Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
142


Cacha terdiam mendengar ucapan Nathan, rasa bersalah semakin menyelimuti hati gadis tersebut. Dengan kasar, Nathan mendudukkan tubuhnya di atas sofa.


"Bukannya kita tidak peduli padamu, Cha. Kita sengaja memberi waktu padamu untuk menenangkan diri. Kita tahu, kamu butuh waktu untuk sendiri. Biar kamu juga bisa merenung, kalau semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya." Nathan mengusap wajahnya kasar, dia masih begitu khawatir dengan keadaan istrinya saat ini.


"Aku minta maaf, Kak. Aku janji kalau Nadira sudah pulang, aku akan meminta maaf padanya." Cacha masih menunduk dalam.


"Kamu pikir, kata maafmu bisa membuat kita tahu di mana Nadira berada?" ketus Nathan. Dia masih benar-benar marah dengan adiknya.


"Tuan, coba cari di makam. Siapa tahu Nyonya muda sedang menjenguk makam Tuan dan Nyonya besar," ucap Arum. Seketika Nathan beranjak bangun, kenapa dia tidak sampai berpikir sampai sana.


"Aku baru ingat kalau semalam istriku mengigau nama daddy dan mommy. Aku coba ke sana." Nathan berjalan keluar dengan terburu.


"Kak Nathan aku ikut!" teriak Cacha berusaha mengejar langkah kakaknya.


"Kamu yakin tidak akan menyakiti hati istriku lagi kalau kamu ikut?" tanya Nathan penuh selidik.


Cacha menggeleng cepat, "Tidak, Kak. Aku akan meminta maaf kepada Nadira." Suara Cacha terdengar lirih.


"Ayo! Kita harus bergegas!" Nathan pun melajukan mobilnya menuju ke pemakaman. Selama dalam perjalanan, lelaki tersebut tak henti berdoa semoga istrinya memang berada di sana.


***


Nathan memarkirkan secara sembarang mobilnya di area makam, lalu berlari masuk ke pemakaman dan berjalan cepat menuju ke area pemakaman milik keluarga Alexander.


Langkah lelaki itu terhenti saat melihat istrinya sedang duduk meringkuk di antara makam kedua orang tuanya, bahkan masih terdengar isak tangisnya. Nathan meremas dadanya kuat saat melihat istrinya, begitu juga dengan Cacha, yang begitu tidak tega.


"Sayang," panggil Nathan parau. Dia berdiri tepat di depan Nadira.


Merasa terpanggil, Nadira mendongak dan begitu terkejut melihat suaminya sudah berdiri di depannya. Nathan merasa begitu sakit saat melihat wajah cantik istrinya yang sudah penuh dengan air mata.


"Kak Nathan," panggil Nadira lemah. Nathan berjongkok di depan Nadira lalu memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat.


"Maafkan aku," ucap Nathan lirih. Tanpa sadar, air mata Nadira yang hampir berhenti kini kembali mengalir deras.


"Kalau kamu merindukan daddy dan mommy, bilang padaku. Jangan pergi sendiri. Kamu membuatku khawatir, Sayang." Nathan bicara dengan lembut, tangannya mengusap rambut belakang Nadira penuh kasih sayang.


"Aku kangen daddy dan mommy, Kak." Nadira bicara dengan lirih.


"Ya, aku tahu. Jangan menangis, nanti mereka akan ikut menangis kalau melihat putri kesayangannya mengeluarkan air mata seperti ini. Aku takut, dipecat jadi anak mantu," celetuk Nathan, dengan gemas Nadira memukul dada bidang suaminya.


"Ayo kita pulang sekarang. Sepertinya kamu sudah terlalu lama di sini. Jangan sampai kamu kembali demam." Nathan melerai pelukannya, lalu menangkup kedua pipi istrinya dan mengusapkan ibu jari di sana untuk menghapus air mata yang masih mengalir.


Tiba-tiba, wajah Nadira mendadak pias saat melihat Cacha berdiri di belakang Nathan dan sedang menatap penuh ke arahnya. Nadira memalingkan wajah, dan berusaha bangkit berdiri dengan dibantu Nathan.


"Nad, aku minta maaf." Cacha menunduk saat Nadira sudah berdiri di depannya, tapi masih dengan memalingkan wajah.


