
Setelah puas merayakan ulang tahun, kini acara dilanjutkan dengan pesta pernikahan Mike dan Cacha. Berbagai acara dilangsungkan seperti sungkeman, pecah kendi dan masih banyak lagi. Binar kebahagiaan tampak terlihat jelas dari kedua mempelai meskipun Mike masih terlihat begitu canggung.
"Anda lelah, Nona?" tanya Mike dengan sopan. Setelah mereka baru saja duduk karena sedari tadi menyalami para tamu yang terus antre untuk mengucapkan selamat.
"Kakiku sedikit sakit, Mike. Aku jarang pakai heels seperti ini." Cacha menggerakkan telapak kakinya untuk mengurangi rasa pegal itu.
"Lepas saja, Nona. Jangan sampai kaki Anda bengkak nantinya." Mike sedikit membungkuk, dan akan melepaskan sepatu Cacha, tetapi gadis itu langsung menahannya.
"Jangan, Mike. Sudah biarkan saja. Sebentar lagi acara juga selesai," cegah Cacha. Mike mendongak dan menatap istri barunya dengan lekat. Melihat tatapan Mike yang begitu dalam, bibir Cacha tersenyum diiringi anggukan pelan.
"Ehem! Ciee, manten baru." Perhatian mereka berdua teralihkan pada Nathan dan Nadira yang sudah berdiri tepat di sampingnya. Disusul Alvino dan yang lain.
"Apaan sih, Kak!" Cacha menepuk lengan Nathan karena malu, sedangkan Mike memalingkan wajahnya yang sudah merona.
"Ingat, Mike! Kamu ini bukan lagi ABG." Nathan menggoda lelaki yang baru saja resmi menjadi adik iparnya.
"Saya tahu, Tuan." Mike menjawab sopan.
"Jangan manggil aku tuan lagi, aku ini kakakmu sekarang. Jadi, panggil aku kakak ipar paling tampan." Nathan menepuk dada dengan bangga, sedangkan yang lain hanya mengembuskan napas kasar.
"Kak Nathan, jangan menyebalkan, deh!" protes Cacha dengan bibir mengerucut. Sungguh, dirinya salah tingkah saat ini.
"Awas loh, Cha. Malam pertama itu rasanya sakit banget." Kali ini, Queen yang membuka suara. Bibirnya tersenyum tipis saat melihat wajah Cacha yang tampak memucat.
"Mike, jangan lupa pasang peredam suara di kamar pengantin kalian. Aku khawatir, jeritan si Anak Kambing sampai ke kamarku," imbuh Nathan. Mike menggeleng tak percaya, ingin sekali dia mendebat, tetapi dia masih selalu ingat kalau Nathan adalah tuan mudanya.
"Nanti kalau kamu butuh gaya-gaya, jangan lupa telepon bunda. Dia ahlinya. Segala jenis gaya, bunda menguasai, kalau enggak percaya tanya aja sama ayah yang jadi kelinci percobaan." Nathan seolah tidak gentar menggoda adik iparnya.
"Kak Nathan, diamlah!" Nadira mulai terlihat kesal dengan kesomplakan suaminya yang sedang kumat.
"Sakit, Al!" Nathan mengusap telinganya yang sudah memerah.
"Rasain! Bisakah sekali saja mulutmu tidak serombeng itu?" Suara Alvino mulai meninggi, sedangkan yang lain hanya menggeleng saat melihat mereka yang selalu saja berdebat.
Nathan menangkup kedua tangan di depan dada, dan tubuhnya membungkuk dengan hormat. "Ampuni hamba, Paduka Raja. Hamba hanyalah rakyat jelata yang ingin merasakan nikmatnya bercinta, terbang tinggi sampai ke Nirwana."
"Jonathan Saputra!" pekik Alvino dengan tangan terkepal erat. Mereka semua tergelak keras, sedangkan Nathan menunjukkan rentetan gigi putihnya. Namun, mereka akhirnya terdiam saat Johan dan Mila naik ke panggung untuk berfoto bersama.
***
Di kamar pengantin yang juga sudah dipenuhi dekorasi sangat cantik, dan menampilkan kesan romantis. Cacha duduk dengan gugup. Gaun pengantin baru dilepas, riasan di wajah pun sudah dihapus, bahkan dirinya sudah wangi karena baru selesai membersihkan diri.
Cacha naik ke atas ranjang, tubuhnya terbalut piyama tidur berbahan satin dengan warna saleem kesukaannya. Cacha bersandar pada kepala ranjang, pandangan mengedar ke seluruh penjuru kamar yang tampak begitu indah. Namun, semakin membuat kegugupan di hati Cacha bertambah berpuluh kali lipat.
Jemari Cacha saling meremas, menunggu malam di mana dirinya akan resmi menjadi wanita seutuhnya. Rasanya dia begitu gugup dan takut. Ah! Jangankan melakukan itu, berciuman saja Cacha belum pernah melakukannya.
Cacha semakin gugup saat melihat pintu kamar mandi yang terbuka, Mike keluar dari sana menggunakan handuk yang membalut tubuhnya hanya sebatas pinggang. Cacha memalingkan wajah, pipinya merona setelah melihat tubuh telanjang Mike yang begitu kekar dengan bulu halus di dadanya.
"Maaf, Nona. Saya lupa membawa baju ganti." Mike masih berbicara dengan sopan. Lelaki itu pun sama gugupnya. Dengan tergesa lelaki itu mengambil piyama tidur yang tergeletak di atas nakas. Cacha yang melihat itu hanya mendesah kecewa.
"Mike, kenapa kamu memakai baju? Apa kamu tidak ingin melakukan itu?" tanya Cacha malu-malu. Dia menutup wajahnya yang sudah semakin merona, sedangkan Mike menaruh kembali piyama tidur itu di tempatnya semula, dan menatap lekat ke arah Cacha.
"Saya tidak akan melakukan malam pertama kita kalau Anda belum siap Nona," ucap Mike dengan tegas.
Dag dig dug dueeerrrr