Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
265


Febian terdiam mendengar pertanyaan Ara, sedangkan Ara terlihat sedikit takut karena merasa telah terlalu ikut campur. "Apa Leona sudah bercerita padamu?"


"Tidak, Tuan. Leona tidak pernah bercerita tentang itu. Hanya saja, saya melihat hubungan Anda dan Nona Jasmin begitu renggang, tapi saya lihat foto Anda dengan Nona Jasmin yang berada di kamar Leona terlihat begitu mesra." Ara menjelaskan dengan sedikit gugup. Febian tidak menjawab, hanya ******* kasar dari lelaki itu yang terdengar.


"Maafkan saya, Tuan. Saya sudah terlalu ikut campur." Ara merasa tidak enak hati.


"Tidak apa. Aku pernah jatuh cinta dua kali, tapi dua kali pula aku terluka. Hubunganku dengan Jasmin yang sudah berlangsung dua tahun lebih nyatanya harus kandas karena ternyata dia menikah dengan lelaki lain." Akhirnya, Febian menceritakan semua, dirinya seolah sangat percaya kalau Ara tidak akan berbicara kepada siapa pun.


"Sepertinya kisah kita hampir sama, Tuan. Saya juga menjalin hubungan dengan seseorang lebih dari lima tahun, tetapi ternyata dia menikah dengan sahabat saya sendiri." Ara menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan.


"Lama sekali," ucap Febian heran.


"Ya, tapi seberapa lama jalinan hubungan kekasih, tidak menjamin sampai ke pelaminan, Tuan." Kedua tangan Ara saling berpelukan saat merasakan hawa dingin karena angin berembus cukup kencang.


Febian beranjak bangun, melepas jas yang dia kenakan lalu memakaikan di tubuh Ara. Gadis itu hendak menolak, tetapi Febian justru merangkulnya. Wajah Ara memerah saat merasakan betapa dekatnya jarak mereka saat ini.


"Kamu pasti merasa sangat terluka waktu itu." Febian semakin merapatkan tubuh mereka.


"Ya, tapi saya berusaha keras untuk bangkit. Hidup saya tidak boleh berhenti di saat itu juga. Saya masih ingat ada bapak yang harus saya jaga dan rawat."


"Bapakmu sakit?" tanya Febian ingin tahu.


Ara mengangguk lemah, "Bapak saya hampir delapan tahun terkena stroke."


"Bagaimana cara kamu bangkit waktu itu?" Febian menoleh, menatap Ara dari jarak yang cukup dekat membuat Febian merasakan sebuah perasaan lain yang susah dijelaskan.


"Saya pikir semua orang pasti pernah merasakan sakit dan terluka. Tapi kalau kita hanya memikirkan luka itu, yang ada kita akan terbunuh dengan perlahan oleh rasa sakit itu. Percayalah, Tuan, Tuhan pasti punya rencana indah untuk kita. Walaupun kita harus terluka terlebih dahulu karena semua tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan."


Tatapan Febian tidak pernah lepas dari wajah cantik Ara. Rasanya dia begitu kagum dengan gadis itu. "Kamu benar-benar gadis hebat."


"Jangan memuji saya seperti itu, Tuan. Saya tidak sehebat yang orang lain lihat. Jujur, saya hanya berpura-pura terlihat baik-baik saja di depan orang lain." Ara mengusap air mata yang menetes dari sudut matanya, dia tidak ingin Febian melihatnya meskipun semua sudah terlambat.


"Dua kali terluka karena pengkhianatan membuat saya trauma dan tidak ingin lagi mengenal cinta."


"Dua kali? Kamu pernah menjalin hubungan dua kali?" tanya Febian penasaran. Namun, Ara menggeleng lemah.


Ara tak mampu lagi menahan air mata yang akhirnya turun bebas membasahi wajah cantiknya. Febian terpaku, ternyata kisah hidup Ara lebih pahit dari yang ia alami saat ini.


