
Rendra yang baru saja keluar dari mobil, berjalan dengan langkah tegas memasuki kantornya. Dia menuju ke lantai duapuluh di mana ruangannya berada. Sementara Mario dengan setia mengekor di belakang.
Sesampainya di ruangan, Rendra langsung duduk di kursi kebesarannya dan menatap Mario yang sedang berdiri di depannya.
"Mar, apa kamu mengenal sekretaris baruku?" tanya Rendra.
"Tidak, Tuan." Mario menjawab sopan.
"Semoga saja dia benar-benar berkompeten." Rendra memegang sebuah pulpen dan mengetuk-etuk pulpen itu di atas meja. "Aku merindukan El, Mar." Rendra bicara tanpa sadar. Dia bersandar di kursi dan memijat pangkal hidungnya.
"Anda harus ikhlas, Tuan. Nona Elvina memang bukan jodoh Anda." Mario berusaha menenangkan hati atasannya.
"Ya, aku akan berusaha. Menurut kamu, bagaimana dengan Cacha?" tanya Rendra.
"Menurut saya, dia cocok dengan Anda, Tuan." Mike berkata jujur.
"Tapi aku tidak mencintainya, Mar. Aku masih saja selalu terbayang El." Rendra memejamkan mata saat hatinya terasa berdenyut sakit. Bayangan Nadira mengusik pikirannya hingga dirinya tak bersemangat untuk melakukan apa pun. Apalagi sekarang dirinya harus merasakan sakitnya ditikam rindu karena entah kapan dia bisa melihat wajah Nadira lagi.
"Tuan, belajarlah melupakan Nona Elvina walau susah. Saya yakin Anda pasti bisa dan akan ada seseorang pengganti Nona Elvina di hati Anda," tutur Mario.
"Sudahlah, Mar. Lebih baik sekarang kita pergi jalan-jalan saja. Aku sedang tidak fokus menyentuh pekerjaan apa pun," ajak Rendra. Dia bangkit berdiri lalu kembali berjalan keluar ruangan. Mario hanya menggeleng melihat tuan mudanya.
Memang kalau orang patah hati itu kadang suka aneh. Percuma ke kantor kalau cuman duduk sesaat lalu bangkit lagi. Ahh sudahlah. Batin Mario. Dengan setia dia mengikuti langkah Rendra.
***
"Bisakah kamu berjalan dengan baik! Kamu mengotori jas ku!" bentak Rendra dengan tangan menunjuk jasnya yang kotor terkena kuah seblak. Rendra menatap gadis yang masih memberesi belanjaan yang berhamburan karena habis bertabrakan dengannya.
"Maafkan saya ...." Gadis itu terdiam saat bangkit berdiri dan melihat Rendra yang sedang menatapnya tajam. "Mas Rendra!" pekiknya hingga membuat kening Rendra terlihat mengerut.
"Kamu beneran Mas Rendra?" tanya gadis itu dengan wajah semringah.
"Kamu siapa?" tanya Rendra dengan suara ketus.
"Mas Rendra pasti lupa sama aku," katanya. Bibir gadis itu tersenyum simpul dan Rendra diam terpaku saat melihat senyuman yang begitu memesona.
"Bukan lupa, tapi aku sama sekali tidak mengenalmu!" seru Rendra. Dia mengamati wajah gadis itu dengan lekat. Kulit putih, rambut hitam legam sebahu yang tergerai, bibir tipis dan tatapan mata itu, tidak asing baginya. Dalam lubuk hati, Rendra begitu terpesona dengan kecantikan gadis itu yang terlihat alami tanpa sentuhan make up.
"Aku tidak bisa mengingatmu sama sekali," kata Rendra masih dengan tegas.
"Tidak apa, Mas. Aku tahu kok, lagian Mas Rendra juga sudah menolak perjodohan kita 'kan?" Kening Rendra semakin terlihat mengerut.
"Perjodohan?" tanya Rendra. Perasaannya mendadak sangat tidak nyaman. Gadis itu mengangguk cepat.
"Ya, Tuan Bastian menjodohkan kita dan kata beliau kamu menolaknya, tapi tak apa, Mas. Mungkin memang kita belum berjodoh," kata gadis itu diiringi tawa yang membuat Rendra begitu terpikat. Bahkan dia melupakan jas nya yang sudah sangat kotor.
"Aku belum paham maksud kamu. Hanya ada satu gadis yang akan dijodohkan denganku dan namanya Anisa." Rendra terdiam sesaat. Batinnya menerka-nerka. "Apa mungkin kamu itu ...."
"Ya, aku Anisa!" sela gadis itu. Wajah Rendra terlihat begitu terkejut. Netranya mengamati gadis di depannya yang masih saja tersenyum.
"Cantik sekali," puji Rendra tanpa sadar membuat Anisa tersipu malu.
"Ehem!"
Mendengar dehaman Mario, seketika Rendra tergagap. Wajahnya terlihat gugup. Dia tidak menyangka kalau Anisa, gadis gendut berkulit hitam dan rambut keriting, sekarang sudah menjelma menjadi gadis yang sangat cantik, bahkan bisa membuatnya terpesona pada pandangan pertama. Apalagi senyumnya yang tak pernah surut, seolah membuat Rendra melupakan kalau ada Nadira di hatinya.
"Mas Rendra!" Mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara dan melihat Cacha yang sedang berjalan cepat mendekatinya dengan Mike di belakang. Ketika sudah bergabung dengan mereka, Cacha mengamati gadis cantik yang sekarang berada di depannya.
"Dia siapa, Mas?" tanya Cacha tanpa memutus pandangannya.
"Wah, pasti ini Nona Cacha ya, Mas. Kekasih kamu," tebaknya. Cacha semaki terlihat heran.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Rendra menyelidik.
"Kata Tuan Bastian, kamu menolak perjodohan kita karena sudah berpacaran dengan Nona Cacha, putri bungsu Tuan Johan Saputra," jelas Anisa.
"Jadi kamu gadis yang dijodohkan dengan Mas Rendra?" tanya Cacha menuntut jawaban. Anisa mengangguk cepat.
"Kenapa kamu bodoh banget, Mas! Gadis cantik gini kamu tolak," omel Cacha setengah berbisik. Rendra sedikit melotot untuk memberi kode pada Cacha. "Harusnya kamu ... ahh!" Cacha berteriak sambil memegang kakinya yang terangkat karena Rendra menginjaknya.
Bug!