
Nathan berdiri bersandar tembok. Raut kekhawatiran terlihat jelas di wajah lelaki itu. Berkali-kali dia mengusap wajahnya secara kasar. Rendra yang menemani pun hanya duduk di kursi tunggu, lelaki itu sama khawatirnya dengan Nathan.
Setelah hampir satu jam berlalu, pintu itu akhirnya terbuka. Nathan dan Rendra segera mendekati dokter yang keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Nathan tidak sabar.
"Dia mendapat lima jahitan, beruntung kalian membawanya tepat waktu," jawab dokter itu. Nathan dan Rendra sama-sama menghembuskan napas lega.
"Syukurlah," ucap Nathan dan Rendra bersamaan. Nathan segera masuk ke ruangan setelah dokter dan perawat berpamitan, sedangkan Rendra menunggu di luar untuk bergantian.
Nathan menatap istrinya yang sedang tidur dengan posisi miring. Wajah pucat Nadira tampak begitu teduh. Dia berjalan mendekat, lalu mencium kening istrinya dengan sangat lama.
"Aku mencintaimu, Nad." Nathan mengusap wajah istrinya dengan sangat lembut. Lalu mendaratkan banyak ciuman di sana. Nadira seolah tidak terganggu, masih sibuk terlelap dalam tidurnya.
"Seharusnya kamu jangan menolongku dan biarkan aku saja yang tertusuk. Aku sakit melihatmu terluka seperti ini," ucap Nathan. Kedua matanya terlihat mulai basah. Dia kembali mendaratkan banyak ciuman di wajah istrinya.
Nathan merogoh saku celana saat merasakan ponselnya bergetar. Dia segera mengangkat panggilan itu saat melihat nama Jasmin tertera di layar.
"Hallo, Jas." Nathan bicara setengah berbisik sembari berjalan keluar ruangan. "Baiklah, aku ke sana sekarang." Nathan kembali menyimpan ponselnya saat panggilan itu sudah terputus.
"Ndra, aku minta tolong jagain Nadira ya." Nathan kembali memasukkan ponselnya di saku.
"Kamu mau ke mana?" tanya Rendra penuh selidik.
"Aku disuruh pulang ke mansion. Aku janji tidak akan lama. Sekalian aku mau mandi," sahut Nathan.
"Baiklah. Hati-hati di jalan." Rendra menyerahkan kunci mobil kepada Nathan. Setelah Nathan tidak lagi terlihat, dia segera masuk ke ruangan untuk menemani Nadira.
Rendra duduk di samping Nadira, menatap lekat wajah cantik gadis yang sudah mampu mencuri hatinya. Namun, hati Rendra terasa mencelos saat teringat betapa Nathan dan Nadira saling mencintai. Bahkan Nadira rela terluka demi Nathan meski lelaki itu sudah menyakiti hati gadis itu.
"Sepertinya aku harus belajar melepaskanmu, El." Rendra menghela napas panjang, untuk sedikit meringankan beban yang terasa menghimpit dadanya.
"Mas," panggil Nadira lirih.
"Kamu sudah sadar, El?" Rendra berbinar bahagia. Nadira mengangguk lemah, bola matanya mengamati sekitarnya.
"Kamu sama siapa, Mas?" tanya Nadira lemah.
"Tadi sama Nathan, tapi dia pulang setelah dapat telepon dari Jasmin," sahut Rendra.
Nadira menghembuskan napas kasar saat hatinya kembali merasa sakit. Mungkin sudah saatnya dia benar-benar menyerah memperjuangkan perasaannya. Rendra menggenggam tangan Nadira saat raut wajah gadis itu tampak begitu sendu.
"El, sepertinya kamu sudah salah paham dengan Nathan dan Jasmin." Nadira menatap lekat mata Rendra, seolah meminta penjelasan.
"Sebenarnya, Jasmin dan Nathan berusaha melindungimu dari mereka yang hendak mencelakai kalian. Jasmin disuruh Tuan Dharma untuk dekat dengan Nathan, agar hubunganmu dan Nathan tidak diketahui mereka, karena mereka tahu kalau kamu adalah kelemahan Nathan dan keluarga Alexander," jelas Rendra, tapi Nadira belum sepenuhnya percaya pada ucapan lelaki itu.
"Mas, aku tidak percaya. Jangan pernah membuat alasan yang kamu sendiri tidak tahu kenyataannya, Mas." Suara Nadira terdengar begitu lemah.
"Itu memang kenyataannya, El. Jasmin tidak menyukai Nathan. Dia bilang sendiri saat acara peresmian Nathan di Bandung saat itu." Rendra masih berusaha menjelaskan.
"Mas, kalau memang mereka berpura-pura, kenapa Kak Nathan lebih milih menolong Jasmin saat kita kecebur kolam padahal jelas-jelas Jasmin mendorongku," sanggah Nadira. Mata gadis itu terlihat basah saat teringat kejadian di kolam yang sangat menyakiti hatinya.
"El, Jasmin bukan mendorongmu tanpa sengaja. Dia lakukan karena ada seseorang dari kejauhan yang hendak menembakmu. Dia hanya melindungimu meski dia sendiri tidak bisa berenang."
Nadira terdiam, dia berusaha mencerna semua yang ucapan demi ucapan yang keluar dari bibir Rendra. Mungkinkah semua yang dikatakan Rendra benar? Kalau Nathan dan Jasmin hanya berusaha melindungi dirinya.
Ketika Nadira masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan seseorang masuk dengan langkah tergesa.
"Nadira."