
Cacha merasa begitu berat saat harus melepas kepulangan Mike ke Singapura. Dia sudah terbiasa berada di samping lelaki itu, tetapi kini harus berjarak jauh membuat Cacha merasa tidak rela. Mike tersenyum saat melihat raut wajah Cacha yang terus saja ditekuk.
"Neng, kenapa cemberut gitu?" tanya Mike. Kini mereka sedang berada di bandara dan sebentar lagi Mike harus naik ke pesawat.
"Kamu yakin bisa jauh dariku, Mas?" Cacha menatap Mike dengan wajah memelas.
"Kita pisah sebentar. Minggu depan aku akan menjenguk ke sini. Kamu harus janji jaga diri baik-baik di sini." Mike mengusap puncak kepala Cacha sebelum mendaratkan ciuman di sana. Cacha hanya bisa mengangguk pasrah dan membiarkan Mike berjalan menjauh darinya.
Cacha segera kembali setelah pesawat yang ditumpangi Mike lepas landas. Beberapa kali helaan napasnya terdengar di mobil yang terasa begitu senyap. Baru beberapa menit berpisah dari suaminya, tetapi Cacha sudah sangat merindukan lelaki itu.
Ketika sedang sibuk dengan lamunannya, terdengar bunyi ponsel yang menggema di dalam mobil. Cacha segera mengangkat panggilan itu saat melihat nama Nadira tertera di layar.
"Ada apa, Nad?" tanya Cacha lesu.
"Cha, apa kamu masih di bandara?"
"Aku sedang dalam perjalanan pulang, kamu mau nitip sesuatu?" Cacha menawari.
"Bisakah kamu mampir di toko kue tradisional? Belikan aku kue apem isi susu kental, satu aja."
"Apem isi susu kental? Mana ada sih, Nad." Alis Cacha mengerut.
"Ada, kamu tinggal bilang sama penjualnya pasti dibuatin, Cha. Ingat, satu aja."
"Kenapa cuma satu? Aku malu kalau harus beli satu."
"Aku cuma pengen satu doang, Cha. Jangan lupa, aku tunggu loh, jangan lama-lama juga."
Cacha menggerutu saat panggilan itu terputus begitu saja. Dia hendak menolak karena malas sekali harus mencari ke pasar tradisional. Tiba-tiba ide licik melintas di dalam pikiran Cacha.
"Pak, kalau orang hamil lagi ngidam enggak dituruti apa benar jadi ileran?" tanya Cacha pada Abas.
"Katanya sih gitu, Non."
Bibir Cacha menyeringai, dia berniat tidak akan membelikan pesanan Nadira. Dia terkikik saat membayangkan keponakannya ileran. Namun, tiba-tiba rasa tidak tega menelusup masuk. Dia pun mengurungkan niat jahatnya dan meminta Abas untuk melajukan mobilnya menuju ke pasar tradisional untuk mencari pesanan ibu hamil.
***
"Beb! Abang Tampan pulang!" teriak Nathan saat baru saja memasuki mansion Alexander.
Alvino yang kebetulan baru sampai di ruang tamu segera berbalik dan menatap kesal ke arah adik iparnya. Namun, Nathan justru berjalan dengan tenang, dan ketika melewati tempat Alvino, lelaki itu menepuk pundak Alvino dengan perlahan.
"Jangan judes-judes, Kakak Ipar." Nathan tersenyum meledek. Tatapan Alvino semakin menajam.
"Kamu—"
"Suamiku sudah pulang?" teriak Nadira sembari berjalan cepat menuruni tangga. Nathan terlihat begitu khawatir dan bergegas mendekati istrinya.
"Hati-hati, Beb. Lihatlah perutmu sudah seperti balon mau meledak." Selesai berbicara, Nathan menelan ludahnya kasar saat melihat sorot mata istrinya yang penuh amarah.
"Sekali lagi kamu bilang gitu, aku sunatin kamu, Mas!" Nadira menunjuk wajah Nathan sembari menunjukkan wajah kesal. Nathan terkekeh, melihat istrinya marah seperti itu, semakin menambah rasa gemas Nathan pada wanita berperut buncit itu.
"Beneran?" tanya Nadira antusias. Nathan mengangguk cepat. "Aku mau kamu makan apem, Mas. Dicampur cairan putih kental."
Kali ini, wajah Nathan yang terlihat begitu sumringah. "Kalau cuma makan apem mah, aku mau banget, Beb. Sudah menjadi candu untukku."
"Ya udah kalau gitu kita ke ruang tamu aja."
"Beb, jangan makan di ruang tamu, ya kali aku makan apem dilihatin pelayan sama kakak ipar. Nanti dia pengen loh."
"Kalau pengen ya biarin aja." Nadira hendak berjalan menuju ke ruang tamu, tetapi Nathan segera menahannya.
"Beb, kamu yang bener aja. Aku enggak mau apem kamu dilihat banyak orang. Cukup aku saja." Nathan melarang keras, tetapi Nadira justru menepis tangan Nathan dengan cukup kasar.
"Nad! Ini pesananmu!" Cacha masuk ke mansion dengan kesal dan menyerahkan bungkusan plastik yang langsung diraih Nadira. Alvino dan Nathan masih terdiam saat melihat Nadira membuka bungkusan plastik itu.
"Apem ini loh, Mas." Nadira menunjukkan sebuah apem dengan topping susu kental manis di depan Nathan.
"Aku kira apem tembem punya kamu, Beb. Aduh! Sakit, Al!" Nathan mengusap bekas tonyoran tangan Alvino di kepala.
"Makanya sekali-kali bersihin tuh otak, jadi enggak mesum terus-terusan. Dasar Kaleng Rombeng!" cebik Alvino.
"Daripada kamu Tambal Panci!" balas Nathan. Alvino yang baru berjalan lima langkah, berbalik dan menatap tajam ke arah Nathan.
"Damai, Al." Nathan menunjukkan dua jarinya. "Jangan marah, Al. Sesama orang tampan dilarang bermusuhan."
"Masa bodoh!" Alvino memilih pergi daripada meladeni lelaki somplak itu.
"Beb, ayo ke kamar. Aku enggak sabar pengen makan apem kamu." Nathan menaik-turunkan alisnya menggoda istrinya.
"Makan tuh apem!" Dengan gemas, Nadira memasukkan apem itu ke dalam mulut suaminya. Kedua bola mata Nathan membola. Dia mengunyah dan menelan apem itu dengan susah payah. Nadira yang awalnya tertawa pun menjadi tidak tega. Dia memberikan minum kepada suaminya yang langsung ditenggaknya.
"Ahh! Lega." Nathan mengusap tenggorokannya. "Rasanya tadi seret banget kaya pas pertama kali Othong masuk gua kamu, Beb."
"Mas!"
"Kak Nathan!"
"Dasar Kaleng Rombeng!" seru Nadira dan Cacha bersamaan. Nathan bersikap seolah tak berdosa, dan justru mencium bibir Nadira dengan mesra. Cacha yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya.
"Mumpung ada yang LDR, Beb. Biar dia pengen." Nathan tersenyum meledek ke arah Cacha.
"Ahh, aaah, sakit, Beb," rintih Nathan saat Nadira mencubit perutnya.
"Rasain!"
"Harusnya ke bawah lagi, Beb. Othong juga pengen dicubit, dielus, dan di ...."
"Sunati lagi!"