
Sabuk pengaman masih terpasang erat 'kan gaes?
Perjalanan kembali dimulai 😅
Jangan lupa dukungan kalian biar Othor makin semangat nulis.
_________________________________________
Nadira membuka kedua matanya, dia menatap Rendra dan Cacha secara bergantian. Nadira bisa melihat kekhawatiran dari raut wajah kedua orang itu. Nadira pun berusaha mengingat apa yang terjadi padanya.
"Kamu sudah sadar, Nad?" tanya Cacha.
"Cha ... apa yang terjadi?" Nadira memijat pelipis untuk mengurangi rasa pusing yang menderanya. "Daddy! Mommy!" Belum sempat Cacha menjawab, Nadira sudah histeris saat teringat kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
Nadira bergegas turun dari brankar, tapi sebelum kakinya berpijak, dia sudah merasakan nyeri yang sangat hebat. Dia menunduk dan melihat kakinya sudah terbalut perban elastis.
"Nad, jangan terlalu banyak bergerak dulu. Tulang kakimu patah." Cacha memegang lengan Nadira.
"Cha, aku mau ketemu mommy dan dadddy," kata Nadira diiringi isak tangis.
"Ya, kita akan pulang sekarang, tapi kamu harus tenang dulu." Cacha berusaha menenangkan, meski dia sendiri masih merasa begitu hancur.
"Aku ambilkan kursi roda dulu," kata Rendra. Namun, ketika Rendra hendak mencapai pintu, Nathan masuk bersama Jasmin.
Raut wajah Nathan terlihat sangat khawatir. "Kamu baik-baik saja?" tanya Nathan, tapi Nadira langsung memalingkan wajahnya begitu saja. Dia sama sekali tidak menatap lelaki di depannya, bahkan berusaha keras menghindari.
"Cha, aku mau pulang sekarang," pinta Nadira. Dia menggoyangkan lengan Cacha dan menatap penuh memohon.
"Baiklah. Ayo aku akan menuntunmu." Cacha menuntun Nadira. Namun, baru dua langkah berjalan, kaki Nadira yang tak mampu menopang berat tubuhnya hampir saja terjatuh jika saja Nathan tidak menahannya.
"Hati-hati," ucap Nathan dengan lembut. Nadira menatap tangan Nathan di lengannya, tiba-tiba hatinya terasa mencelos sakit.
"Lepaskan aku dan jangan pernah menyentuhku." Suara Nadira begitu datar. Dengan berat hati, Nathan melepaskan cekalan tangan itu.
"Aku bisa membantumu! Jangan meminta lelaki lain," kata Nathan dengan ketus. Nadira menunggingkan senyumnya.
Nathan menatap wajah Nadira yang sudah penuh dengan jejak airmata. "Jika kamu tidak bersentuhan dengan sembarang wanita, maka aku juga tidak akan meminta bantuan dengan sembarang lelaki!" kata Nadira penuh penekanan.
"Aku suamimu, bukan lelaki sembarangan!" Suara Nathan mulai meninggi.
"Aku sampai lupa kalau kamu suamiku." Nadira tersenyum miring. "Seorang lelaki yang sudah disebut sebagai suami, justru bersikap dingin dengan istrinya dan bersikap begitu manis dengan wanita lain, kamu pikir suami macam apa itu! Pantaskah seorang suami lebih mementingkan wanita lain daripada istrinya sendiri!"
"Nona, tolong maafkan aku. Kak Nathan tidak bersalah. Jujur, aku tidak bisa berenang," ucap Jasmin menyela. Nadira tergelak keras melihat Jasmin yang menunduk. Namun mereka bisa menangkap tawa Nadira bukanlah tawa bahagia melainkan gelakan tawa yang menyiratkan luka.
Nadira menyeka airmata semakin deras mengalir dari sudut matanya. "Nona Jasmin, jangan berlagak seolah kamu yang menjadi korban di sini. Kalau memang kamu tidak bisa berenang kenapa kamu menarikku masuk ke kolam?" tanya Nadira menuntut jawaban.
"Maafkan aku, Nona. Itu karena ...."
"Sudahlah. Aku tidak butuh apa pun alasanmu. Bukankah kamu memintaku untuk melepaskan Kak Nathan? Kamu tenang saja, setelah ini aku akan benar-benar bercerai dari Kak Nathan," kata Nadira tegas.
"Aku tidak akan pernah melepaskan atau menceraikanmu!" sanggah Nathan.
"Aku tidak peduli! Aku tetap akan melayangkan gugatan cerai untukmu. Bukankah sekarang daddy dan mommy sudah tidak ada? Mereka tidak pernah tahu betapa aku hidup tersiksa denganmu!" bentak Nadira tak kuasa menahan tangis. "Mas Rendra, bantu aku."
Rendra pun mengangguk. Dia menggendong Nadira di punggungnya dan keluar ruangan begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Nathan menatap nanar ke arah mereka berdua.
"Kak Nathan, Kak Jasmin. Lebih baik kalian segera mengungkap semuanya. Sebelum kesalahpahaman ini semakin larut. Aku tahu kalian mencoba melindungi Nadira, tapi sikap kalian sudah sangat keterlaluan. Aku pun akan sangat terluka jika berada di posisi Nadira." Cacha mengusap airmata yang mengalir tanpa sadar.
"Cha ...." Nathan menatap memelas pada adiknya.
"Kak, biarkan Nadira menenangkan dirinya. Kakak tenang saja, aku akan selalu di sampingnya. Lebih baik sekarang kita pulang sekarang juga. Kakak bisa mengikut di belakang." Suara Cacha terdengar pelan, tidak penuh emosi seperti saat berada di kolam. Nathan pun hanya mengangguk mengiyakan.
Cacha lalu pergi dari sana, menyusul Nadira dan Rendra yang sudah berada di mobil. Ketika Cacha sudah duduk di kursi penumpang bersama Nadira. Rendra segera melajukan mobil itu dengan cukup kencang.