Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
172


Semua terdiam saat Nadira melangkah ke arah pintu, bahkan suara musik yang barusan menggema di sana pun, kini senyap. Nadira sedikit heran, merasa seolah dirinya sekarang menjadi pusat perhatian. Namun, dia mencoba bersikap tidak peduli dan tetap berjalan menuju ke pintu utama yang sudah tertutup, entah sejak kapan.


Nadira hendak meraih knop pintu, tetapi gerakannya terhenti saat pintu itu secara tiba-tiba terbuka dari luar oleh dua lelaki bertubuh kekar yang dia tahu sebagai anak buah Mike.


"Kejutan!"


Tubuh Nadira menegang saat melihat beberapa orang berdiri di depannya saat ini, dan lagu ulang tahun kembali menggema di ruangan itu. Nadira berusaha mengumpulkan kesadarannya yang berpencar entah ke mana.


"Selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun."


Para tamu undangan yang berada di ruangan itu, kini beralih mendekati pintu. Nadira menutup mulut tidak percaya saat melihat Alvino, Nathan, Febian, dan Queen. Saat ini sedang berdiri di depannya dengan kue ulang tahun yang berada di tangan Nathan.


"Selamat ulang tahun, Nad." Alvino berjalan mendekati adiknya yang langsung mendekat, dan memeluknya. Disusul Febian yang ikut bergabung bersama mereka.


"Kak Al." Suara Nadira begitu lirih dan parau karena menahan tangis.


"Selamat ulang tahun, Nad. Aku sayang kamu." Kali ini Febian yang membuka suara, diiringi pelukan yang mengerat.


"Aku juga sayang kamu, Bi." Air mata Nadira tidak bisa lagi ditahan. Alvino dan Febian bergantian mendaratkan ciuman di puncak kepala Nadira.


"Jangan menangis, nanti make up mu luntur." Febian berseloroh untuk mengurangi ketegangan di sana. Dengan bibir mencebik kesal, Nadira memukul dada bidang adiknya karena merasa begitu gemas.


"Kamu menyebalkan, Bi!" Bibir Nadira mengerucut.


"Sakit, Nad. Aku sayang kamu." Febian mendaratkan ciuman di pipi Nadira dengan penuh sayang. Mereka semua bertepuk tangan dengan meriah.


"Ehem!"


Perhatian mereka bertiga teralihkan pada dua orang yang masih berdiri di depan pintu. Alvino pun melerai pelukan itu lalu membiarkan Nadira memeluk Queen terlebih dahulu, baru setelahnya memeluk Nathan dengan erat.


"Aku juga sayang kamu, Mas." Nadira membalas dengan memeluk erat suaminya.


"Make a wish dulu. Jangan lupa berdoa yang terbaik untuk hubungan kita," suruh Nathan. Nadira mengangguk, lalu melerai pelukan itu.


Nadira memejamkan mata, lalu mengucapkan berbagai doa di dalam hati. Setelahnya, dia meniup lilin itu sampai padam disambut tepuk tangan meriah dari mereka semua.


Cacha pun mendekat dan memeluk Nadira dengan bahagia, bahkan air mata tidak bisa ditahan lagi karena rasa haru atas kejutan semuanya.


"Selamat menempuh hidup baru, Cha." Nadira menarik kedua sudut bibir, membentuk senyuman manis yang membuat Nathan menjadi gemas dan mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang.


"Selamat untukmu juga." Cacha melerai pelukan itu. Mereka semua pun tersenyum bahagia. Johan dan Mila pun mengucapkan selamat untuk Nadira dan meminta maaf sudah melukai hati wanita itu.


"Kak Al, kenapa bisa sampai sini, Baby JJ di mana?" Nadira mengedarkan pandangan, mencari keberadaan dua sosok mungil yang selalu membuatnya rindu apalagi Baby Jin yang lebih sering bersamanya dan juga Nathan.


"Di rumah, kakak hanya sebentar, besok pagi sudah kembali ke Jakarta. Ada Arum yang membantu Rania." Alvino merangkul pundak adiknya dan membenamkan lagi sebuah ciuman di kening sang adik.


"Makasih banyak, Kak." Nadira melingkarkan tangan di perut sang kakak.


"Kamu tidak berterima kasih padaku, Nad? Padahal aku jauh-jauh ke sini sampai meninggalkan pekerjaanku yang sangat menumpuk." Febian merajuk. Nadira menarik tubuh Febian sehingga mereka bertiga kembali berpelukan.


Nathan hanya tersenyum menatap ke arah mereka, dia sengaja membiarkan istrinya berpelukan dengan kedua saudaranya. Sementara Johan yang melihat itu, mengusap sudut matanya saat tanpa sadar ada setetes air bening di sana.


Andai saja kalian masih hidup, pasti kebahagiaan ini akan semakin terasa sempurna. Tuan dan Nyonya, tenanglah di alam sana.


Johan menoleh saat merasakan sepasang tangan melingkar di perutnya. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Mila yang begitu teduh. Johan pun mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


Jangan lupa jempolnya digerakkin 😅