Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
84


"Kamu ini satu-satunya istriku yang terbaik." Nathan ikut merebahkan diri di samping Nadira dan memeluknya dengan erat dari belakang.


"Maafkan aku, Kak." Suara Nadira terdengar begitu lirih bahkan nyaris tak terdengar.


"Nad, Rendra itu menyukaimu dan aku tidak suka kamu dekat dengannya. Hatiku sakit, Nad." Nathan mengeratkan pelukannya.


"Jangan bercanda, Kak! Mana mungkin Mas Rendra menyukaiku!" sanggah Nadira tak percaya.


"Percayalah. Aku ini lelaki dan aku bisa tahu dari sorot mata Rendra," balas Nathan. Nadira menghela napas panjangnya.


"Kak, maaf aku sudah melukaimu. Aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan saat kamu lebih memilih menolong Jasmin padahal dulu status kita sudah sah sebagai suami istri. Andai Kak Nathan tahu, saat aku tenggelam, aku sudah sangat berharap untuk ... mati." Nadira memejamkan mata karena tak mampu lagi membendung airmatanya.


Dengan gerakan cepat Nathan membalik tubuh Nadira dan mendekapnya erat. Dia menciumi puncak kepala istrinya berkali-kali. "Maafkan aku, Nad."


Bukannya berhenti, isakan Nadira justru semakin terdengar mengeras. "Kak, aku sakit! Bahkan sangat sakit melihat Kak Nathan dekat dengan Jasmin!" Nadira memukul dada Nathan untuk meluapkan amarahnya.


"Aku minta maaf, Nad." Nathan melerai pelukannya lalu menangkup kedua pipi istrinya yang sudah penuh jejak airmata. "Maukah kamu memulai rumah tangga kita dari awal?"


Nadira tidak langsung menjawab, dia menatap lekat kedua bola mata suaminya. Nadira bisa melihat cinta dari sorot mata suaminya itu. Nadira pun akhirnya mengangguk lemah.


"Aku mencintaimu, Sayang," ucap Nathan.


"Aku juga mencintaimu, Kak," balas Nadira.


Nathan mencium bibir istrinya dengan sangat lembut, Nadira pun secara refleks memejamkan kedua matanya merasakan ciuman itu dan mulai membalas ciuman suaminya. Bibir mereka saling beradu. Tangan Nathan pun mulai meraba leher Nadira, hingga wanita itu semakin merasa tak karuan.


"Kak," des*h Nadira saat Nathan sudah mulai mengeksplor lehernya dengan tangan merem*s kedua bukit kembarnya.


Nathan terus saja menjelajah tubuh Nadira. Adik kecilnya yang terbiasa bangun pagi kini semakin tegak berdiri. Nadira meremas rambut Nathan saat merasakan gelayar-gelayar yang mendera seluruh tubuhnya. Bukannya berhenti, Nathan justru semakin gencar menyesap dua cocho chip itu secara bergantian.


Krucuk krucukk


Nathan langsung menghentikan gerakannya saat mendengar perut Nadira yang berbunyi. Bibirnya tersenyum lebar, lalu kembali mencium bibir istrinya dengan lembut.


"Aku pesankan makanan dulu." Nathan bangkit berdiri dan mengambil ponsel untuk memesan makanan sehat untuk istrinya. Setelah itu, dia berjalan ke kamar mandi untuk menidurkan adik kecilnya. Nadira hanya menatap gerak-gerik suaminya tanpa bicara sepatah kata pun.


***


Rendra menatap layar ponsel yang baru saja mati setelah beberapa saat mendiamkannya. Dia menghela napas panjang dan menghembuskan secara kasar. Kedua matanya beralih menatap langit-langit kamar dengan tangan meremas dada saat merasakan sakit di sana.


"Seharusnya aku sadar kalau aku harus membatasi diriku saat ini." Rendra meletakkan ponselnya secara sembarang lalu mengusap wajah dengan kasar.


"Aku yang terlalu pengecut atau memang kita tidak pernah ditakdirkan bersama? Sepertinya, merelakanmu hidup bahagia dengannya adalah bukti cinta tulusku padamu, El." Rendra menyeka setetes airmata yang mengalir dari sudut matanya.


Sakit? Tentu saja. Siapa yang tidak sakit saat kita jatuh cinta, tapi takdir tidak mengizinkan cinta kita bersatu dengan orang yang kita cintai.


Rendra berusaha memejamkan mata untuk terlelap dan dia berharap itu sedikit mengurangi rasa sakit yang menyeruak masuk ke dadanya. Namun, baru saja matanya terpejam, terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


Dengan lesu, Rendra beranjak bangun lalu berjalan untuk membuka pintu. Setelah pintu itu terbuka, dia melihat Mario yang berdiri di depan pintu.


"Maaf mengganggu istirahat Anda, Tuan." Mario sedikit membungkuk hormat.


"Ada Tuan Bastian dan Nyonya Nirmala yang ingin bertemu Anda, Tuan." Mata Rendra terlihat melebar.


"Ayah Ibu di sini?" tanya Rendra tak percaya. Mario mengangguk mengiyakan.


"Katanya, mereka ingin bertemu kekasih Anda setelah semalam Anda menolak perjodohan yang sudah mereka rencanakan," tutur Mario yang membuat Rendra kembali mengusap wajahnya kasar.


"Oh, Ya Tuhan. Bilang pada mereka aku sedang mandi," suruh Rendra.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya turun dulu."


Rendra segera menutup pintu itu setelah Mario berjalan meninggalkan kamar. Dengan langkah lebar, dia berjalan mendekati tempat tidur dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Cacha.


Rendra menggeram kesal saat tiga kali menghubungi Cacha, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang terjawab. Dia mencoba sekali lagi, dan saat Rendra hendak mematikan panggilan itu, terdengar suara serak dari seberang telepon. Suara khas orang bangun tidur dan itu terdengar begitu sexy untuk Rendra.


"Hallo, Mas. Ada apa?"


"Cha, bisakah kamu menolongku sekarang? Orang tuaku sekarang di rumahku dan dia ingin bertemu denganmu."


"Mas, aku masih diperjalanan dan mungkin satu jam lagi baru sampai. Bukankah kita akan ke Bogor dua hari lagi?"


"Seharusnya iya. Aku juga tidak tahu kalau orang tuaku akan ke sini sekarang dan mereka bersikukuh ingin bertemu denganmu."


"Kalau begitu nanti aku langsung ke rumahmu saja, Mas. Maukah mereka menunggu?"


"Pasti mau, Cha. Sepertinya mereka akan menginap beberapa hari di rumahku."


"Baiklah, kalau begitu biar Mike sedikit mempercepat laju kendaraannya."


"Cha ...." Rendra terdiam sesaat.


"Apalagi, Mas?"


"Jangan terburu-buru dan berhati-hatilah. Jangan sampai terjadi apa-apa denganmu."


Panggilan itu hening sesaat, Rendra dan Cacha sama-sama saling terdiam.


"Baik, Mas. Aku matikan dulu."


Tut tut tut. Bunyi panggilan terputus, padahal Rendra masih ingin berbicara sedikit.


"Huh! Semoga ayah dan ibu tidak curiga." Rendra pun meletakkan ponselnya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lanjut enggak nih??


Dukungan jangan lupa Loh


Like, komen, vote atau hadiah juga boleh 😅


Selamat pagi, Gaes...