"Maafkan saya, Tuan. Justru saya yang bercerita padahal seharusnya saya menjadi pendengar." Ara mengusap air mata itu, dan berusaha menetralkan suaranya.


"Tidak apa, kita memang butuh seseorang untuk berbagi keluh kesah." Febian menarik kedua sudut bibirnya. Segala amarah dan rasa sakit karena Jasmin seketika lenyap saat itu juga.


Setelah memastikan tidak ada air mata yang tersisa di wajahnya, Ara menatap Febian dengan sangat lekat. "Tuan, saya yakin suatu saat Anda bisa menemukan wanita luar biasa yang akan menjadi pendamping hidup Anda. Jodoh, rezeki, maut semua sudah ada garis takdirnya masing-masing. Semua hanya tentang waktu. Mungkin saat ini kita terluka karena semua tidak seperti apa yang kita harapkan, tapi percayalah kalau hal indah sudah menunggu di ujung rasa kecewa."


Febian terdiam, mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Ara yang begitu menenangkan hatinya. Tanpa sadar, Febian menangkup wajah Ara, menatapnya dengan sangat lekat. Ara pun terbuai oleh tatapan Febian.


Semakin detik berlalu, jarak di antara mereka semakin terkikis. Tidak ada yang menyadari seolah ada obat yang membuat mereka menjadi terbuai.


Bibir Febian menyentuh bibir tipis milik Ara dengan sengat lembut. Ara yang begitu terhanyut pun hanya memejamkan mata. Ini pertama kali untuknya, tetapi dirinya seolah lumpuh dan tak bisa menolak sama sekali.


Sementara Jasmin yang berdiri di belakang mereka, dengan kasar mengusap air mata yang mengalir deras. Tujuannya ke sini adalah untuk menenangkan diri karena ini merupakan tempat biasa dia dan Febian mencari ketenangan. Namun, dia justru melihat hal yang membuat hatinya sangat terluka.


"Jas," panggil Erlando lirih. Dia juga terdiam menatap pemandangan di depan sana.


"Sudah waktunya aku berhenti memperjuangkan perasaanku lagi." Jasmin bergumam lirih. Erlando tidak menyahuti, tetapi lelaki itu bisa merasakan bagaimana sakitnya hati Jasmin saat ini.


"Er, apa semua karma untukku?" tanya Jasmin dengan air mata yang masih terus berderai.


"Jas, aku akan membantu memperjuangkan perasaanmu untuk Bi, aku tahu kalau kalian masih saling mencintai. Semua hanya butuh waktu." Erlando berusaha keras menahan perasaan yang saat ini bergejolak hebat. Jasmin berbalik dan berlari pergi dari sana, dengan cepat Erlando mengejarnya.


"Jas! Tunggu!" teriak Erlando, tetapi Jasmin terus saja berlari. Erlando menarik tangan Jasmin dengan sedikit kasar untuk menghentikan wanita itu.


"Sudahlah, Er! Aku menyerah! Aku sadar kalau dari awal aku dan Bi tidak akan pernah bersatu! Kita hanya bisa saling menyimpan kenangan yang menyakitkan. Aku menyesal, Er. Aku menyesal pernah menyakiti lelaki sebaik, Bi."


"Jas, percayalah kalau Bi masih mencintaimu. Buktinya dia tidak pernah dekat dengan wanita mana pun setelah hubungan kalian putus!" timpal Erlando.


"Kenapa kamu begitu inginnya aku dan Bi kembali? Padahal kamu tahu aku sudah sangat menyakiti hati Bi." Suara Jasmin merendah, tetapi air mata wanita itu belum juga surut.


"Jas, aku tahu kamu sejak dulu sangat mencintai Bi. Apa pun hal yang membuatmu bahagia, aku akan memperjuangkannya. Apa pun itu asal kamu bisa hidup bahagia."