
Liburan itu terasa begitu menyenangkan. Canda dan tawa menemani kebersamaan itu dan kebahagian terlihat jelas dari wajah-wajah mereka. Namun, tidak dengan Febian. Senyumnya tiba-tiba memudar saat hatinya terasa mencelos sakit. Dia benar-benar merasa begitu frustasi karena masa lalu yang begitu membayanginya.
"Om Bi! Kenapa diem? Temenin Bobby, Om." Bobby menarik lengan Febian sehingga membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya.
"Kemana, Bob?" tanya Febian. Dia akhirnya bangkit berdiri dan mengikuti langkah Bobby.
"Ke sana, Om. Bobby lihat ada anak kecil menangis." Langkah kecil Bobby terasa begitu cepat.
Kening Febian mengerut saat melihat seorang gadis kecil sedang duduk menangis di atas rumput dengan tangan menutup wajah.
"Hey, jangan menangis. Aku sudah datang." Tangisan gadis itu mereda. Dia membuka tangan dan menatap Bobby serta Febian bergantian. Jejak air mata terlihat memenuhi wajah bocah kecil yang berusia sekitar tiga atau empat tahun itu.
"Dia siapa, Bob?" tanya Febian, tetapi Bobby hanya mengendikkan kedua bahunya. Febian pun berjongkok di depan gadis itu dan mengusapkan air matanya.
"Kamu siapa?" tanya Febian dengan lembut.
"Aluna," jawab bocah kecil itu. Jantung Febian berdebar sangat kencang saat mendengar nama gadis tersebut. Namanya sama persis seperti mendiang mommynya.
"Aluna?" tanya Febian memastikan. Namun, gadis itu menggeleng cepat.
"Aluna." Kali ini nada bicaranya sedikit naik. Febian terdiam, berusaha mencerna ucapan gadis itu.
"Aruna?" Febian bertanya lagi, dan bocah kecil itu mengangguk dengan cepat. Febian tersenyum, tetapi saat melihat kedua bola mata bocah itu dengan lekat. Darahnya terasa berdesir hebat. Bola mata yang sama persis seperti milik seseorang.
"Om!" panggilan Bobby kembali menyadarkan Febian.
"Eh! Kamu di sini dengan siapa?" tanya Febian dengan lembut. Belum juga Aruna menjawab, seorang wanita cantik datang terburu dan langsung menyingkirkan tubuh Febian begitu saja.
"Aruna, kenapa kamu pergi begitu saja? Mama sangat cemas, Sayang." Wanita itu memeluk Aruna dengan erat. Febian memundurkan tubuhnya saat mengenali suara itu. Suara yang sangat dia rindukan selama ini.
"Ma, ada tatak emenin Aluna di cini," sahut Aruna dengan nada cadelnya. Kening wanita itu mengerut, lalu berbalik. Namun, tubuhnya langsung menegang saat melihat siapa yang saat ini sedang berdiri di depannya.
"B-Bi." Wanita itu terbata. Kedua bola matanya terlihat basah, begitu juga dengan Febian. Jantung lelaki itu berdebar dengan sangat kencang bahkan sangat tidak terkendali.
"Jas-min." Suara Febian begitu lirih bahkan nyaris tidak terdengar.
Air mata Jasmin tidak bisa lagi ditahan saat mendengar Febian memanggil namanya. Namun, sesaat kemudian wanita itu segera mengangkat tubuh Aruna dan menggendongnya.
"Maaf, sudah merepotkan Anda dan terima kasih sudah menemani putri saya." Jasmin sedikit membungkuk hormat sebelum akhirnya berjalan cepat pergi dari sana. Febian hanya bergeming di tempatnya. Dia masih belum percaya kalau wanita yang selama ini masih terus mengusik pikirannya kembali hadir di dekatnya.
"Om, kenapa senang sekali melamun?" Bobby menarik ujung kaos Febian dengan begitu kesal.
"Ti-tidak." Febian tergagap, matanya masih terus menatap lekat bayangan Jasmin yang sudah tidak lagi terlihat. Mendengar Bobby yang terus saja memanggil, Febian lalu mengajak Bobby kembali.
Kenapa kamu bisa ada di sini? Kenapa kamu langsung pergi begitu saja? Kenapa kamu harus muncul kembali di saat aku masih susah payah menghapus bayangan dan perasaanku padamu?
***
"Kak Bi! Oee! Kenapa mukanya asem gitu? Pusing ngurusin bocil-bocil?" tanya Leona setengah meledek.
"Enggak!" sahut Febian membantah. "Kamu dari mana?" tanya Febian curiga.
"Habis ketemu temen lama, Kak. Tadi ada masalah dikit," sahut Leona santai.
"Temen? Siapa? Emang kamu punya temen di sini?" Febian menatap Leona penuh selidik.
Wajah Leona mendadak begitu gugup. "A-ada, Kak. Dia baru sampai kemarin karena emang sengaja mau datang ke pernikahan aku."
"Baru datang? Memang dia tinggal di mana?"
"Sudahlah, Kak. Enggak usah kepo. Mendingan sekarang kita makan aja. Aku dah laper!" Leona menarik tangan Febian dan mengajaknya pergi karena tidak mau Febian akan bertanya lebih lanjut.
Aku harus membuat rencana dengan Kak Erlando supaya Kak Bi tidak bertemu dia di pesta pernikahanku nanti.
💦💦💦
Thor namanya banyak banget
enggak usah dihapalin karena mereka nantinya akan punya judul sendiri2, wkwkwk
Kita fokus ke kisah Febian yaa setelah itu kisah ini bakalan ending, Ahhh jangan ending Thor ðŸ˜
Othornya ngarep banget digituin.
Thor kenapa Jasmin muncul lagi?
Kenapa ya? Eng Ing Eng, Hayo loh, kepo ya, kepo.
dukungan jangan lupa selalu Othor tunggu gaes
semakin banyak dukungan maka semakin sering pula Othor buat update, wwkkwk
sedikit maksa nih
selamat siang dan selamat beraktivitas.