
Febian merasa begitu kesal karena hampir dua puluh menit berlalu, kopi yang dia inginkan belum juga tersaji. Padahal dirinya tidak bisa berkonsentrasi kerja kalau belum meminum secangkir kopi hitam.
"Le, telepon bagian OG, kenapa belum ada yang datang mengantar kopi? Kepalaku sudah sakit!" seru Febian. Leona tidak menjawab dan hendak menghubungi OG tadi. Namun, baru saja Leona membuka log panggilan, terdengar suara pintu diketuk beberapa kali.
Leona menaruh ponselnya di atas meja lalu bangkit berdiri untuk membuka pintu. Gadis itu terkejut saat melihat Ara datang dengan membawa nampan. Dahinya penuh keringat dan napas gadis itu pun sedikit tersengal.
"Siapa, Le?" tanya Febian menyadarkan mereka.
"Masuk, Ra. Kenapa kamu yang membawa kopi ini?" tanya Leona sembari berjalan mendekati Febian, sedangkan Ara mengekor di belakang.
"Maaf, Nona, saya hanya mendapat perintah dari Mbak Diska," sahut Ara sopan.
Leona terkejut saat mendengar jawaban Ara. Dia berbalik dan menatap Ara dengan sangat lekat, tetapi Ara justru menunduk dan menatap kopi yang tak lagi mengepulkan asap panas.
"Ra, kenapa kamu jadi begitu formal padaku?" tanya Leona penuh selidik.
"Maaf, Nona. Di kantor ini saya hanyalah bawahan, jadi sudah seharusnya saya bersikap hormat kepada Anda." Ara menjawab sopan.
"Aku tidak suka, Ra. Bersikaplah seperti biasa." Leona berbicara tegas. Namun, Ara justru menggeleng cepat.
"Saya tidak bisa, Nona." Ara tetap bersikukuh.
"Sudahlah, Le. Biar dia memanggilmu nona seperti yang lain. Biar tidak ada kecemburuan di antara karyawan." Febian memberi solusi.
"Baiklah, tapi kamu harus janji kalau di luar kantor, kamu akan bersikap seperti biasa," ucap Leona. Ara pun mengangguk mengiyakan.
"Mana kopiku!"
Mendengar perintah Febian, Ara menjadi begitu gugup. Dengan langkah perlahan Ara menaruh cangkir itu tepat di depan Febian, mengambil nampannya lalu berdiri setengah menunduk. Febian segera mengambil cangkir tersebut dan sedikit mengerutkan keningnya. Namun, dia mencium aroma kopi yang terasa begitu menggugah selera.
"Kamu yang membuat kopi ini?" tanya Febian tanpa menatap Ara.
"I-iya, Tuan." Ara menjawab gugup. Tangannya semakin kuat memegang nampan.
Febian tidak lagi bertanya, hanya meminum kopi tersebut secara perlahan untuk menikmati rasanya. Meski takarannya berbeda dengan kopi yang biasa dia minum, tetapi ini rasanya tak kalah enak dan lidah Febian sepertinya bakal ketagihan.
"Buatanmu enak juga, meski takaran berbeda, tapi sayang kurang panas." Febian kembali meminum kopi tersebut.
"Maafkan saya, Tuan. Saya sudah berlari supaya kopi itu tetap panas, tapi saya tetap saja kalah. Lain kali saya akan berlari lebih kencang lagi supaya tidak sampai dingin."
Jawaban Ara membuat dua orang lain di ruangan itu menautkan alis karena heran. "Kenapa kamu berlari, Ra?" tanya Leona.
"Saya tidak bisa memakai lift, Nona. Jadi, saya berlari menaiki tangga," sahut Ara sopan. Mata Leona dan Febian membola sempurna.
"Kamu berlari menaiki tangga sampai lantai dua puluh?" tanya Febian tidak percaya. Ara mengangguk dengan tubuh gemetar karena takut Febian akan marah kepadanya.
"Ra, kenapa kamu tidak meminta bantuan karyawan lain?" Leona menatap lekat ke arah sahabatnya. Pantas saja gadis itu terlihat ngos-ngosan dan berkeringat.
"Tidak ada karyawan yang melintas."
