
Di ruang rawat inap Cacha, semua anggota keluarga Saputra berkumpul. Cacha merasa sangat bahagia, ternyata ini adalah kejutan yang dimaksud Mike semalam. Berbagai gurauan dan candaan benar-benar mampu menghibur hati Cacha apalagi saat Nathan berceloteh tentang ngidam Nadira yang seringkali membuat lelaki itu kewalahan.
"Kamu tahu, Cha, kalau saja aku enggak cinta mati sama Nona Muda Alexander, udah aku ... Ih! Pokoknya itu." Tangan Nathan saling meremas karena gemas, dia hendak mengumpati istrinya, tetapi melihat sorot mata sang ayah yang menajam membuat nyali Nathan menciut seketika.
"Nanti aku aduin ke Nadira loh, Kak." Cacha menakuti, dan saat itu juga wajah Nathan terlihat memucat.
"Kamu yang benar saja, Cha! Jangan sampai kamu merusak rumah tanggaku yang sudah sangat tenang. Kalau Nadira marah, bisa-bisa aku disuruh bermain dengan sabun sampai dia melahirkan." Wajah Nathan tampak begitu memelas. Cacha melipat bibir berusaha menahan tawa, sedangkan Rayhan sudah tak kuasa lagi untuk tidak tergelak saat melihat manusia bucin satu itu.
"Mike, kalau aku hamil lagi, mungkinkah kamu akan seperti Kak Nathan yang akan diam-diam mengumpat di belakang?" tanya Cacha, masih dengan menahan tawa.
Mike tersenyum lebar melihat istrinya yang sudah kembali ceria seperti sedia kala. "Tentu saja tidak! Jangan samakan aku dengan kakak ipar," ucap Mike setengah meledek.
"Aku tidak yakin," timpal Cacha dengan senyum menggoda.
"Aku harus berbuat apa supaya membuatmu percaya?" tanya Mike. Dia mengusap pipi Cacha dengan sangat lembut.
"Jangan seperti itu, Mike. Aku takut ada yang iri dengan kemesraan kita." Cacha terkikik, sedangkan yang lain memutar bola mata malas.
"Cha! Apa kamu tidak memiliki panggilan mesra untuk suamimu? Telinga bunda rasanya sakit mendengar kamu memanggil Mike hanya namanya saja," protes Mila.
"Bener, tuh! Enggak sopan!" imbuh Nathan.
"Memangnya kenapa? Selama ini Mike tidak pernah protes. Apa kamu keberatan, Mike?" tanya Cacha menatap suaminya dengan lekat.
"Tidak, Neng. Terserah kamu saja asal itu membuatmu nyaman." Mike menjawab dengan pelan dan senyum yang mengembang sempurna.
"Uh so sweet. Aku juga pengen Mas dibucinin gitu." Mila memeluk Johan tanpa malu.
"Jangan lupa sama umur, Oma!" ledek Nathan yang langsung disambut tatapan tajam dari sang bunda. Johan hanya mendengkus kasar, tetapi tangan lelaki itu membalas pelukan istrinya.
"Cha, benar yang dikatakan bunda. Itu namanya adab dan sopan santun. Hormatilah suamimu," nasehat Johan. Cacha hanya mengangguk lemah.
"Mike, kamu mau kupanggil apa?" tanya Cacha dengan manja. Mike duduk di tepi brankar dan mengusap puncak kepala Cacha dengan lembut.
"Terserah kamu saja," sahut Mike.
"Bagaimana kalau kupanggil Abang?"
"Abang tukang bakso, mari-mari sini, aku mau beli." Nathan berdendang, semua pun tertawa dan hanya Cacha yang cemberut.
"Jangan nyebelin, Kak!" cebik Cacha, "Bagaimana kalau kupanggil Akang saja."
"Akang cilok, Akang seblak, Akang ...."
"Kak Nathan!" pekik Cacha. Suaranya terdengar memenuhi ruangan itu. "Kak Nathan selalu saja menyebalkan!"
"Sabar, Neng. Orang sabar itu ...."
"Astaga, kalian berdua benar-benar!" seru Johan. Mila semakin mengeratkan pelukannya saat melihat tanda-tanda suaminya akan marah.
Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan diketuk, Johan setengah berteriak untuk menyuruh masuk. Mereka terkejut saat melihat Fey masuk ke ruangan dengan duduk di kursi roda dan didorong oleh Alan—anak buah Yosie. Dalam sepersekian detik, ruangan itu menjadi begitu senyap bahkan rahang Mike terlihat mengeras.
"Ada perlu apa kamu ke sini, Nona?" tanya Mike dengan suara tinggi.
"Mike, Nona Cacha dan kalian semua. Aku ke sini ingin meminta maaf." Fey berbicara dengan lembut, dan terlihat penuh sesal.
"Kamu yakin hanya akan meminta maaf, Nona?" tukas Mike. Lelaki itu sama sekali tidak percaya.
"Ya, aku sangat yakin, Mike." Fey semakin mendekati brankar. "Maafkan aku, Nona. Aku benar-benar menyesal sudah bersikap sejahat itu padamu." Fey menangkup kedua tangan di depan dada.
Cacha tidak menjawab, hanya menatap Fey dengan sangat lekat. Melihat kedua kaki Fey yang terbalut perban, justru membuat hati Cacha tidak tega. Dirinya merasa sangat bersalah, jika dirinya bisa hamil lagi, tetapi Fey? Butuh waktu lama untuk membuat luka itu benar-benar sembuh.
"Aku yang harusnya minta maaf, Nona."
Semua tercengang mendengar ucapan Cacha, apalagi saat melihat wanita itu sedang mengusap air mata. Mike menangkup wajah Cacha, dan menatapnya dengan heran. Namun, ibu jari lelaki itu mengusap air mata yang mulai membasahi wajah istrinya.
"Jangan mudah percaya dengan orang lain, Neng. Apalagi orang itu pernah menyakiti kita." Mike memberi nasehat, tetapi Cacha justru menggeleng lemah.
"Mike, aku benar-benar hanya ingin minta maaf kepada kalian dan tidak ada maksud lain. Bahkan jika harus bersimpuh di hadapan kalian pun aku akan melakukannya." Fey berbicara dengan sangat yakin.
"Kalau begitu, buktikan!" ucap Mike tegas, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Cacha.
Fey meminta Alan untuk membantunya turun dari kursi roda. Awalnya lelaki itu menolak, tetapi melihat Fey yang begitu bersikukuh, Alan pun membantu Fey turun dari kursi roda. Fey tidak bersimpuh, tetapi dia duduk selonjor karena kakinya masih terasa sangat sakit. Kedua tangan Fey tertangkup di depan dada. Mereka semua tidak percaya saat melihat apa yang dilakukan wanita itu.
"Aku mohon, maafkan aku agar aku bisa pergi dengan tenang. Aku tahu, sudah sangat keterlaluan kepada kalian bahkan kata maaf saja tidak cukup untuk menebus semuanya." Suara Fey terdengar parau menahan tangis. Alan hanya menatap Fey tidak tega, tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bangunlah, Nona. Aku sudah memaafkanmu." Johan berkata dengan tegas. Mike menoleh, dan menatap ayah mertuanya dengan penuh arti. Melihat Johan yang mengangguk pelan, Mike pun akhirnya pasrah.
"Ya, bangunlah. Aku juga sudah memaafkanmu. Aku juga minta maaf sudah membuatmu terluka seperti ini." Cacha berbicara dengan lembut. Mike hanya diam dan beralih merangkul pundak istrinya.
"Terima kasih banyak." Fey membungkuk hormat berkali-kali. Setelahnya, Alan membantu Fey untuk kembali duduk di kursi roda.
"Ingat, Nona. Kalau sampai kamu macam-macam lagi maka aku tidak akan pernah mengampunimu," ucap Mike mengintimidasi.
"Tidak, Mike. Aku janji tidak akan pernah mengusik hidup kalian. Kalau aku mengusik lagi maka kalian boleh menembak jantungku saat itu juga."
"Kalau begitu pergilah!" usir Mike dengan keras.
"Ya, aku memang akan pergi jauh. Aku memang akan pamit, setidaknya aku pergi tanpa rasa bersalah," ucap Fey. Mereka menatap Fey dengan bingung.
"Kamu akan pergi ke mana, Nona?" tanya Cacha penasaran.
"Pokoknya tempat yang aman dari lelaki ambisius seperti papa!" Tangan Fey terkepal erat, rasa marah kepada sang papa benar-benar sudah mencapai puncaknya.