Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
101


"Auh! Sakit, Sayang." Nathan merintih saat Nadira mencubit perutnya dengan gemas hingga pelukan mereka pun akhirnya terlepas.


"Aku malu, Kak." Wajah Nadira terlihat merona karena sudah menjadi pusat perhatian mereka.


"Kenapa mesti malu? Kita ini 'kan suami istri walau sampai sekarang masih perjaka dan perawan," seloroh Nathan, dengan gelak tawa. Di antara mereka hanya menatap tak percaya, sedangkan Nadira memukuli lengan Nathan dengan sangat kesal.


"Dasar Kaleng Rombeng!" cibir Alvino, tapi Nathan justru menjulurkan lidahnya, mengejek kakak iparnya itu.


"Sudah, kamu tiup lilin dan jangan lupa make a wish dulu," suruh Mila. Nathan pun mengangguk mengiyakan.


Nathan memejamkan mata saat membuat permohonan. Tangannya tidak lepas dari pundak istrinya. Dia berdoa meminta segala yang baik-baik dan yang paling utama adalah rumah tangganya dengan Nadira akan langgeng selamanya dan semoga lekas diberi momongan.


Seusai berdoa, Nathan langsung meniup lilin itu. Memotong kecil lalu menyuapi ke mulut istrinya. Kemudian, mereka menuju ke ruang makan. Ternyata semua sudah direncanakan dengan sangat matang. Banyak sekali makanan yang terhidang di meja makan tersebut.


"Kak Rayhan, sekarang tinggal di sini lagi 'kan?" tanya Nathan.


"Iya, sudah cukup kita di Paris selama setahun," sahut Rayhan. Dia menyuapi sesendok nasi kepada Queen. Sungguh membuat mereka yang melihat menjadi iri.


"Jangan terlalu banyak makan pedas, Sayang. Kamu 'kan dokter kandungan, harusnya kamu tahu itu." Rayhan bicara dengan sedikit ketus. Lelaki itu mengambil kembali sambal di piring istrinya dan menaruh ke piringnya sendiri.


"Aku tahu, Hubby, tapi aku pengen makan sambel." Queen terlihat merajuk. "Boleh ya, Pa." Queen menatap Marvel dengan memelas, tapi Marvel langsung menggeleng cepat.


"Benar kata suamimu," kata Marvel dengan tenang.


"Memangnya kenapa sih, Kak?" tanya Nathan heran. "Kak Queen lagi hamil?" sambungnya.


"Bukan lagi hamil, tapi dia habis keguguran saat denger Tuan Davin dan Aunty Aluna meninggal. Makanya kita enggak bisa pulang." Rayhan menjawab dengan kembali menyuapi Queen.


"Kenapa kalian tidak bilang? Apakah itu yang Kak Rayhan bilang urusan penting yang tidak bisa ditinggal sama sekali?" Suara Nathan terdengar meninggi.


Rayhan mengangguk. "Mana mungkin kita mengatakan di saat kalian sedang berkabung. Aku bilang ke ayah dan papa aja dua hari setelahnya," ucap Rayhan dengan tenang.


"Semoga lekas diberi gantinya ya, Kak." Nadira bicara dengan tulus.


"Semoga kamu juga lekas melepas masa perawan ya, Nad," balas Queen berseloroh. Mereka pun tertawa, sedangkan Nadira langsung menatap suaminya tajam.


"Kak Nathan, sih!" Nadira berdecak kesal.


"Apa, Sayang? 'Kan emang bener. Kamu tenang aja bentar lagi juga kamu enggak perawan lagi." Demi apa pun, Nadira sangat malu dengan suaminya yang seolah sudah terputus urat malunya.


"Nat, kalian jadi bulan madu ke Bali?" tanya Alvino dengan seringai tipis dan Nathan bisa melihat itu.


"Tentu saja, mungkin tiga hari lagi kita akan berangkat," sahut Nathan santai.


"Semoga bulan madu kalian berjalan lancar," kata Alvino.


"Semoga saja, tidak ada pengganggu-pengganggu lagi." Nathan bicara dengan sedikit ketus. "Apa semua ini rencanamu, Al?"


"Jadi kalian ikut andil?" tanya Nathan. Mila dan Johan tidak menjawab dan hanya makan dengan tenang. "Akting kalian benar-benar bagus."


"Tentu saja, Bunda hebat 'kan?" Mila menaik turunkan alisnya. Nathan mendecakkan lidah karena kesal. Namun, jauh di lubuk hati, dia merasa begitu bahagia dengan kejutan dari mereka meski sebelumnya dia dibuat kalang kabut.


***


Di dalam kamar, Nathan dan Nadira tidur saling berpelukan. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi mata mereka masih terbuka lebar.


"Kak, selamat ulang tahun ya. Maaf aku enggak bisa ngasih kado apa-apa. Aku juga lupa dan enggak sempet nyari," kata Nadira lirih. Jujur, Nadira merasa tidak enak hati kepada suaminya.


"Tidak apa, Sayang. Bagiku kamulah kado terindah yang aku dapatkan sekarang. Memilikimu adalah kebahagiaan yang paling sempurna." Wajah Nadira merona merah mendengar gombalan suaminya. "Satu lagi, Sayang."


"Apa?" Alis Nadira terlihat saling bertautan.


"Aku sudah tidak sabar ingin segera bercinta denganmu," bisik Nathan tepat di telinga Nadira. Dengan kencang, Nadira memukul dada bidang suaminya.


"Kamu menyebalkan, Kak!"


"Aku tahu, kalau aku tampan, Sayang. Kamu tidak perlu memujiku." Nadira memutar bola matanya malas mendengar ucapan suaminya. "Panggil aku Mas."


Nadira menggeleng cepat. "Aku belum terbiasa, Kak."


"Makanya dibiasakan. Kalau kamu enggak mau maka aku bakal nikah lagi dengan wanita yang mau memanggilku dengan mesra," celetuk Nathan. Nadira langsung marah. Dia berbalik membelakangi suaminya.


"Sana!" seru Nadira.


"Baiklah, aku ambil ponsel dulu buat telepon calon maduku." Nathan bicara dengan tenang. Membuat kekesalan di hati Nadira semakin menjadi-jadi.


"Sana kalau Kak Nathan mau ...." Nadira terdiam saat berbalik, wajahnya sudah langsung menyentuh wajah suaminya. Bahkan, dengan lembut Nathan langsung ******* bibirnya.


"Aku bercanda, Sayang. Aku mencintaimu dan tidak ada wanita yang lain lagi. Cuma kamu, dan hanya kamu satu-satunya pemilik hatiku."


Kedua mata Nadira terlihat basah, dia sangat terharu. Apalagi saat melihat sorot mata Nathan yang menatapnya penuh cinta. Menciptakan kebahagiaan yang sangat luar biasa untuknya.


"Sudah, jangan seperti ini. Aku takut tidak tahan ingin menerkammu. Hari ini aku lelah sudah mencarimu kemana-mana. Jadi, aku mau libur dulu main sama Tante Citra." Nathan menarik tubuh Nadira agar semakin mendekat. Tidak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tertidur lelap.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Ciee yang masih nungguin Malam Pertama si Kaleng Rombeng.


Selamata pagi dan selamat beraktivitas gaes


Jangan lupa dukungan kalian buat Othor Kalem paling Fenomenal ini πŸ˜