Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
42


Melihat Nadira yang tidak lagi muncul di permukaan, Rendra segera melepas jas yang dia kenakan, dan menyerahkan pada Cacha yang berdiri di sampingnya. Rendra menceburkan diri, dan mencari keberadaan Nadira.


Ketika tubuh Nadira hampir mencapai lantai kolam, Rendra segera menariknya ke atas. Nathan hanya berdiri terpaku di tepi kolam berdekatan dengan Jasmin yang telah basah kuyup.


"Sini, Mas." Cacha dengan susah payah meraih tubuh Nadira dan merebahkan di samping kolam.


"Kak Nathan bodoh!" umpat Cacha dengan airmata yang sudah menganak sungai di sudut matanya. Namun, Nathan tetap bergeming dan melihat Rendra yang masih berusaha menyadarkan Nadira.


Lelaki itu menekan dada Nadira agar gadis itu tersadar dan air yang tertelan bisa keluar. Namun, Nadira tetap saja terdiam tak sadarkan diri. Akhirnya, Rendra menekan hidung Nadira dan membuka mulut gadis itu. Salah satu cara yang bisa dia lakukan saat ini adalah memberi napas buatan. Walau Rendra begitu ragu, tapi keadaan saat ini sedang genting.


"Maafkan aku, El." Rendra segera menyatukan bibirnya dengan Nadira. Namun, baru saja sekali memberi napas, tubuh Rendra terasa ditarik lalu sebuah pukulan mendarat di wajah lelaki itu.


"Lancang sekali kamu!" bentak Nathan dengan amarah yang telah sampai pada puncaknya. Rahang lelaki itu terlihat mengeras, dengan tangan terkepal erat. Bahkan, gigi Nathan terlihat saling bergemerutuk.


"Awas! Apa kamu tidak lihat El butuh pertolongan segera!" bentak Rendra. Wajah lelaki itu terlihat sangat khawatir. Suasana di sana terlihat sangat tegang. Orang tua Rendra pun tidak berani melerai mereka.


"Bukan begitu caranya! Brengsek!" umpat Nathan. Kilatan amarah terlihat jelas dari sorot mata Nathan, seolah akan melahap habis siapa pun yang berada di dekatnya.


Bibir Rendra menyeringai tipis. "Harusnya kamu sadar siapa yang brengsek! Mengingat statusmu, bukankah seharusnya kamu menolong El terlebih dahulu, bukan wanita lain!" sarkas Rendra. Nathan membisu mendengar ucapan lelaki itu.


"Nat, lepaskan El dan biarkan dia hidup bahagia. Banyak lelaki yang bisa menjaga dan menyayanginya dengan sangat tulus. Sudah cukup kamu menyakiti hatinya." Suara Rendra terdengar melirih.


"Jaga bicaramu!" Ketika hendak membuka suara lagi, terdengar suara Nadira yang terbatuk-batuk. Mereka pun segera mengalihkan pandangan ke arah gadis itu.


"Kamu sudah sadar, Nad." Cacha mendekati Nadira. Dia terlihat sangat khawatir. Nadira kembali terbatuk-batuk, dia memukul dada karena masih merasa sedikit sesak di sana.


"Ayo kita ke rumah sakit," ajak Cacha, tetapi Nadira menggeleng lemah. Dia menatap Nathan dengan penuh kecewa.


"Cha, siapa yang menolongku?" tanya Nadira dengan lirih.


"Terima kasih banyak, Mas." Nadira sedikit menunduk sopan. Rendra berjalan mendekati Nadira. Dia mengambil jas yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya. Lalu memakaikan di kedua pundak gadis itu.


"Ayo kita pulang, El. Jangan sampai kamu kembali demam," ajak Rendra sambil merangkul pundak Nadira. Kali ini Cacha hanya bisa diam. Dia tahu Nadira saat ini pasti sangat terluka. Cacha juga merasa sangat kecewa dengan kakaknya, meski dia tahu kalau Jasmin memang tidak bisa berenang.


Nadira menurut, dia berjalan beriringan bersama Rendra. Namun, baru lima langkah berjalan, Nadira berhenti dan berbalik lalu menatap ke arah Nathan yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang susah dijelaskan.


"Kak Nathan," panggil Nadira dengan lirih. "Terima kasih untuk semuanya. Termasuk rasa sakit yang Kak Nathan torehkan di hatiku. Aku yakin, mungkin ini karma untukku karena telah melukai Kak Nathan dan aku merasakan apa yang dulu Kak Nathan rasakan." Nadira menghentikan ucapannya saat merasakan airmata mulai mengalir dari sudut matanya.


"Mungkin memang kita tidak pernah ditakdirkan untuk bersama, Kak. Kita hanya akan saling menyakiti. Kak, kemarin-kemarin aku berusaha bertahan, tapi kini aku ... menyerah." Nathan menatap lekat ke arah Nadira.


"Kenapa Kak Nathan diam saja? Jawab, Kak!" teriak Cacha yang begitu kesal karena kakaknya seperti orang bisu.


"Sudahlah, Cha. Jangan paksa untuk menjawab karena aku sudah tahu jawabannya." Nadira menyela. "Kak, lebih baik kita hidup di jalan masing-masing. Kebahagiaan kamu bukan denganku begitu juga sebaliknya. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, Kak."


Nadira menyeka airmata yang masih saja mengalir. Rendra menepuk pundak Nadira dengan perlahan, memberi kekuatan untuk gadis itu. Hati Rendra merasa sangat sakit melihat Nadira yang begitu terpuruk.


"Kak ... aku pergi dan terima kasih untuk semuanya." Nadira berbalik dan pergi dari sana bersama dengan Rendra dan orang tuanya.


Sebelum pergi, Cacha mendekati Nathan dan menatapnya penuh kecewa. Bahkan, kedua mata Cacha pun sudah terlihat basah.


"Aku kecewa sama Kak Nathan! Benar-benar sangat kecewa! Biar aku bilang ayah untuk mengurus surat perceraian kalian!" kata Cacha dengan sorot mata tajam.


"Jangan sembarangan, Cha! Kamu tidak punya hak!" bentak Nathan tidak terima.


"Kak! Aku tidak mau Kak Nathan terus menyakiti Nadira walau tujuan Kakak untuk melindunginya. Kak Nathan seharusnya sadar kalau Kak Nathan sudah sangat keterlaluan!" bentak Cacha balik. Dia mendorong tubuh Nathan sebelum pergi menyusul Nadira dan yang lain. Nathan hendak mengejar, tapi Jasmin langsung menahan langkahnya.


"Kak, jangan dikejar. Biarkan mereka tenang. Kalian butuh waktu untuk sendiri." Jasmin menatap begitu memohon, akhirnya Nathan pun hanya menurut dan mengajak Jasmin pulang ke hotel.