
Suasana di meja makan di kediaman Saputra begitu ramai karena seluruh anggota keluarga berkumpul. Namun, Nadira merasakan ada yang berbeda dengan sikap Cacha padanya. Gadis itu terkesan begitu cuek.
"Habis ini kamu istirahat lagi, Nad. Bunda dan ayah mau menjenguk Baby JJ." Mila berkata di sela kunyahannya.
"Nadira ikut, Bun." Nadira bicara dengan antusias. Bayangan wajah Baby JJ yang menggemaskan membuatnya tak sabar ingin segera bertemu dua keponakannya.
"Kamu istirahat dulu, Beb. Nanti kita akan ke sana kalau kamu sudah benar-benar pulih." Nathan melarang, dia tidak tega melihat wajah Nadira yang masih tampak pucat.
"Tapi, Mas—" Nadira hendak merengek, tapi melihat sorot mata suaminya yang menjanam, akhirnya Nadira hanya bisa menurut untuk tetap berada di rumah.
"Jangan lupa selalu jaga kesehatanmu, Nad." Johan membuka suara. Nadira pun hanya mengangguk mengiyakan.
Sementara Cacha yang melihatnya, hanya meremas sendok yang dipegang dengan kuat. Hati gadis itu terasa memanas melihat keluarganya begitu perhatian dengan Nadira.
Tanpa Cacha sadari, ekor mata Nadira meliriknya. Dia tahu kalau Cacha pasti marah dengannya. Mereka berteman bukan hanya dari kemarin, bahkan mereka lahir di hari yang sama membuat Nadira sangat mengenal bagaimana Cacha.
Cacha mengunyah makanannya secara kasar, bahkan menelannya sebelum makanan itu halus. Bunyi dentingan sendok yang Cacha letakkan dengan kasar, seketika mengalihkan perhatian mereka.
Sebelum ada yang bertanya, Cacha sudah terlebih dahulu bangkit berdiri lalu berpamitan dari sana. Dia tidak peduli meski kedua orang tuanya memanggil namanya.
"Cacha kenapa?" tanya Mila heran.
"Mungkin dia masih sedih karena kejadian semalam, Bun," sahut Rayhan yang sedari tadi hanya diam.
Nadira pun membisu, makanan yang masih berada dalam kunyahannya semakin terasa hambar.
"Biarkan saja dulu. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri." Johan bicara dengan tenang.
****
Seusai sarapan, Johan dan Mila berangkat ke rumah sakit bersama Rayhan yang akan mengantar Queen sekalian menjenguk Baby JJ. Nadira hendak ikut, tapi Nathan tetap bersikeras melarangnya.
Setelah mobil yang dikendarai Rayhan meninggalkan Kediaman Saputra, kini rumah itu begitu sepi. Nathan mengajak Nadira menuju ke kamar untuk kembali beristirahat agar istrinya itu segera pulih.
"Mas, bisakah kamu membelikanku sesuatu? Tapi aku pengen kamu aja yang beliin." Nadira menampilkan wajah imutnya yang membuat Nathan menjadi begitu gemas.
"Kamu mau dibelikan apa? Apa kamu ngidam?" tanya Nathan antusias. Secara refleks, Nadira memukul lengan Nathan meski tidak kencang.
"Kamu jangan ngaco! Kita baru seminggu gituan mana mungkin langsung hamil. Mulutku rasanya pahit, ingin makan yang segar-segar," sahut Nadira dengan merengek.
"Rujak?" Nadira menanggapi dengan anggukan kepala. "Baiklah, biar aku carikan. Siapa tahu kecebongku sudah sampai di ujung gua dan sekarang sudah berbuah."
"Astaga, Mas! Kamu selalu saja menyebalkan!" cebik Nadira.
"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang." Nathan mendaratkan ciuman di puncak kepala Nadira, lalu bergegas pergi untuk mencari pesanan istrinya.
Selepas kepergian Nathan, langkah Nadira tidak lagi ke kamar, tapi dia justru menuju ke kamar Cacha. Nadira mengetuk pintu kamar Cacha, tapi tidak ada sahutan. Dengan perlahan, Nadira membuka pintu kamar itu. Dia melihat Cacha yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan memainkan ponsel.
