
Yosie masih bergeming pada posisinya, dia menatap Clara yang masih mengusap air mata yang mengalir deras. Dia hendak maju, tetapi Clara justru mengambil pisau di atas meja yang entah sejak kapan sudah berada di sana.
"Cla, beri aku waktu," pinta Yosie memelas.
"Kuberi waktu seminggu. Kalau kamu tetap tidak mau bertanggung jawab, maka biarkan aku pergi membawa anak kita! Aku tidak sudi anakku memiliki papa tidak bertanggung jawab! Pergi dari sini!" usir Clara.
Tangan Yosie terkepal erat. Dia tidak menyangka kalau Clara akan seberani itu kepadanya. Namun, dia memilih berbalik dan pergi dari apartemen itu, membawa amarah yang terasa begitu membuncah. Selepas kepergian Yosie, tubuh Clara luruh ke lantai dan dia terisak keras. Sungguh, dia merasa sangat menyesal, tetapi semua sudah terjadi dan anak yang saat ini sedang dikandung, tidaklah bersalah.
Clara mengusap air mata dengan kasar, lalu memakai pakaiannya. Dia ingin jalan-jalan supaya pikirannya sedikit merasa lebih baik, dan dia berencana akan mengundurkan diri dari perusahaan Anderson.
***
Yosie menepikan mobil di tepi jalan, rasanya dia benar-benar dipenuhi amarah karena ucapan Clara. Tangan yang mencengkeram setir kemudi kini semakin menguat. Bahkan giginya sampai bergemerutuk. Baru kali ini ada wanita yang berani padanya bahkan berbicara selancang itu. Yosie mengambil ponsel untuk menghubungi salah satu anak buahnya dan memberi sebuah perintah untuknya.
Setelah itu, dia melajukan mobilnya kembali menuju ke rumah. Dia harus berusaha keras merayu Fey supaya bersedia menerima kehadiran Clara dan bayinya. Kalaupun nanti Fey tetap menolak maka dia terpaksa memutuskan hubungannya dengan wanita itu.
Sementara itu, di mansion Anderson, Mike sedang tiduran bersama Cacha di kamar luas milik Mike yang sudah disediakan oleh Richard. Sedari tadi, Cacha terus saja bergelanjut manja kepada suaminya. Senyum Mike pun tak pernah memudar, dia merasa sangat bahagia saat istrinya berani bersikap semanja ini padanya.
"Mike, apa kakek dan nenek menerimaku dengan baik?" tanya Cacha ragu.
"Tentu saja. Mereka justru merasa sangat senang bisa bertemu dan memiliki cucu menantu sepertimu." Mike menjawab lembut sembari mengecup puncak kepala istrinya.
"Syukurlah, aku takut mereka menolak karena kita sudah berbeda derajat." Cacha berbicara lesu.
"Tidak ada perbedaan derajat, kita semua sama. Bukankah dulu kamu tetap menerimaku padahal aku hanyalah anak buah ayahmu?" tanya Mike disertai senyum simpul.
"Ya, dan aku tidak menyangka kalau aku ternyata menikahi orang kaya raya yang kekayaannya justru melebihi milik keluargaku. Aku merasa seperti mendapat jackpot." Cacha tergelak, Mike pun dengan gemas mendaratkan banyak ciuman di wajah wanita itu.
"Besok pagi aku akan ke kantor bersama kakek dan nenek, jadi kamu di rumah saja ya." Mike mengusap pipi Cacha dengan sangat lembut.
"Aku di rumah sendirian?" tanya Cacha merengek.
"Tidak, nanti aku suruh kepala pelayan di sini untuk menemanimu. Tenang saja, dia orangnya baik kok," sahut Mike. Cacha hanya mengangguk, lalu memejamkan mata.
"Selamat tidur, Neng." Mike ikut memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang juga sudah sangat lelah.
***
Pagi hari, Mike sudah bersiap untuk ke kantor bersama Richard dan Elie yang ikut bersama mereka. Cacha merasa begitu kagum dengan suaminya saat melihat lelaki itu memakai jas rapi. Bahkan, dengan antusias Cacha memakaikan dasi di kerah kemeja lelaki itu.
