Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
194


Cacha menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu cantik dewasa dengan memakai setelan baju kerja. Rambut yang biasa dia kucir, kini dibiarkan tergerai, menutupi leher jenjangnya. Wajahnya yang tidak biasa memakai make up pun kini terpoles bedak dan lainnya. Mike yang sudah bersiap pun, merasa heran dengan penampilan istrinya yang sedikit berbeda.


"Kamu cantik sekali." Mike melingkarkan tangan di perut istrinya. Cacha tidak menoleh, hanya tersenyum menatap pantulan wajah suaminya yang sekarang sedang bermanja di bahunya.


"Bukankah aku selalu cantik, Mike," ucap Cacha. Dengan gemas, Mike mencium pipi istri kecilnya.


"Ya, bagiku hanya kamu satu-satunya wanita yang tercantik," rayu Mike. Wajah Cacha merona merah mendengar gombalan dari suaminya. "Sudahlah, lebih baik kita berangkat sekarang. Jangan sampai ibu presdir terlambat."


Mike melerai pelukannya, dia terkekeh melihat bibir Cacha yang memgerucut. Mike pun beralih merangkul pundak istrinya, lalu mengajaknya sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor.


Seusai sarapan, Cacha merasa begitu heran karena ketika sampai di samping mobil, ada seorang lelaki paruh baya yang begitu asing baginya, sedang berdiri di dekat mobil yang biasa dia bawa ke kantor. Namun, melihat dari pakaian yang dikenakannya, Cacha bisa menebak kalau itu adalah anak buah Mike.


"Dia siapa, Mike?" tanya Cacha saat Mike sudah berdiri di sampingnya.


"Namanya Abas, dia sopir pribadi kamu mulai saat ini," sahut Mike lembut. Kening Cacha terlihat mengerut dengan alis yang mengetat.


"Sopir pribadi?" tanya Cacha bingung.


"Ya. Tiga hari ke depan aku akan pergi ke suatu tempat, dan aku sudah menyuruh Abas untuk selalu menjagamu." Jawaban Mike, semakin membuat kening Cacha mengerut.


"Ke mana?" tanya Cacha menuntut jawaban.


"Akan ku beri tahu kalau urusanku sudah selesai. Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi." Mike mendaratkan ciuman di puncak kepala Cacha. Setelah itu, dia memeluk istrinya itu dengan sangat erat. Sementara Cacha hanya memasang wajah kecewa ketika mendengar suaminya akan pergi selama tiga hari dan berpamitan secara mendadak.


"Berangkatlah. Jangan lupa kabari aku kalau kamu sudah sampai di kantor." Mike mengusap puncak kepala istrinya dengan perlahan. Lelaki itu tersenyum saat melihat wajah Cacha yang cemberut. Sebenarnya, dia pun merasa berat karena harus jauh dengan istri kecilnya, tetapi keluarga besar Anderson menuntut kedatangannya hari ini juga.


"Kamu juga harus jaga diri dengan baik, Mike." Cacha memeluk suaminya sebelum dirinya benar-benar pergi ke kantor.


***


Selama berada di kantor, Cacha terus saja merasa gelisah. Dia selalu kepikiran suaminya karena setelah satu bulan lebih menikah, dirinya belum pernah jauh dari lelaki itu. Cacha pun tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Biasanya, ada Mike yang selalu setia di dekatnya, tetapi sekarang dia merasa begitu hampa.


Cacha mengambil ponsel untuk menghubungi suaminya, tetapi wanita itu merasa begitu heran karena nomor Mike tidak bisa dihubungi sama sekali, bahkan ketika dia mengirim pesan pun, hanya centang satu yang terlihat. Hati Cacha semakin merasa begitu gelisah. Cacha pun beralih menghubungi salah satu anak buah Mike untuk bertanya tentang suaminya.


"Bos Mike tidak bilang ke mana akan pergi, Nona."


Jawaban sama dari beberapa anak buah Mike yang dihubungi Cacha, semakin membuat perasaan Cacha tidak karuan. Kenapa suaminya begitu misterius? Cacha benar-benar kecewa karena ternyata suaminya menyembunyikan sesuatu darinya. Cacha meletakkan ponselnya secara kasar di atas meja. Dia tidak peduli kalaupun ponsel tersebut nantinya rusak karena bertabrakan dengan meja. Yang dia rasakan, saat ini rasa marah, kecewa, sedang bercampur jadi satu dalam hati.


Tiba-tiba, ponsel Cacha berdering, dengan segera wanita itu melihat nama yang tertera di layar, jemari Cacha bermain cepat tatkala melihat nama suaminya tertera di layar ponsel.


"Mike, kamu di mana?" tanya Cacha sedikit membentak, padahal suaminya belum mengucap sepatah kata pun.


"Kamu sudah sampai di kantor?" Mike tidak menjawab, dia justru balik melontarkan pertanyaan. Cacha yang mendengar pun semakin merasa marah. "Neng?" panggil Mike saat tidak ada lagi sahutan.


"Aku mogok bicara! Aku tidak mau berbicara denganmu, Mike!" Cacha bersungut-sungut, tetapi Mike justru terkekeh.


"Bukankah saat ini kamu sedang bicara denganku," sindir lelaki itu, membuat kekesalan di hati Cacha semakin menjadi-jadi.


"Kamu di mana, Mike? Kalau kamu tidak menjawab, aku benar-benar akan menjauh dari kehidupanmu!" Cacha membentak Mike tanpa sadar karena amarah yang mulai menguasai hatinya.


"Baiklah, tapi kamu jangan terkejut ya," ucap Mike lembut. Cacha dia bersuara, hanya berdehem sebagai respon. "Aku akan pulang tiga hari lagi, sekarang aku ada urusan dengan keluarga almarhum papa di Singapura."