
Jasmin terdiam mendengar ucapan Erlando, entah mengapa dia merasakan darahnya berdesir hebat saat Erlando mengatakan kalimat itu. Bahkan tatapan Erlando terlihat sangat lain dari biasanya. Jasmin terdiam saat Erlando menarik tubuhnya masuk dalam dekapannya.
"Aku tahu kamu sangat rapuh dan terluka karena Damian. Aku tahu kamu tidak pernah baik-baik saja dan sampai saat ini hanya Bi yang ada di hatimu. Ingin sekali aku mengobati rasa sakitmu itu, tapi aku sadar hanya Bi yang bisa membuatmu bahagia." Erlando menghentikan ucapannya sesaat, sedangkan Jasmin hanya terisak dalam pelukannya.
"Aku ingin menghibur hatimu, menciptakan pelangi setelah badai besar kamu alami. Tapi aku sadar, kalau aku tidak akan pernah bisa dan hanya Bi yang bisa melakukannya. Aku akan berusaha menyatukan kalian bagaimanapun caranya, karena aku ingin sekali melihat senyum indah terukir di bibir manismu, Jas."
Erlando memejamkan mata saat tanpa sadar air mata lolos begitu saja. Terluka? Tentu saja hatinya sangat terluka. Sudah cukup lama dirinya hanya bisa memendam perasaan kepada wanita itu, dan di saat Jasmin terluka, Erlando merasa sangat bersalah karena tidak bisa membuat wanita itu kembali bahagia.
"Er, kenapa dari dulu kamu selalu baik dan mementingkan perasaanku?" tanya Jasmin disela isak tangisnya.
Karena aku mencintaimu, Jas. Namun, Erlando hanya berani mengucapkan itu dalam hati. Dia belum memiliki keberanian untuk mengatakan semuanya.
***
Setelah kejadian yang tidak mereka sadari, kini Ara dan Febian sama-sama merasa begitu canggung. Dalam hati, mereka merutuki kebodohannya. Febian akhirnya mengantar Ara pulang ke rumah Om Ardian karena sampai selama ini, gadis itu masih tinggal di sana.
Sesampainya di halaman rumah Ardian, Febian terkejut saat melihat Erlando keluar bersama Jasmin yang menggendong Aruna yang sedang tertidur juga membawa sebuah koper besar. Febian bersikap tidak peduli dan justru menuntun Ara masuk ke rumah tanpa menyapa saat berhadapan.
"Bi!" panggil Erlando, tetapi Febian seolah menulikan telinganya.
"Bi, berhentilah karena aku ingin berbicara denganmu mungkin untuk yang terakhir." Febian menghentikan langkahnya saat mendengar Jasmin yang tidak lagi berbicara formal padanya.
"Bi, apa kamu sudah memaafkanku?" tanya Jasmin lirih.
"Kalau hanya itu yang akan kamu katakan, percayalah kalau aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu meminta maaf." Febian menjawab tanpa membalik badannya.
"Jas, semua tentang kita hanyalah kenangan yang menorehkan luka dan entah kapan bisa sembuh. Mulai detik ini aku akan benar-benar menghapus perasaanku padamu yang masih tersisa," ucap Febian.
"Bi, kamu masih memiliki perasaan pada Jasmin begitu juga sebaliknya. Kenapa kalian tidak bersatu lagi? Aku yakin kalian bisa hidup bahagia." Erlando menyela, sebelah sudut bibir Febian terangkat saat mendengarnya. Sementara Jasmin dan Ara hanya terdiam.
"Kamu yakin dengan ucapanmu, Er?" sarkas Febian yang membuat Erlando bungkam seketika. "Bagaimana kalau Jasmin lebih bahagia hidup denganmu? Dengan lelaki yang mencintainya dengan tulus."
"Maksud kamu?" tanya Jasmin menyela.
"Jas, cobalah pahami orang-orang di dekatmu. Bisa jadi ada seseorang yang mencintaimu dengan diam, dan diam-diam pula berusaha membuatmu selalu hidup bahagia meski hatinya sendiri harus terluka."
"Diamlah, Bi!" bentak Erlando. Dia tidak mau kalau Febian membongkar semuanya.
"Kenapa kamu menyuruhku diam? Kamu takut Jasmin akan tahu kalau kamu menyimpan perasaan padanya?" Febian berbalik dan menatap Erlando yang terlihat sangat gugup. Bahkan lelaki itu semakin terlihat gugup saat Jasmin juga ikut menatapnya.
"Er, maksud Bi apa?" tanya Jasmin menuntut jawaban.