"Kamu sangat tampan dengan memakai jas seperti ini, Mike. Selamat pagi, Bapak Presiden Direktur Anderson Group," kelakar Cacha diiringin gelakan tawa. Mike pun ikut tergelak lalu mendaratkan banyak ciuman di wajah istrinya karena gemas.
"Sudah, Mike. Mereka pasti sudah menunggumu." Cacha menghentikan gerakan Mike yang terus saja menciumnya.
"Kalau saja aku tidak ke kantor, sudah pasti aku akan mengajakmu bermain, Neng." Mike kembali mencium kening Cacha sebelum mengajaknya untuk turun karena sudah ditunggu.
Saat sudah berada di lantai bawah, ternyata mereka benar-benar sudah ditunggu. Mike pun segera berangkat bersama mereka sedangkan Cacha tetap tinggal di rumah bersama Lin, kepala pelayan di mansion Anderson. Walaupun di dalam mansion, Mike mengerahkan anak buahnya untuk menyamar menjadi pelayan dan bertugas mengawasi istrinya.
Selama dalam perjalanan menuju ke kantor, Mike hanya diam dan menjawab singkat saat diberi pertanyaan. Entah mengapa, dia merasa begitu gelisah. Hatinya merasa sangat cemas dan khawatir.
"Kenapa kamu begitu gelisah, Mike?" tanya Richard yang duduk di kursi belakang bersama Elie, sedangkan Mike duduk di depan bersama sopir. Sementara Yosie mengendarai mobil sendiri.
"Entah, Kek. Aku terus saja kepikiran Cacha." Mike bersandar di jok mobil, dan menatap keluar jendela.
"Kamu terlalu cinta sama Cacha, meninggalkan dia sebentar saja kamu sudah gelisah." Richard terkekeh, sedangkan Mike hanya mendengkus kasar.
"Ish! Memangnya Kakek dulu juga tidak merasa seperti ini waktu muda?" tanya Mike penasaran.
"Tentu saja. Kakekmu tidak beda jauh dengan kamu sekarang. Pergi sebentar saja sudah langsung kembali atau telepon. Takut aku akan kencan dengan pria lain," adu Elie. Richard semakin terkekeh dan mencium pipi istrinya yang sudah banyak keriputan.
"Itu Karena aku sangat mencintaimu, El." Richard masih terus mencium pipi Elie dengan lembut.
"Sudah, malu pada cucumu. Sudah bukan waktunya kita bermesraan di depan orang lain." Elie menghentikan gerakan Richard yang terus saja terkekeh. Mike yang melihat itu pun merasa sangat bahagia. Dia berharap semoga saja hubungannya dengan Cacha akan selanggeng dan semesra mereka meski sudah menua.
Mobil itu berhenti di depan pintu utama Anderson Group, dan mobil Yosie berhenti di belakangnya. Di saat mereka turun, seluruh karyawan kantor memperhatikan mereka. Bahkan ada beberapa karyawan yang begitu terpesona dengan ketampanan Mike.
Richard mengajak masuk ke ruangan terlebih dahulu karena seluruh karyawan akan berkumpul di aula satu jam lagi. Ketika melihat atasannya hendak masuk ke ruangan, Clara yang berada di samping pintu masuk pun segera beranjak bangkit dan menunduk hormat.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya."
"Selamat pagi, Cla. Kenapa wajahmu pucat, apa kamu sedang sakit?" tanya Richard saat melihat wajah Clara yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Saya sedang tidak enak badan, Tuan." Clara menjawab sopan. Yosie menatap lekat wanita itu, sedangkan Mike justru tersenyum sinis.
"Kalau kamu sakit, lebih baik istirahat dulu, Cla. Biarkan pekerjaanmu dihandel Frans," kata Richard. Clara hanya mengangguk mengiyakan.
Mereka segera masuk ke ruangan, tetapi Yosie berhenti sejenak di depan Clara. "Pulanglah. Kamu perlu banyak istirahat," ucap lelaki itu sebelum ikut menyusul masuk ke ruangan. Clara hanya menatap punggung ayah dari bayi yang dikandungnya dengan tatapan nanar.