringi hembusan napas kasar.
"Ya udah kalau udah sembuh nanti kalian bisa begadang tiap malam," ucap Mila dengan santai.
"Pasti, Bun. Makanya Nathan pengen cepet pulang. Kalau bisa nanti malam langsung ajep-ajep, Bun." Nathan menaik-turunkan alisnya dengan senyum menggoda.
"Sabar, Nat!" Mila mengusap wajah Nathan dengan kasar. "Kalaupun kamu pulang nanti, enggak bisa langsung uh ah, tunggu minggu depan."
"Kenapa begitu?" tanya Nathan sedikit sewot.
"Karena Nadira sedang tidak di rumah dan baru pulang minggu depan," sahut Mila. Namun, dia segera menepuk bibirnya karena sudah keceplosan.
"Memang Nadira ke mana, Bun?" tanya Nathan menuntut jawaban.
Mila terlihat begitu ragu hendak menjawab. Dia memberi kode dengan bibirnya ke mana Nadira pergi, tetapi Nathan tidak bisa menangkap dengan baik.
"Papua?" tanya Nathan dengan kening mengerut melihat bibir Mila yang memberi kode. Mila menggeram kesal karena kelemotan sang putra.
"Sekali lagi kamu memberi kode. Jangan salahkan aku kalau kamu tidur sendiri selama seminggu!" ancam Johan dengan santai. Mila menelan ludahnya, dia berbalik dan menunjukkan kedua jarinya ke arah Johan.
"Damai ya, Mas." Johan hanya mendengus kasar melihat Mila yang cengengesan.
______________________________________
Siapa yang kemarin merindukan Othor?
Sudah lunas hari ini ya 😂 3 bab mendarat dengan sempurna.
Oh iya, jangan lupa kunjungi Chat Story Othor yuk.
Lumayan buat hiburan nih.
Ada Suketi dan Genk'nya.
Yuk cek profil Othor dan klik 'Genk Tukang Ghibah'