"Kenapa kamu meminta izin, kalau kamu sudah masuk," ketus Cacha. Wajah Nadira mendadak sedih. Dia tetap berjalan mendekati tempat tidur meski Cacha bersikap tak acuh padanya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Nadira. Dia berusaha bertanya selembut mungkin.
"Bukankah kamu masih bisa melihat dengan baik?" Cacha balik bertanya dengan sedikit membentak.
Nadira menghela napas panjangnya. "Kalau aku ada salah denganmu, aku minta maaf, Cha."
"Pergilah, Nad! Sekarang kamu sudah puas 'kan? Bisa merebut perhatian semua orang dariku!" Suara Cacha terdengar meninggi.
Nadira menatap lekat raut wajah Cacha yang begitu datar. "Aku tidak merebut perhatian siapa pun, Cha!" Nadira mengelak.
"Jangan berlagak bodoh, Nad." Cacha menarik sebelah sudut bibirnya, tersenyum miring. "Bahagia sekali hidupmu, Nad! Kamu diperhatikan oleh mereka, sedangkan aku? Tubuh dan hatiku terluka saja mereka tidak ada yang peduli!"
"Kamu yakin mereka tidak peduli?" tanya Nadira penuh penekanan. "Biasakan berpikir sebelum kamu berbicara, Cha!"
"Kamu cemburu dengan perhatian mereka padaku?" tanya Nadira, tapi kali ini suaranya mulai merendah.
"Ya! Bahkan Rendra sangat mencintaimu! Dia melamarku hanya untuk dijadikan pelampaisan saja!" bentak Cacha. Suaranya terdengar menggelegar.
"Aku tidak tahu kalau Mas Rendra mencintaiku, Cha!"
"Bohong!" sela Cacha dengan cepat. "Kamu tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui siapa yang mencintaimu atau tidak, Nad!"
"Terus sekarang kamu mau gimana? Kamu mau aku pergi dari sini?" tanya Nadira dengan suara yang mulai meninggi, sedangkan Cacha justru terdiam. "Kalau itu maumu, aku akan pergi, Cha!"
Cacha masih saja terdiam, jemarinya saling meremas kuat. Jujur, jauh di lubuk hatinya terdalam, Cacha merasa bersalah sudah berbicara sekasar itu kepada Nadira. Namun, dia terlalu malu untuk meminta maaf.
"Aku akan pergi dari sini, Cha. Kamu tenang saja. Karena rumahku memang bukan di sini. Aku sengaja pulang dari Lombok langsung ke sini karena aku sangat mengkhawatirkanmu." Nadira menjeda ucapannya, dia berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Tapi sepertinya kamu tidak suka kalau aku khawatir padamu. Maafkan aku, Cha. Kalau selama ini aku ada banyak salah sama kamu. Baik yang aku sengaja ataupun tidak aku sadari. Setelah ini, aku akan pergi jauh dari kehidupanmu, Cha. Kamu harus percaya kalau aku tidak ada niat sedikit pun untuk merebut perhatian siapa pun dari kamu."
Nadira menatap lekat wajah Cacha yang sedari tadi berpaling. Dia tahu, kalau Cacha pasti sangat marah padanya.
"Kalau kamu mau benci dan marah. Cukup padaku saja, Cha. Jangan kepada keluargamu, terutama kedua orang tuamu." Nadira mengusap air mata yang perlahan membasahi wajahnya.
"Kamu tidak akan tahu betapa tersiksanya saat kamu sakit, tidak ada orang tuamu yang menemani. Tidak ada seorang ibu yang dengan telaten menyuapimu makan, atau seorang ayah yang mengusap kepalamu sambil mendoakanmu." Air mata Nadira semakin mengalir deras, sedangkan Cacha meremas dadanya kuat saat merasakan sebuah rasa sakit di sana.
"Aku salah padamu, bahkan sangat salah. Aku minta maaf, Cha. Tapi sungguh, aku tidak berniat sedikit pun untuk mencari ataupun merebut perhatian mereka. Mungkin lebih baik aku pergi, karena di sini aku hanya bisa merepotkan dan membuat kamu marah. Maafkan aku, Cha."
Nadira melangkah lebar keluar dari kamar Cacha, sedangkan Cacha hanya terpaku menatap kepergian Nadira. Mengingat semua ucapan Nadira tadi, tanpa sadar air mata Cacha pun mengalir membasahi wajah cantiknya.
Maafkan aku sudah sangat keterlaluan padamu, Nad.