
Sebuah gedung yang sudah dihias dekorasi bunga dengan sangat megah. Ratusan tamu undangan sudah hadir di ruangan itu. Di belakang singgasana pengantin, sudah berhiaskan dekorasi bunga yang sangat cantik. Pintu utama sudah terbuka dengan lebar. Karpet merah terpasang dari pintu utama sampai ke panggung.
Nathan yang baru saja sampai, enggan turun dari mobil dan tetap bersikukuh di dalam mobil sebagai tanda penolakan jika dirinya tidak mau menikah lagi. Padahal dirinya sudah memakai tuxedo lengkap yang membuat lelaki itu semakin terlihat tampan.
Johan dan Mila sudah berdiri di samping pintu, menunggu Nathan turun dari mobil. Johan sudah memakai jas rapi dan Mila sudah memakai kebaya yang begitu elegan.
Pengawal Johan berjalan mendekat lalu membungkuk hormat. "Tuan Muda tidak mau turun, Tuan."
Johan menghela napas panjang lalu menghembuskan secara kasar. Dia berjalan mendekati mobil dan menatap tajam ke arah Nathan yang memalingkan wajahnya.
"Turunlah, Nat." Suara Johan masih terdengar normal.
"Yah, Nathan enggak mau turun." Nathan bersidekap persis seperti anak kecil. Dengan gemas Johan menjewer telinga Nathan hingga lelaki itu merintih kesakitan.
"Kalau kamu tidak mau turun, jangan salahkan Ayah kalau telingamu putus!" kata Johan tegas. Nathan pun segera turun dari mobil. Dia segera mengusap telinganya yang memerah.
"Yah, Nathan mohon ... Nathan enggak mau nikah lagi. Nathan cuman mau sama Nadira seorang, Yah." Nathan menangkup tangan di dada dengan raut wajah yang begitu memohon.
"Ayah harap kamu tidak akan mempermalukan Ayah," kata Johan. Dia berbalik dan berjalan kembali mendekati istrinya tanpa peduli rengekan putranya. Melihat sang ayah yang tidak berbalik, Nathan tersenyum tipis. Dia berbalik perlahan untuk kabur. Namun, baru saja berbalik, Nathan langsung terdiam saat melihat Si Botak sedang berdiri dengan bersidekap sedang samping kanan dan kiri ada pengawal lain yang membawa borgol dan senjata.
Nathan mendesah kasar, lalu berjalan mendekati Johan dan Mila yang sedang tertawa puas. Sementara itu, dari pintu samping ruangan yang juga sudah dipasang karpet merah, Nadira berjalan dengan lesu masuk ke ruangan. Dia sudah merasa begitu pasrah, mau kabur pun percuma karena kakaknya sudah memberi pengawalan yang ketat. Apalagi dirinya diampit Alvino dan Febian di sampingnya.
Pintu utama dan pintu samping tempat kedua mempelai terbuka lebar. Namun, mereka sama-sama belum menyadari. Nathan tersenyum paksa di depan para undangan, meski dalam hati dia mengumpati sang ayah. Sementara Nadira berjalan menunduk, semangat hidupnya benar-benar telah hilang.
"Selamat datang dan selamat berbahagia Tuan Jonathan Saputra, pengusaha muda yang sekarang menjabat sebagai CEO Saputra Group." Nadira sontak menghentikan langkahnya setelah mendengar pembaca acara itu menyebut nama suaminya.
"Dengan seorang wanita cantik memesona, Nona Muda perusahaan besar di negara ini. Nona Muda Elvina Nadira Alexander, putri kesayangan Almarhum Tuan Davin dan Nyonya Aluna." Kali ini, giliran Nathan yang berhenti untuk memastikan pendengarannya.
"Yah! Bun! Telinga Nathan masih normal 'kan?" tanya Nathan. Dia menoleh ke arah Johan dan Mila bergantian.
"Diamlah dan fokus ke depan, Nat! Tidak lihatkah semua orang menatap kita?" kata Johan sedikit ketus. Nathan pun kembali menghadap ke depan.
Ketika dia sudah berdiri dengan sangat tegak, tubuh Nathan menegang saat tatapan matanya bertemu dengan wanita cantik memakai gaun pengantin yang juga sedang menatap kaget ke arahnya.
"Kak Nathan!"
"Nadira!"
Panggil mereka berdua bersamaan. Nathan berjalan mendekat dengan langkah lebar, lalu menangkup pipi Nadira dengan lembut. Dia masih belum percaya kalau yang berdiri di depannya saat ini adalah Nadira, istrinya.
"Mataku tidak jereng 'kan?" seloroh Nathan. Nadira dengan gemas memukul tubuh suaminya. "Eh tunggu sebentar ... Yah! Kita 'kan udah nikah, terus ngapain nikah lagi? Jangan bilang Ayah mau nikahin Nathan dengan wanita lain? Nathan enggak mau!" Nathan memeluk tubuh Nadira dengan sangat erat. Banyak tamu undangan yang tertawa, Johan pun mengusap keningnya karena sedikit malu dengan putranya.
"Wah, sepertinya kejutan yang dipersiapkan keluarga Alexander dan Saputra sudah berhasil. Selamat untuk kedua mempelai. Ada yang mau disampaikan oleh Tuan Muda Alvino selaku putra tertua keluarga Alexander. Silakan, Tuan." Alvino meraih mic dari pembawa acara itu, sedangkan Nathan melerai pelukannya dan beralih merangkul pundak istrinya. Mereka berdua benar-benar tidak menyangka dan sangat bahagia saat ini.