Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
95


Bunyi ketukan pulpen terdengar memecah keheningan di ruangan Nathan. Lelaki itu duduk di kursi kebesarannya dengan tangan yang terus mengetuk pulpen itu di atas meja. Tatapan ke arah istrinya yang kini sedang menunduk, terlihat sangat menajam.


"Siapa yang mengizinkanmu mengendarai mobil sendiri?" Suara Nathan terdengar sedikit membentak. Nadira semakin menunduk dengan tangan saling meremas.


"Maafkan aku, Kak." Suara Nadira terdengar lirih bahkan nyaris tak terdengar. Jika dulu dia berani melawan Nathan, tapi tidak sekarang. Keadaannya sudah berbeda. Nathan adalah suami yang harus dia hormati.


"Berapa kecepatanmu mengendarai mobil itu?" tanya Nathan, tapi Nadira tidak menjawab dan hanya semakin menunduk. "Aku tebak, pasti di atas 80km perjam!"


Nadira mendongak, sedikit terkejut karena Nathan bisa menebaknya. Namun, dia langsung tertunduk saat melihat sorot mata suaminya yang menajam.


"Maafkan aku, Kak. Aku tadi buru-buru karena hampir jam makan siang. Lagian, bukan aku yang salah sepenuhnya, tapi pengendara motor itu yang memotong jalan, akhirnya aku terpaksa nge-rem mendadak," sahut Nadira memberi penjelasan.


"Tetap saja kamu salah! Aku tahu kamu mahir mengendarai mobil, tapi bukan dengan ugal-ugalan seperti itu!" Suara Nathan terdengar meninggi.


Mendengar suaminya yang marah, Nadira menjadi begitu kesal. Keningnya sakit terbentur setir dengan kencang. Bukannya khawatir, suaminya justru memarahinya. Dengan bibir mengerucut, Nadira beranjak bangun lalu menatap suaminya dengan tak kalah tajam.


Nathan pun ikut bangkit dari duduknya. "Kamu mau ke mana?" tanyanya.


"Aku mau pulang! Laper! Kak Nathan udah makan siang 'kan? Jadi percuma juga aku datang!" Nadira merajuk, kembali menenteng bekal makanan lalu hendak beranjak pergi.


Dengan gerakan cepat, Nathan menekan remot di sampingnya untuk mengunci pintu itu, Nadira yang melihatnya hanya mendengus kesal, sedangkan Nathan menarik sudut bibirnya. Tersenyum mengejek ke arah istrinya.


"Mau Kak Nathan apa sih?! Kepala ku pusing habis kebentur dan sekarang Kak Nathan ngomel-ngomel seperti emak-emak kompleks!" Nadira protes.


"Kamu harus dihukum karena punya tiga kesalahan," kata Nathan, senyumnya semakin terlihat menyeramkan bagi Nadira.


"Kesalahan apa?! Kak Nathan yang benar saja!" Nadira masih saja emosi. Menghadapi suaminya benar-benar membuat tensi darahnya naik. "Kalau Kak Nathan enggak cinta sama aku tuh bilang, Kak. Bukan begini caranya." Suara Nadira terdengar melirih, bahkan kedua matanya mulai terlihat basah karena dirinya terlalu emosi.


Nathan berjalan mendekati istrinya dengan langkah pelan, sedangkan Nadira hanya bergeming di tempatnya. "Kesalahan pertama, kamu pergi mengendarai mobil tanpa meminta izin suamimu." Nadira semakin menunduk saat suaminya berjalan mendekat, mengikis jarak di antara mereka.


"Kedua, kamu nyetir ugal-ugalan bahkan sangat ceroboh sampai membuat dirimu terluka!" Nadira sedikit mendongak, tatapan mereka bertemu. Namun, yang Nadira tangkap dari tatapan suaminya bukanlah tatapan marah, tapi sorot mata yang penuh kekhawatiran.


Nadira membisu, membiarkan tangan suaminya melingkar di tubuhnya, bahkan lelaki itu sedari tadi menciumi puncak kepalanya.


"Kamu membuatku khawatir, Nad." Suara Nathan mulai terdengar normal, tidak penuh emosi seperti tadi.


"Kak," panggil Nadira.


"Maaf, aku sudah membentakmu. Sudah marah-marah seperti emak-emak komplek padahal aku ini bapak-bapak tampan," celetuk Nathan. Dia mengaduh saat Nadira memukul dadanya dengan cukup kencang.


"Kak Nathan menyebalkan!" Kembali memukul dada suaminya dengan lebih kencang.


"Sakit, Sayang. Kamu benar-benar KDRT!" Nathan pura-pura marah. Bukannya takut, Nadira justru semakin gencar memukul dada bidang itu, meluapkan amarah dan rasa kesal yang barusan menguasai dirinya.


"Kak Nathan menyebalkan! Aku benci, Kak Nathan!" Nadira masih terus saja memukul. Namun, tiba-tiba Nathan melerai pelukannya, lalu mencekal kedua tangan istrinya. Nadira pun langsung terdiam dan takut suaminya akan kembali marah.


"Aku juga mencintaimu, Nad." Nathan langsung meraup bibir ranum istrinya yang terasa begitu manis. Sementara Nadira masih terdiam karena gerakan Nathan yang tiba-tiba. Namun, beberapa detik selanjutnya, dia pun mulai mengimbangi permainan suaminya. Membiarkan lidah suaminya menyapu seluruh rongga mulutnya.


"Kak," des*h Nadira saat tangan kekar suaminya mulai meremas dua bukit kembarnya.


"Kak Nathan!" Kali suara Nadira bukan lagi desah*n, tapi lebih ke memanggil biasa. Nathan tidak menjawab, dan justru mulai menurunkan ciumannya. Sedikit turun dan menjelajahi leher jenjang istrinya.


"Kak Nathan ...."


"Kamu menikmatinya?" tanya Nathan, ia kembali menjelajah leher istrinya.


"Aku lapar." Gerakan Nathan terhenti seketika saat mendengar perkataan istrinya. Lalu tersenyum lebar, menunjukkan rentetan gigi putihnya.


"Maaf, aku lupa, Sayang." Nadira hanya menanggapi dengan bibir yang mencebik kesal.