
Hampir dua jam terlelap, Febian tersenyum saat melihat Ara masih tertidur dalam pelukannya. Wajah damai Ara semakin terlihat cantik, dan jujur Febian begitu terpesona padanya. Sebuah kecupan mendarat di kening wanita hingga membuatnya sedikit menggeliat.
"Kamu sudah bangun?" tanya Febian, kedua mata Ara sontak terbuka dan terkejut saat melihat Febian berada di sampingnya.
"Ke-kenapa—"
"Jangan bilang kamu melupakan percintaan panas kita!" sergah Febian, wajahnya terlihat sangat kesal. Ara terdiam untuk mengingat, tetapi sesaat kemudian dia menepuk keningnya.
"Maaf," ucap Ara. Febian membalik badan dan kembali menindih tubuh Ara. Tentu saja wanita itu sangat terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Ka-kamu mau ngapain, Mas?" tanya Ara tergagap.
"Mengulangi percintaan panas kita," kata Febian menggoda, dia tergelak saat melihat wajah Ara yang memucat.
"Aku masih sakit." Ara menjawab jujur.
"Aku hanya bercanda. Ayo kita mandi bersama dan bantu aku menggosok punggung." Febian turun dari tubuh Ara dan membopong wanita itu menuju ke kamar mandi. Ara tidak bisa menolak karena dia masih merasakan nyeri di bawah sana.
Ketika sudah sampai di kamar mandi, Febian mendudukkan istrinya lalu dia mengisi bathup dengan air hangat. Wajah Ara memerah saat melihat tubuh Febian yang telanjang.
"Mas, kenapa adikmu sekarang kecil, bukankah tadi sangat besar?" Pertanyaan polos itu berhasil keluar dari bibir Ara, disusul gelakan tawa Febian yang menggema di ruangan itu.
"Karena belum dikasih pengembang makanya kecil," sahut Febian asal.
"Pengembang kue?"
Lagi-lagi Febian dibuat tertawa oleh pertanyaan istirnya yang memang polos atau berpura-pura polos, dia sendiri tidak tahu. Febian mendekati Ara yang juga masih polos lalu memasukkan sebagian rambut Ara ke belakang telinga.
"Memangnya kamu belum tahu kalau harta lelaki itu bisa mengembang dan mengecil?" tanya Febian lembut, Ara menggeleng dengan cepat.
"Kalau begitu kamu benar-benar polos. Coba kamu pegang adikku," suruh Febian. Ara awalnya ragu, tetapi Febian meraih tangan wanita itu dan menyuruhnya menggenggam si ular kasur.
Awalnya Ara hanya mengelus, tetapi kemudian dia terkejut saat apa yang dipegangnya semakin terasa membesar dan kencang. Dia melihat dengan seksama karena begitu penasaran.
"Pantas saja rasanya sangat sakit. Kalau lubang semut dimasukkan ular," ucap Ara. Febian terbahak saking tak kuasanya menahan tawa.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kita mandi." Febian mengangkat tubuh Ara dan menurunkan di bathup. Mereka pun mandi bersama ala pengantin baru, 'bukan mandi biasa' begitulah kata orang-orang.
***
Sementara itu, keluarga yang lain menginap di rumah Nathan dan Nadira yang lama sekali tidak mereka huni. Rumah yang dulu Nathan jadikan maskawin saat pernikahannya dengan Nadira. Meskipun tidak pernah ditinggali, tetapi Nathan menaruh beberapa pelayan untuk membersihkan rumah tersebut.
Nathan langsung mengajak Nadira untuk tidur karena khawatir melihat wajah istrinya yang tampak kelelahan. "Beb, tidurlah. Wajahmu terlihat sudah lelah sekali." Nathan memeluk Nadira dari belakang dengan erat.
"Mas, aku lapar." Kedua mata Nathan yang baru terpejam sontak terbuka lebar saat mendengar ucapan istrinya.
"Kamu mau makan apa?" Nathan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Aku pengen martabak spesial, Mas." Nadira sedikit merengek, Nathan menghela napas lega. Setidaknya kalau martabak masih ada penjualnya jam segini.
"Baiklah, tunggu di sini biar aku cariin." Nathan hendak bangkit, tetapi Nadira segera menahannya.
"Lalu?" Kening Nathan mengerut.
"Aku ingin kamu membuatnya untukku," rengek Nadira.
