Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
138


"Rendra belum mencintai Anisa, Yah." Rendra menolak, tetapi Bastian tetap kukuh pada keputusannya.


"Cinta bisa ada karena terbiasa. Lihatlah ayah bunda yang bisa saling mencintai padahal pernikahan kita tidak didasari rasa saling mencintai." Bastian menghela napas panjangnya.


"Yah, biar Rendra pikirkan dulu." Rendra berusaha menawar.


"Ren, kamu pun meminta melamar Cacha padahal kamu belum mencintai gadis itu. Atau jangan-jangan kamu melamar Cacha supaya kamu bisa dekat dengan Nona Muda Alexander?" tukas Bastian.


Rendra tergagap mendengar ucapan yang lebih seperti tuduhan untuknya. Namun, dengan cepat lelaki itu menggeleng agar ayahnya tidak menaruh curiga padanya.


"Kalau begitu, kamu harus menikah dengan Anisa, sebagai hukuman karena sudah mempermalukan ayah!" tegas Bastian. Rendra hendak menolak, tapi melihat sorot mata sang ayah yang begitu tajam, akhirnya lelaki itu hanya mengangguk lemah. Menerima keputusan sang ayah, tanpa berani mendebat lagi.


"Baiklah, minggu depan Rendra akan menikahi Anisa," kata Rendra lesu. Bastian dan Nirmala akhirnya menghembuskan napas lega.


***


Cacha duduk bersandar kepala ranjang, pikiran gadis itu kalang kabut sekarang. Hatinya terasa berdenyut sakit setiap kali kejadian tadi mengusik pikirannya. Bagaimana rekaman video itu terputar, dan saat Rendra memeluk Nadira dengan erat.


Tanpa sadar, air mata Cacha mengalir membasahi wajah cantiknya. Sebisa mungkin dia mengusap, tapi seolah semua percuma karena air mata itu, tetap saja mengalir.


Dia memang belum mencintai Rendra, tapi melihat kesungguhan Rendra yang ingin melamarnya, membuat hati Cacha tersentuh dan akan belajar mencintai lelaki itu. Namun, kenyataan yang dia dapatkan justru menyakiti hatinya. Dua kali dekat dengan lelaki, dua kali pula dirinya harus terluka begitu dalam.


"Kenapa semua lelaki sama saja? Hanya bisa membuat sakit hati saja." Cacha bergumam sambil mengusap air mata yang masih mengalir begitu saja.


Tiba-tiba, bayangan Mike datang menghampiri pikiran Cacha. Semua yang Mike lakukan untuknya, kembali terputar dalam ingatannya, dan Cacha sangat merindukan lelaki itu.


Cacha menyeka air mata sampai benar-benar berhenti. Setelah itu, dia mengambil ponsel untuk mencari nomor kontak Mike, keinginannya untuk mendengar suara lelaki itu begitu menggebu-gebu.


Jantung Cacha berdegup sangat kencang saat mendengar bunyi memanggil, bahkan dia menggigit jari untuk mengurangi kegugupannya. Namun, panggilan itu tidak terjawab. Cacha mendesah kecewa. Mungkinkah Mike tidak mau lagi mengangkat panggilannya? Cacha mencoba lagi, tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada satu pun panggilannya yang terjawab.


Dengan kasar, Cacha menaruh ponsel itu di sampingnya, lalu perlahan merebahkan tubuhnya. Cacha benar-benar menyesal, sudah menyiakan lelaki sebaik Mike.


Cacha berusaha keras menahan memejamkan mata, agar bisa tertidur lelap. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat, Cacha mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang sedang menghubunginya saat ini. Wajah Cacha berbinar bahagia saat melihat nama Mike tertera di layar.


"Hallo, Mike. Kenapa kamu enggak angkat teleponku?" tanya Cacha begitu panggilan sudah terhubung.


"Maaf, Nona. Barusan saya sedang di kamar mandi karena baru sampai hotel."


"Hotel? Hotel mana?"


