Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
298


Febian kembali keluar kamar karena tidak tega melihat Ara yang menangis hanya karena ingin memakan martabak Bandung. Dia berencana akan kembali ke Bandung untuk membelikan keinginan istrinya tersebut. Sesampainya di ruang keluarga, hanya ada Nathan dan Alvino yang sedang mengobrol.


"Kamu mau ke mana, Bi?" tanya Alvino saat melihat adiknya membawa kunci mobil.


"Pulang ke Bandung." Febian menjawab lesu. Baik Nathan maupun Alvino sama-sama merasa heran.


"Ada hal pentingkah?" Nathan menatap Febian penuh tanya.


"Ara minta martabak Bandung dan sekarang dia menangis karena aku tidak mau membelikan." Mendengar ucapan adiknya, Nathan dan Alvino termangu sesaat. Bahkan mereka mulai curiga kalau Ara sedang hamil muda saat ini.


"Mungkinkah Ara hamil?" tukas Alvino. Namun, Febian menggeleng cepat.


"Tidak. Dia belum telat." Wajah Febian tampak lesu. "Kalau begitu aku berangkat dululah." Febian hendak pergi, tetapi suara Ara dari arah belakang berhasil menghentikan langkahnya.


"Mas, aku ikut." Ara merengek, dan itu semakin membuat Febian merasa heran.


"Sayang, kamu di rumah saja, ya. Aku takut kamu kelelahan." Febian berusaha berbicara selembut mungkin supaya Ara tidak lagi menangis.


"Aku mau ikut!" Wanita itu justru menghentakkan kaki dengan wajah cemberut.


"Sayang, perjalanan Bandung-Jakarta tidak hanya sepuluh menit. Jadi, kamu tunggu sini saja." Febian masih berusaha merayu.


"Kamu mau ke bandung, Mas?" Kedua mata Ara melebar karena tidak percaya, sedangkan kening Febian justru mengerut.


"Bukankah kamu minta martabak bandung? Kenapa kamu terkejut gitu waktu aku bilang mau ke Bandung?" Febian masih belum percaya.


"Astaga. Martabak bandung bukan hanya di Bandung, Mas. Di sekitar sini juga ada," tutur Ara, "kupikir suamiku tidak sebodoh itu," gumamnya, tetapi masih bisa didengar baik oleh Febian.


Wanita itu menunjukkan dua jari tanda damai saya melihat sorot mata Febian yang menajam. Sebelum suaminya marah-marah, Ara terlebih dahulu menarik tangan lelaki itu untuk mengajaknya pergi dari sana. Nathan dan Alvino pun hanya tergelak saat melihat wajah pasrah Febian.


"Kenapa di sini semua lelaki tunduk pada wanita?" Nathan masih saja tergelak.


"Memangnya kamu tidak?" Alvino menatap sinis ke arah Nathan.


"Aku?" Nathan menunjuk dirinya sendiri. Dengan bodohnya Alvino mengangguk mengiyakan.


"Ya jelaslah! Ayang Bebeb ngambek, aku disuruh tidur di luar aja udah kek siksaan yang teramat pedih. Aku tidak ikhlas kalau darahku dihisap nyamuk secara cuma-cuma. Lebih baik aku berikan sp***aku pada lubang buaya. Sakit, Al!" Suara Nathan begitu memekik saat Alvino memukul kepala bagian belakang.


"Mulutmu benar-benar minta disekolahin!" geram Alvino.


"Sumpah, Al. Aku deket kamu bisa jadi aku pikun sebelum menua."


"Ya, dan aku sangat menunggu waktu itu tiba!" sela Alvino. Bibirnya tersenyum meledek, embusan napas kasar pun terdengar dari mulut Nathan.


"Kamu jadi kakak ipar kenapa selalu dzolim sama aku, sih, Al?" Nathan mendecakkan lidah.


"Kamu yang selalu bertingkah menyebalkan sebagai seorang pria. Badan macho, jabatan CEO, tapi mulut kaya emak-emak komplek," cibir Alvino.


"Tapi, Al. Kamu percaya atau tidak, suatu saat kita bakal kangen masa-masa kaya gini. Masa kemesraan kita." Nathan menaik-turunkan alisnya untuk menggoda dan beberapa detik kemudian lelaki itu kembali mengaduh saat tangan Alvino mendarat bebas di kepala.


"Jangan begitu, Al. Kalau kamu beneran kangen, emang enggak malu kalau harus jilat ludah sendiri," ledek Nathan. Lelaki itu justru memeluk Alvino dengan erat hingga membuat Alvino begitu terkejut dan dengan kasar menyingkirkan tubuh Nathan. Bukannya terlepas, Nathan justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Nathan! Lepaskan! Jangan membuatku risih!" Alvino kembali berusaha menyingkirkan tubuh Nathan.


"Abang, belai aku dong, Bang." Nathan justru semakin gencar menggoda sahabatnya. Dia memajukan wajah seolah hendak mencium Alvino.


"Kamu jangan gila!" Alvino berteriak, tetapi Nathan tidak peduli dan terus menggerayangi dada Alvino hingga membuat Alvino menjadi risih.


"Lepasin, Nat!" seru Alvino, tetapi Nathan tidak peduli dan semakin memeluk Alvino erat.


"Abang, aku butuh belaian, Bang." Nathan kembali menggoda sahabatnya.


"Daddy dan Om Nathan sedang apa?" Suara Junno dari arah belakang berhasil melepaskan pelukan kedua lelaki itu.


"E-em, kita tidak ngapa-ngapain," elak Nathan, sedangkan Alvino berusaha untuk tetap terlihat tenang.


"Oh, Junno pikir kalian berdua memiliki hubungan spesial," celetuk Junno. Nathan dan Alvino terperangah mendengar ucapan bocah itu.


"Junno!" pekik Alvino. Bukannya takut, Junno justru melangkah santai pergi dari ruangan itu.


"Junno kelak akan menjadi lelaki dingin, tapi mulutnya setajam silet!" Nathan berbicara dengan begitu mantap menirukan salah satu presenter acara gosip. "Seperti kamu!"


"Lebih baik daripada harus jadi lelaki berkaleng Rombeng sepertimu!" timpal Alvino, "kamu tahu, Nat?"


"Tidak!" potong Nathan. Tangan Alvino terkepal erat.


"Jangan menyebalkan!" protes Alvino.


"Kamu yang menyebalkan!" sahut Nathan santai.


"Gara-gara kamu, aku kehilangan citra baikku sebagai Daddy yang berwibawa di depan anakkuโ€”"


"Dan aku tidak peduli!" Nathan bangkit berdiri dan berlari dengan cepat. Kedua tangannya menutup telinga rapat.


"Jonathan Saputra! Manusia laknat!" umpat Alvino saking kesalnya.


๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ


Dikit lagi tamat


Kalian kangen enggak nih sama mereka semua? Terutama kangen sama Othornya ๐Ÿ˜‚


selamat bermalam Minggu


jangan lupa gunakan pengaman


๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