"Saya permisi dulu, Tuan, Nona." Ara berpamitan pergi dari sana. Namun, ketika sampai di ambang pintu, langkah Ara terhenti saat Febian memanggilnya. Gadis itu berbalik dan menatap mereka yang juga sedang menatapnya.
"Istirahatlah dulu. Baru setelah itu kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu," ucap Febian lembut. Ara tersenyum simpul, mengangguk perlahan lalu pergi dari sana.
Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Leona menatap Febian yang saat ini masih menghabiskan kopi itu dengan penuh selidik. Gadis itu yakin kalau sepupunya memiliki perasaan lain kepada Ara karena baru kali ini dia melihat Febian yang begitu perhatian dengan seorang wanita.
"Kak Bi, suka dengan Ara?" tanya Leona penasaran.
"Kembalilah bekerja, Le! Kamu harus menyelesaikan pekerjaanmu sebelum cuti. Kalau tidak selesai aku tetap akan membuatmu bekerja di hari pernikahanmu!" ancam Febian yang membuat Leona mendengkus kasar.
"Kak Bi yang benar saja!" Gadis itu menggerutu sembari berjalan mendekati meja kerjanya. Sementara Febian tidak peduli dan tetap tenang menikmati kopi yang belum juga habis sejak tadi.
***
Erlando melajukan mobilnya menuju ke sebuah rumah sakit yang berjarak cukup jauh dari tempat usaha miliknya. Setelah memarkirkan mobil tersebut, dia segera menuju ke poli anak. Kemudian, dia mencari ruang VIP di mana Aruna dirawat.
"Er?" panggil Jasmin tidak percaya saat melihat Erlando memasuki ruangan.
"Jas, bagaimana kabar kamu dan Aruna?" tanya Erlando penuh khawatir.
"Aku baik, Er. Aruna juga sudah mendingan, besok sudah bisa pulang." Jasmin menjawab sedikit gugup.
"Syukurlah." Bibir Erlando tersenyum saat melihat wajah damai Aruna yang sedang tertidur lelap.
"Er, dari mana kamu tahu kalau aku ada di sini?" tanya Jasmin penasaran.
"Leona yang mengatakan padaku. Jas, lama tidak berjumpa dan aku merasa kamu sudah banyak berubah." Erlando menatap Jasmin dengan sangat lekat. Meneliti setiap inchi tubuh wanita itu.
"Aku tidak berubah, Er. Aku masih Jasmin yang dulu." Masih menyimpan rasa yang sama untuk sepupumu. Jasmin hanya berani mengatakan itu dalam hati.
"Tidak, aku merasa kamu sangat berbeda. Apa kamu hidup dengan baik setelah menikah dengan Damian?" tanya Erlando penuh selidik. Jasmin mendadak bungkam, bahkan wanita itu menunduk sangat dalam.
"Jas?" panggil Erlando menyadarkan Jasmin.
"A-aku baik-baik saja, Er." Suara Jasmin yang begitu gugup justru membuat Erlando semakin curiga.
"Apakah kamu percaya kalau seorang wanita yang mengatakan dirinya baik-baik saja adalah wanita yang rapuh?" sindir Erlando. Jemari lentik Jasmin saling meremas.
"Maaf, Er. Aku tidak bisa bercerita apa pun padamu." Suara Jasmin terdengar bergetar menahan tangis.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu, tapi kalau kamu butuh tempat berbagi keluh kesah. Aku bersedia kapan pun mendengarkannya. Bahkan ketika kamu butuh sandaran, aku akan membiarkanmu bersandar di bahuku secara gratis."
"Terima kasih banyak dari dulu kamu selalu baik denganku, Er." Jasmin mendongak dan menunjukkan senyumnya kepada Erlando yang langsung berdiri terpaku sesaat.
"Aku sejak dulu sudah menganggapmu seperti Leona yang harus aku jaga, Jas." Erlando berkata dengan yakin.
Sepertinya aku sudah terlalu menganggap remeh kehidupan Jasmin. Setelah ini aku harus mencari tahu apa yang terjadi dengan Jasmin. Aku yakin kalau selama ini dia tidak baik-baik saja menjalani hidupnya.