"Di Bali, Nona. Saya sekarang menetap di Bali."


"Ba-Bali? Jauh sekali, Mike." Suara Cacha terdengar berat.


"Dekat, Nona. Masih bisa dijangkau pesawat. Apa ada hal penting yang ingin Anda katakan, Nona?"


Cacha membisu, hatinya merasa sakit saat mendengar Mike sudah menetap di Bali. "Mike, kapan kamu pulang?"


Terdengar suara kekehan Mike dari seberang, dan Cacha hanya diam tidak menanggapi. "Nona, saya belum satu hari di sini. Mungkin akan bertahun-tahun, atau bahkan seumur hidup saya."


"Kamu yakin tidak merindukan ayahku?" Cacha berusaha memancing.


"Kalau saya rindu Tuan Johan, saya akan langsung melakukan video call dengan beliau. Oh iya, selamat atas pertunangan Anda, Nona. Semoga semua lancar sampai pelaminan."


"Mike, aku—"


Tut tut.


"Mungkin batrainya lowbat, positif thingking aja deh." Cacha kembali meletakkan ponselnya. Dia menghela napas panjang, lalu menghembuskan secara kasar.


Rasanya, Cacha merasa kehilangan saat Mike mengatakan sudah berada di Bali dan akan menetap di sana seumur hidup.


"Haruskah aku juga melupakanmu, tanpa kamu memberi kesempatan untukku belajar mencintaimu, Mike," gumam Cacha. Dengan sekuat tenaga, dia berusaha memejamkan mata.


***


Mike meletakkan kembali ponselnya di atas tempat tidur. Dia menghela napas panjang untuk sedikit membuat hatinya merasa lega. Ya, dia kini memang berada di Bali karena ada sebuah urusan penting.


Sebenarnya, Mike hanya sementara di sana. Bukan selamanya seperti yang dia katakan kepada Cacha. Mike memang sengaja berkata seperti itu.


Lelaki itu hanya geram dan berusaha meredam emosi saat mendengar kabar kalau pertunangan Cacha dengan Rendra dibatalkan karena Rendra ketahuan berciuman dengan Anisa.


Kalau dia tidak pergi jauh, bisa saja dirinya sudah menghabisi Rendra saat ini, karena sudah membuat Cacha menangis dan terluka.


Mike kembali mengangkat ponselnya yang berdering dan melihat nama Johan tertera di layar.


"Hallo, Mike."


"Ada apa, Tuan?" tanya Mike langsung.


"Kamu sudah sampai di Bali?"


"Sudah, tapi belum cukup lama, Tuan."


"Syukurlah, semoga harimu menyenangkan, Mike. Aku tunggu kepulanganmu karena ada hal penting yang akan aku bicarakan."


"Hal penting apa, Tuan?"


"Nanti saja kalau kamu sudah di rumah. Awas! Jangan sampai kamu tergoda apalagi terpikat dengan turis yang ada di Bali."


"Mana mungkin, Tuan. Anda 'kan tahu sendiri, hati saya ini sudah memilih siapa."


"Tidak, aku tidak tahu. Memang milik siapa, Mike?" Johan berpura-pura, sedangkan Mike hanya mendesah kasar.


"Jangan berpura-pura, Tuan," cebik lelaki itu.


"Aku bersungguh-sungguh, Mike."


Terdengar helaan napas panjang dari anak buah kesayangan Johan itu. "Tentu saja milik putri kesayangan Anda yang cantik jelita."


Johan tergelak keras mendengar jawaban Mike. "Kamu benar-benar calon mantuku."


Mereka pun kembali berbincang hal lain, sampai pada akhirnya, Johan mengakhiri panggilan itu karena malam yang sudah larut.


Othor lupa gaes


Untuk nama yang keluar hari Jum'at kemarin, sudah ada tapi enggak Othor umumin, karena kemaleman😂


Hayukk, jangan lupa dukungannya dikencengin yaa


Gimana nih? Masih mau lanjut? Apa udah bosen?


Eh jangan bosen dulu yaaaa