Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
162


Hampir sebulan berlalu sejak kepulangan Mike ke Bali, hari-hari Cacha terasa begitu hampa karena Mike jarang menghubunginya. Bahkan, terkadang sampai seminggu lebih lelaki itu tidak memberi kabar padanya sama sekali.


Besok pagi, mereka sekeluarga akan berangkat ke Bali untuk datang di pernikahan Mike yang Cacha sendiri tidak tahu siapa mempelai wanitanya. Cacha sebenarnya sangat enggan, bahkan dia sudah merayu sang ayah agar mengizinkannya tetap di Jakarta, tetapi Johan menolak dengan sangat tegas.


Semua penghuni rumah harus ikut, kecuali Alvino dan keluarga kecilnya karena usia Baby JJ belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Bahkan, Arum dan Mang Ujang pun ikut bersama mereka. Akhirnya, dengan terpaksa Cacha ikut serta.


Ketika sedang sibuk dengan lamunannya, terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Cacha berteriak menyuruh si pengetuk pintu untuk masuk. Begitu pintu kamar terbuka, terlihat Mila menyembul dari baliknya.


Wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu, berjalan dengan langkah anggun mendekati tempat tidur putrinya.


"Kamu sudah bersiap, Cha?" tanya Mila. Dia mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur tepat di samping sang putri.


"Belum, Bun. Cacha rasanya males banget mau ikut. Bunda rayuin ayah dong, biar Cacha tetap di rumah aja." Cacha merengek, dia berharap sang bunda mau membantunya karena salah satu cara yang membuat Johan tunduk adalah sang istri.


"Kali ini bunda tidak akan membantumu karena bunda tidak mau meninggalkanmu sendirian di sana. Apa kata orang kalau mereka tahu, ayah bunda meninggalkan putrinya sendirian padahal kita datang ke pesta," tutur Mila menolak keinginan putrinya.


"Ish! Jangan dengerin apa kata orang lah, Bun! Yang penting aku happy aja di rumah walau sendirian. Bun, lagian aku enggak sendirian kok, 'kan ada Rania dan Kak Al juga di rumah." Cacha menarik-turunkan alisnya, tetapi wajah gadis itu terlihat memelas.


"Sekali tidak! Tetap tidak!" Mila bersikukuh. Cacha pun semakin menunjukkan wajah memelasnya.


"Bunda jahat sama Cacha," rengeknya.


"Bunda jahat gimana sih, Cha? Justru bunda itu baik hati, cantik, polos, apalagi kalau sedang sama ayah, bunda sangat polos sekali, Cha," seloroh Mila diiringi gelakan tawa.


"Bunda! Jangan mulai menyebalkan!" seru Cacha dengan tangan terlipat di dada, sedangkan Mila hanya menutup tawa melihat wajah kesal putrinya.


"Pokoknya kamu harus ikut, Cha. Bunda udah daftarin kamu jadi Pager Ayu di pernikahan Mike." Mila mencubit pelan bibir Cacha yang masih mengerucut.


"Cacha enggak mau, Bun." Cacha masih terus saja merengek.


"Bunda tidak menerima penolakan!" Mila berkata dengan tegas. Dia bangkit berdiri lalu berpamitan pergi. Cacha hanya terdiam, tidak menahan ataupun menolak wanita itu.


Setelah pintu kembali tertutup, suasana di kamar itu kembali hening. Cacha beranjak bangkit, menatap pantulan wajahnya yang tampak lesu. Beruntung, luka di bahunya sudah perlahan sembuh jadi Cacha sudah sedikit leluasa dalam melakukan apa pun.


Cacha menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. Baru membayangkan saja, hati Cacha rasanya sudah sesakit itu. Apalagi kalau dirinya benar-benar menjadi Pager Ayu seperti yang dikatakan sang bunda?


"Ah! Lama-lama aku bisa gila. Mending aku tidur aja." Cacha kembali ke kamar, tak lupa menutup pintu ke balkon agar dinginnya udara malam tidak masuk ke kamarnya.


Dengan perlahan, Cacha merebahkan tubuhnya dan berusaha keras agar bisa terlelap. Namun, semua usahanya gagal, hanya mata saja yang terpejam, tetapi pikirannya masih saja berkelana.


Cacha pun akhirnya menyerah, dia membuka kelopak matanya lagi, mengambil ponsel dan menggulir layarnya. Entah apa yang dia cari karena semua akun sosial media sudah dibuka, tetapi Cacha tidak menemukan satu pun yang menarik hatinya.


Ketika Cacha hendak kembali ke layar utama, tiba-tiba ada satu story dari Mike yang baru dikirim beberapa detik lalu. Gadis itu merasa begitu bimbang. Ingin sekali dirinya melihat, tetapi dia malu sama Mike karena lelaki itu pasti mengetahuinya. Kalau tidak dilihat, bisa-bisa gadis itu mati penasaran.


Setelah mengumpulkan keberanian dan menepis segala rasa gengsinya. Ibu jari Cacha menekan story itu. Sebuah gambar dekorasi pesta yang sangat megah terlihat di sana. Dengan puluhan ribu hiasan bunga dan singgasana untuk mempelai pengantin yang sangat mewah.


Cacha tersenyum pada awalnya, tetapi ketika ingat semua bukan untuknya, hati Cacha rasanya seperti diremas kuat hingga menciptakan luka yang membuat air mata Cacha, mengalir tanpa sadar.


Semoga semua berjalan lancar tanpa satu pun kendala.


Membaca caption di story tersebut, membuat Cacha semakin mengusap air mata yang mengalir deras. Dia tidak menyangka kalau Mike akan menjadi pria yang sangat romantis. Rasa sesal semakin menyeruak hati Cacha. Seandainya dulu dia menerima perjodohan dengan Mike, pasti saat ini dirinya sedang menjadi wanita paling bahagia di seluruh dunia.


Merasa tak kuasa, Cacha kembali meletakkan benda pipih itu di sampingnya. Lalu dia memaksa memejamkan mata tanpa lupa mengusap air mata yang masih saja mengalir.


"Tidurlah, Cha. Percayalah kalau hari esok adalah hari yang indah untukmu." Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Cacha pun semakin memaksa matanya untuk terlelap.


๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ


Udah bosen belum, nih?


Masih mau lanjut?


Kalau rame, besok Othor kasih Cray Up 5 bab๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