"Beb, aku tidak bisa membuat martabak." Nathan berusaha menolak. Namun, Nadira justru terisak keras dan membuat Nathan menjadi panik.
"Tidurlah di luar, Mas. Aku tidak mau dekat denganmu!" bentak Nadira dengan air mata berderai.
"Astaga, Beb. Jangan menangis." Nathan menangkup wajah Nadira dan mengusap air mata yang membasahi wajah wanita itu.
"Kamu tidak sayang aku!"
"Aku sayang banget sama kamu, Beb." Nathan menimpali, "baiklah, aku akan buat martabak untukmu spesial satu sosis dan dua telur, Aahhh!" Nathan berteriak saat Nadira tiba-tiba meremas adik kecilnya.
"Bisakah kamu berbicara sekali saja jangan menjurus ke sana!" protes Nadira dengan menampilkan wajah kesalnya. Nathan pun menjadi begitu gemas dan banyak ciuman mendarat di pipi wanita itu.
"Kamu tunggu di sini, biar aku buatkan untukmu, tapi agak lama pasti." Nathan beranjak turun dan berjalan keluar kamar dengan membawa ponsel untuk mencari tutorial membuat martabak spesial.
Nathan menaruh ponselnya meja dapur, lalu memutar tutorial cara membuat martabak. Kening lelaki itu mengerut saat mencermati step by step cara membuat martabak spesial.
"Tepung terigu itu yang seperti apa?" Nathan mengambil beberapa aneka tepung dan meneliti satu persatu, tetapi dia tetap tidak tahu bedanya sama sekali.
Nathan mengangkat sebungkus tepung yang sudah terbuka dengan cukup tinggi untuk meneliti lebih jauh. "Warna putih semua, bagaimana cara aku membedakannya?" gumam Nathan.
"Mas!"
"Asem!" cebik Nathan saat tepung itu justru tumpah mengenai wajahnya karena terkejut mendengar panggilan dari Nadira yang tiba-tiba. Bahkan, dia sampai terbatuk-batuk. Nadira tergelak keras saat melihat wajah suaminya yang sudah memutih penuh tepung.
"Beb," rengek Nathan, dan membuat Nadira semakin tergelak keras.
"Kamu jahat sekali." Nathan memeluk Nadira erat lalu mengusap wajahnya ke Nadira hingga membuat seluruh wajah wanita itu juga ikut memutih. Gelakan tawa Nadira semakin terdengar keras, dan Nathan merasa sangat bahagia saat mendengarnya.
"Mas, aku jadi tidak cantik lagi," rengek Nadira. Nathan mendaratkan banyak ciuman hampir di seluruh wajah istrinya.
"Bagiku kamu selalu cantik dan tidak ada saingannya, Beb." Nathan menggombal dan membuat senyum di bibir Nadira mengembang sempurna. Tanpa banyak bicara Nathan mengangkat tubuh Nadira dan mendudukkannya di samping meja kompor.
Sedari tadi senyum Nadira belum juga surut sama sekali. Nathan memegang pinggang Nadira dan merapatkan tubuhnya pada wanita itu. Secara refleks Nadira melingkarkan tangan di leher suaminya.
"Beb, kenapa kita seperti martabak? Lihatlah wajah kita." Nathan terkekeh disusul ciuman yang mendarat di wajah Nadira.
"Sepertinya kita belum pernah mencoba di dapur, Beb." Nathan menaik-turunkan alis dengan senyum menggoda. Nadira pun memukul lengan suaminya dengan gemas.
Nathan tidak peduli dan justru mencium lembut bibir istrinya dan tak lupa memainkan lidah di dalam sana. Tangan Nathan mengusap punggung belakang Nadira dengan ciuman yang terus saja mereka lakukan bahkan semakin lama ciuman itu terasa menuntut.
Nadira tak kuasa menahan desah*nnya saat Nathan mulai menurunkan ciumannya ke leher bahkan tangan Nathan meremas kedua bukit kembarnya. Dengan perlahan Nathan membuka kancing piyama yang dikenakan Nadira, tetapi tiba-tiba gerakannya terhenti saat mendengar teriakan dari arah belakang. Di saat Nathan dan Nadira menoleh, Mila yang berdiri di ambang pintu dapur begitu terkejut saat melihat wajah mereka yang sama-sama putih.
"Mas! Ada setan sedang kawin di dapur!" teriak Mila sembari berlari kembali ke kamar. Nathan dan Nadira awalnya melongo, tetapi sesaat kemudian mereka tergelak keras.