"Aku sangat salah padamu, Nad. Aku sudah sangat keterlaluan bicara seperti tadi padamu. Aku sudah sangat melukai hatimu, dan aku menyesal, Nad. Aku minta maaf." Cacha menangkup kedua tangan di depan dada.


Nadira tidak menjawab, hanya berjalan melewati gadis itu begitu saja. Nathan pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu, istrinya pasti masih sangat terluka dengan ucapan Cacha.


Cacha hanya terpaku di tempatnya saat ini. Rasa salah semakin menyergapi hatinya saat melihat makam Davin dan Aluna. Dia benar-benar menyesal, seharusnya dia bisa bersyukur karena masih memiliki orang tua yang masih berada di sampingnya. Memberi perhatian padanya.


Tidak seperti Nadira, yang hanya bisa menangis dan memeluk batu nisan saat merindukan kedua orang tuanya. "Seharusnya aku tidak bicara sekasar itu pada Nadira. Tuan Davin, Aunty Aluna. Maafkan, Cacha."


Tanpa sadar, air mata Cacha mengalir dari kedua sudut matanya. Dia berusaha keras mengusap, tapi tetap saja cairan bening itu mengalir tanpa ampun.


Tiba-tiba, tubuh Cacha menegang saat seseorang memeluknya dari belakang. Tidak perlu berbalik, Cacha tahu siapa yang sedang memeluknya saat ini. Dengan segera, Cacha memegang dua tangan yang melingkar di perutnya. Bahkan rasa nyeri di bahu karena eratnya pelukan itu, ia hiraukan begitu saja.


"Ayo kita pulang," ajak Nadira dengan lembut.


"Kamu tidak marah lagi denganku?" tanya Cacha ragu.


"Tidak. Aku tidak bisa marah denganmu. Aku tahu kamu hanya sedang kecewa dengan keadaan." Nadira membalas dengan senyum ceria.


Cacha melerai pelukan Nadira. Kemudian, dia berbalik dan memeluk erat tubuh Nadira. "Terima kasih, Nad."


"Jangan menangis, Cha. Anak Kambing tidak pantas menangis," seloroh Nadira. Cacha mencebikkan bibirnya kesal.


"Kamu manggil aku Anak Kambing, lihat saja aku aduin kamu ke ayah bunda." Cacha merengek manja.


"Mana mungkin bunda dan ayah marah padaku, kalau mereka mau marah, aku bilang aja. Anak Kambing kalian kan paling cantik," kata Nadira dengan suara yang dibuat-buat.


Cacha melepas pelukan itu lalu bersidekap dengan raut wajah sebal. "Iya, bener! Tapi sayang, cantik-cantik kok Anak Kambing!"


Nadira tergelak keras, apalagi melihat bibir Cacha yang semakin terlihat mengerucut. "Udahlah, yang penting cantik 'kan? Daripada enggak cantik sama sekali."


Cacha tidak menyahut. Hanya berdecak kesal. Nathan yang melihat mereka pun, akhirnya bernapas lega karena adik dan istrinya tidak lagi terlibat perang dunia.


"Kalian tidak mau pulang?" tanya Nathan, mengalihkan perhatian mereka. Nadira dan Cacha menoleh ke arah Nathan yang sedang tersenyum.


"Ayo, Nad. Kita pulang." Cacha menggandeng lengan Nadira untuk keluar dari sana.


"Sebentar, Cha." Nadira melepas tangan Cacha lalu dia berjalan kembali mendekati makam. Kedua tangan Nadira mengusap nisan Davin dan Aluna dengan bibir tersenyum simpul.


"Daddy ... mommy, terima kasih sudah menitipkan Nadira pada keluarga yang sangat sayang dengan Nadira. Membuat Nadira seperti tetap mendapat kasih sayang dari kalian. Bahkan daddy memilihkan suami yang sangat tepat untuk Nadira. Suami yang sangat menyayangi Nadira dan keluarga baru yang melimpahi Nadira dengan penuh kasih sayang. Bahagialah di Syurga dan Nadira akan selalu mendoakan kalian."


Nadira beranjak bangkit lalu pergi dari area makam bersama dengan Nathan dan Cacha.