
Nathan menghela napas panjang saat melihat Alvino dan Kenan berjalan masuk dengan raut wajah khawatir. Kedua sahabatnya itu berdiri di samping brankar dan menatap ke arah Nathan yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja, Nat. Aku kira ...."
"Aku kira apa?!" sewot Nathan. Dia yakin pasti sahabatnya sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Aku kira kamu koma," sahut Alvino santai. Nathan mendecak kesal.
"Udahlah, aku mau ke kamar mandi dulu." Nathan segera masuk ke kamar mandi dibantu Mila. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Alvino segera mendekati Nadira. Dia memeluk dan mencium puncak kepala adiknya dengan lembut.
"Kamu tidak jadi ke Bali?" tanya Alvino diiringi senyum tipis. Nadira menggeleng cepat. "Ada untungnya juga si Kaleng Rombeng kecelakaan."
Nadira menautkan alisnya ketika mendengar ucapan kakaknya. "Kaleng Rombeng?" tanya Nadira.
"Ya, Nathan 'kan Kaleng Rombeng." Alvino duduk dengan santai di atas sofa. "Eh, maaf Uncle," ucap Alvino tak enak hati saat melihat keberadaan Johan.
"Tidak apa, Tuan. Anda tenang saja," sahut Johan, tersenyum tipis.
Nadira berjalan ke sofa dan duduk di samping kakaknya. Nadira bersandar pundak Alvino yang langsung merangkulkan tangannya di pundak sang adik.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Alvino, dia kembali mencium puncak kepala adiknya. Nadira tidak menjawab, dia hanya mengangguk mengiyakan. "Apa kamu sudah baikan dengan Nathan?"
"Sudah, Kak. Nadira mau memulai hidup baru dengan Kak Nathan." Bibir Nadira tersenyum semringah, membuat ketiga lelaki di ruangan itu ikut tersenyum melihatnya.
"Al! Itu bini gue!" seru Nathan yang baru keluar dari kamar mandi saat melihat Nadira masih bersandar di pundak Alvino.
"Masa bodoh! Dia adikku!" ucap Alvino ketus.
"Ish! Kamu ini serakah banget. Nadira dipeluk, Rania dipeluk. Kalau gitu aku juga boleh dong peluk Rania?" Nathan menunjukkan rentetan gigi putihnya.
"Boleh saja, Nat. Tapi kamu harus bersiap kalau tinggal nama saja yang dikenang," timpal Kenan. Dia menutup mulutnya menahan tawa.
Nathan tidak menyahut lagi, dia kembali naik ke atas brankar dan menyuruh Nadira untuk mendekat padanya, tapi Alvino langsung mencegahnya.
"Sini dulu. Kakak masih pengen meluk kamu," kata Alvino menahan Nadira yang hendak bangkit. Nadira pun kembali menyandarkan kepalanya. Nathan menghembuskan napas kasar berkali-kali.
"Biarin sih, Nat. Nanti 'kan kamu bisa meluk Nadira sepuasnya kalau udah sembuh. Bukan cuma meluk, tapi juga ...."
Tiba-tiba pintu ruangan terdengar diketuk, lalu Mike masuk dengan membawa empat box nasi di tangannya. Johan segera meraih nasi box itu saat Mike mengulurkan padanya.
"Apa kamu lihat Cacha dan Rendra?" tanya Johan.
"Mereka sedang makan di kantin, Tuan," balas Mike sopan.
"Kalau begitu kamu ikut mereka makan saja, Mike. Silakan dimakan Tuan dan Nona. Saya akan pulang terlebih dahulu," kata Johan sopan.
"Loh, Uncle. Kenapa pulang?" tanya Alvino.
"Saya mau membersihkan diri, Tuan. Tubuh saya sudah sangat lengket." Mendengar jawaban suaminya, Mila bergegas mendekat dan menggandeng tangan Johan dengan mesra.
"Ayo, Mas. Aku juga mau mandi. Nat, ayah sama Bunda pulang dulu, ya." Mila melambaikan tangan dan mengajak Johan pergi dari sana.
Nathan mendengus kasar. "Aku tahu apa yang ada di otak bunda!" gerutunya. Kenan yang begitu gemas, tanpa sengaja memukul lengan Nathan yang terluka hingga lelaki itu menjerit kesakitan.
"Ken!" pekik Nathan dengan mata melebar.
"Maaf, Nat. Aku lupa." Kenan tersenyum seolah tak bersalah. Dia beranjak bangun dan mengambil nasi box itu. "Aku tahu kamu paling benci makanan rumah sakit, Nat."
"Ish! Sok perhatian. Yang mesen aja istriku," sanggah Nathan tak terima.
Nathan meraih nasi box itu, wajahnya berbinar bahagia melihat seporsi nasi dengan ayam bakar. "Nad, kamu tidak ingin makan di sampingku?" tanya Nathan. Dia menoleh ke arah Nadira dengan raut memelas.
Nadira hendak beranjak bangun, tapi Alvino segera menahannya. "Makan sini aja, temani Kakak."
Nadira menatap Nathan dan Alvino bergantian. "Nad, ayolah. Kamu tidak ingin makan di samping suamimu?" rengek Nathan.
"Jangan manja, Nat. Kamu sudah ditemani Kenan. Biar Nadira menemaniku di sini," ucap Alvino dengan santai.
"Kenapa enggak tukeran aja sih, Al. Aku pengen makan ditemani istriku," ucap Nathan memelas.
"Sudahlah, makan aja gak usah rempong," kata Alvino. Nathan mencebik kesal, tapi kemudian dia memakan nasi itu. Nadira pun akhirnya tetap makan di sofa bersama Alvino.
Tidak ada yang tahu kalau sudut bibir Alvino menyeringai tipis. Aku tidak akan membiarkan kalian bermesraan semudah itu. Lihat saja, Nat. Aku akan kasih pembalasan karena kamu sudah menyakiti Nadira meski tujuanmu untuk melindunginya.