"Jas, jangan dengarkan dia," sahut Erlando dengan memohon, tetapi Jasmin justru semakin curiga.
"Aku sudah terlalu lama di sini. Semoga kamu selalu hidup bahagia, Jas." Febian kembali berbalik dan mengajak Ara masuk ke rumah meninggalkan Jasmin dan Erlando begitu saja.
"Bisakah kamu jelaskan semuanya, Er? Apa benar yang diucapkan Bi kalau kamu menyimpan perasaan padaku?" tanya Jasmin begitu menuntut. Erlando terdiam karena dia bingung harus menjawab seperti apa.
"Katakan sejujurnya, Er!" Suara Jasmin meninggi.
"Kenapa kamu meminta maaf? Bukankah kamu tidak melakukan kesalahan apa pun?" Jasmin bertanya dengan begitu menuntut. Erlando kembali diam dan hanya menatap Jasmin dengan penuh arti.
"Kenapa kamu tidak mengatakan semuanya, Er?" tanya Jasmin lirih.
"Aku tidak akan merusak kebahagiaanmu dengan Bi, aku juga tidak mau hubungan kita merenggang kalau kamu tahu aku mencintaimu. Aku lebih memilih memendam perasaanku asal hubungan kita baik-baik saja, Jas," papar Erlando.
"Maafkan aku, Er." Kali ini, justru Jasmin yang mengucapkan permintaan maaf. "Maaf kalau selama ini aku sudah sangat menyakitimu."
"Tidak! Kamu sama sekali tidak menyakitiku, Jas," bantah Erlando dengan cepat.
"Er, biarkan aku pergi dari kehidupanmu." Jasmin berbicara dengan sangat berat.
"Ke mana pun kamu pergi, aku akan ikut, Jas." Erlando merasa begitu takut kalau Jasmin akan meninggalkannya lagi. Dia takut akan menggampangkan hidup Jasmin yang dia pikir sudah bahagia.
"Er, kalau kamu memang sayang padaku. Aku mohon biarkan aku pergi jauh tanpa kamu atau siapa pun. Aku hanya akan pergi bersama Aruna." Jasmin memalingkan wajahnya karena dia tidak mau Erlando akan tahu kalau dia hendak menangis saat ini.
"Jas—"
"Er, bukankah kamu tahu kalau tulang rusuk pasti akan kembali pada pemiliknya. Sejauh apa pun cinta itu pergi, dia tetap akan kembali pada tempatnya. Sekarang biarkan aku pergi dan jika memang kita berdua berjodoh, aku yakin kita pasti akan dipertemukan lagi," ucap Jasmin tanpa menatap Erlando.
Erlando terdiam sesaat, "Baiklah, tapi aku mohon izinkan aku mengantarmu sampai ke bandara."
Awalnya Jasmin hendak menolak, tetapi melihat sorot mata Erlando yang begitu memohon, akhirnya Jasmin mengangguk setuju. Erlando pun mengantar mereka ke bandara.
"Jas, berjanjilah kamu akan menjaga dirimu dan Aruna dengan baik." Erlando menatap Jasmin dengan sendu. Rasanya begitu berat, tetapi dia berusaha untuk menghargai keputusan Jasmin.
"Pasti!" Jasmin memeluk Erlando tanpa melepas pegangan tangannya pada Aruna. Lelaki itu begitu terkejut, tetapi dengan cepat dia membalas pelukan itu. Setelah puas saling berpelukan, Jasmin menggandeng tangan Aruna dan mengajaknya naik ke pesawat tanpa menoleh lagi.
Selang beberapa menit, Erlando berjalan keluar dan menatap pesawat yang ditumpangi Jasmin dan Aruna lepas landas.
"Aku sangat berharap suatu saat kita akan bertemu lagi dan aku juga berharap di saat itu tiba, perasaan kita bisa bersatu dan aku adalah salah satu alasan yang bisa membuat bibirmu tersenyum bahagia."
Erlando mengusap setetes air mata yang membasahi sudut matanya sebelum akhirnya dia kembali ke mobil dan melajukannya ke sebuah tempat yang bisa membuat hatinya tenang.
💦💦💦💦
Othor Minta maaf banget nih Gaes
sudah cukup sampai di sini untuk Jasmin
maafin Othor sudah membuat pendukung Jasmin Febian kecewa.
percayalah gaes, Othor hanya ingin menyesuaikan dengan realita bahwa tidak semua yang sudah cocok sama kita, bakal jadi milik kita.
Takdir Tuhan itu indah, gaes
Jangan lupa dukungan buat Othor.