Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
53


Nadira mengerjapkan kedua matanya saat mendengar tawa seseorang. Keningnya mengerut saat melihat Felisa sedang berdiri tidak jauh dari tempat tidur. Senyum di bibir Felisa terlihat begitu menyeramkan baginya.


"Anda sudah bangun, Nona Muda?" tanya Felisa penuh penekanan. Tubuh Nadira sedikit meringsut saat melihat sorot mata Felisa yang seolah akan melahap habis dirinya.


"Fel," panggil Nadira. Dia sedikit memundurkan tubuhnya saat Felisa mendekatinya secara perlahan. "Kamu baik-baik saja?" tanya Nadira mengumpulkan segala keberaniannya.


"Tentu saja baik, Nona. Bahkan sangat baik!" sahut Felisa tegas. Sudut bibirnya menunjukkan sebuah seringai. "Apa ada pesan terakhir yang ingin Anda katakan, Nona?"


"Pe-pesan terakhir apa?" Nadira terlihat begitu gugup.


"Sepertinya, ini akan menjadi hari terakhir Anda hidup di dunia," jawab Felisa. Kedua bola mata Nadira melebar dengan sempurna. Tubuh Nadira gemetar ketakutan, apalagi saat Felisa sudah naik ke atas tempat tidur.


"Fe-Fel, aku mohon jangan lakukan apa pun padaku," pinta Nadira. Airmata gadis itu mulai mengalir dari sudut matanya.


"Anda tenang saja, Nona. Saya akan membuat Anda merasakan bagaimana rasanya mati secara perlahan setelah saya berhasil membunuh orang tua Anda."


Nadira terlonjak mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Felisa. Dia menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini.


"Kenapa kamu tega membunuh daddy dan mommy! Apa salah mereka!" bentak Nadira dengan airmata yang sudah memenuhi seluruh wajahnya.


"Tentu saja mereka sangat salah! Mereka sudah menghalangi saya untuk mendapatkan hati Tuan Al!" Suara Felisa terdengar begitu tinggi.


"Fel, bukankah kamu tahu kalau Kak Al sayang dengan Rania?"


"Ya, saya tahu! Bahkan saya sangat terluka harus melihat kemesraan mereka berdua setiap hari. Anda tidak akan pernah tahu betapa sakitnya hati saya! Saya bahkan masih ingat dengan jelas ketika saya berusaha mengambil hati Tuan Al, orang tua Anda justru meminta dengan memohon!" Nadira menatap lekat wajah Felisa. Sorot mata yang penuh amarah dan luka bercampur menjadi satu.


"Tapi kenapa kamu menolong Rania waktu itu? Bahkan kamu memihak kita!" Nadira menyeka airmata yang masih membasahi seluruh wajahnya.


"Fel, mommy dan daddy tidak salah. Kamu harusnya berterima kasih. Kamu tidak akan pernah tahu betapa sakitnya saat mencintai sendirian," ucap Nadira lirih. Hati Nadira terasa mencelos sakit, teringat akan rasa sakit yang dia terima karena hanya dirinya seorang yang mencintai Nathan.


"Jangan berlagak sedih, Nona! Lebih baik ucapkan apa kata terakhir Anda sebelum menyusul orang tua Anda," perintah Felisa.


Nadira menunduk, meremas baju tidur yang dia kenakan saat ini. Bahkan dia tidak peduli meski airmatanya sama sekali tidak mau berhenti mengalir.


"Fel, jika memang ini akan menjadi hari terakhirku dan kamu yang akan mengantarku menemui daddy dan mommy. Aku akan sangat berterima kasih. Aku tidak ingin banyak hal yang kupinta. Aku hanya ingin semua orang terdekatku hidup bahagia." Nadira menghentikan ucapannya. Remasan tangannya semakin menguat.


"Sampaikan juga rasa sayangku pada Kak Nathan, kalau sampai kapan pun aku akan tetap mencintainya," ucap Nadira lirih.


Nathan merasakan darahnya berdesir, seolah ada luka menyayat yang mengalir seiring aliran darahnya saat mendengar ucapan Nadira dari perekam suara yang dipasang di kamar itu. Dia bersandar dan mengusap wajahnya.


Rendra yang sedang mengemudi, melirik ke arah Nathan. Dia mendengar semua rekaman itu, karena Nathan sengaja men-loudspeakernya. Rendra kini sangat yakin kalau Nathan dan Nadira saling mencintai, bahkan cinta mereka sangat besar.


"Ndra, percepat laju mobilnya. Jangan sampai istriku terluka sedikit pun," perintah Nathan. Suaranya terdengar serak khas orang menangis. Rendra menuruti apa keinginan Nathan.


Sementara itu di kamar tamu, Nadira masih saja menangis terisak, membuat Felisa menggeram kesal. Dia hampir membunuh Nadira, tapi telepon dari kakaknya yang mengatakan sudah sampai di mansion membuat Felisa mengurungkan niatnya.


"Fel, kenapa kamu tidak membunuhku juga?" tanya Nadira di sela isak tangisnya.


"Sabar, Nona Muda. Kakak saya sudah di sini," sahut Felisa. Dia melipat tangan di dada dengan bibir tersenyum miring.


"Memang siapa kakakmu dan apa hubungannya denganku?" tanya Nadira lagi. Kali ini suaranya sedikit meninggi. Ketika Felisa hendak membuka suara, pintu kamar itu terbuka. Kedua mata Nadira membola dengan sempurna saat melihat dua orang pria berjalan mendekatinya dan Nadira mengenal salah satunya.


"Mang Ujang?"