
Sabrina masih berusaha memperjelas pandangannya kalau yang berdiri di sampingnya saat ini memang benar ayahnya yang selama ini selalu dia cari. Ketika lelaki berwajah dekil dengan baju kumal tersebut kembali menatap padanya, emosi Sabrina terasa begitu menggebu. Dia meronta, berusaha keras melepas ikatan yang justru semakin menyakiti pergelangan tangannya.
"Bajing*n!" umpat Sabrina. Mike tersenyum saat melihat wajah Sabrina merah padam dengan mata mendelik tajam.
"Lepaskan aku, Tuan! Aku mohon. Aku ingin membunuh lelaki itu!" seru Sabrina, tetapi Mike dan anak buahnya tetap bergeming pada tempatnya.
"Maafkan bapak, Sa." Lelaki itu berkata dengan lirih.
"Bagaimana kamu bisa menemukan bapakku?" tanya Sabrina, menatap Mike dengan sangat lekat. Dia tidak menyahut perkataan ayahnya.
"Kamu tidak perlu tahu! Aku hanya ingin memberi kejutan, dan bersiaplah karena setelah ini, kamu akan menyusul orang yang kamu cintai," ucap Mike. Raut wajah lelaki itu tampak terlihat tenang.
"Ma-maksud kamu?" tanya Sabrina gugup.
"Bukankah kamu sangat mencintai James? Bersiaplah setelah ini kamu akan menikmati hangatnya jeruji besi seperti James."
"Kamu tidak akan bisa memasukkan aku ke penjara!" bantah Sabrina. Dia menatap Mike dengan tajam, tetapi Mike justru menyeringai tipis.
"Kamu yakin aku tidak bisa?" Mike membalas tatapan Sabrina dengan tatapan meledek. Sabrina menelan ludahnya kasar. "Bawa dia ke kantor polisi! Penjarakan dia selama mungkin. Katakan saja semua kejahatan yang sudah kalian dapatkan!"
Anak buah Mike mengangguk paham, mereka melepas ikatan Sabrina lalu membawa pergi dari gudang itu. Sabrina berusaha melepaskan diri, tetapi dia kalah tenaga. Akhirnya, gadis itu hanya bisa pasrah, dan ketika mereka melewati tempat lelaki kumal itu berdiri, tatapan Sabrina terlihat begitu penuh benci.
Selepas kepergian Sabrina, Mike beralih menatap lelaki paruh baya yang berhasil ditemukan anak buah Mike sedang tinggal di bawah jembatan layang. Semua bukanlah hal sulit untuk Mike. Selama menjadi anak buah Johan, Mike juga akhirnya merekrut banyak anak buah yang sangat setia padanya dan tersebar di berbagai wilayah, bahkan beberapa dari mereka sangat ahli dalam bidang IT.
"Kamu puas sudah bisa melihat putrimu?" tanya Mike.
"Tolong lepaskan putri saya, Tuan." Lelaki itu menunduk hormat.
"Aku tidak akan pernah melakukannya. Dia harus menerima akibat dari ucapannya yang sudah menghina istriku!" ucap Mike tegas.
"Tapi saya mohon jangan pernah sakiti putri saya. Saya menyesal sudah pernah membuat dia terpuruk sampai sekarang menjadi seperti ini," ucap lelaki itu parau.
"Aku tidak akan pernah menyakiti putrimu selama putrimu juga tidak menyakiti istriku. Biar putrimu mendekam di penjara dan menyesali perbuatannya, dan aku akan menawarkan pekerjaan untukmu."
Lelaki kumal itu mendongak dan menatap Mike dengan penuh heran. Mike tetap bersikap begitu tenang. "Pekerjaan apa, Tuan?"
"Tapi kamu harus berjanji satu hal, kalau kamu tidak akan pernah menjadi pengkhianat karena siapa pun yang berani mengkhianatiku maka aku tidak akan segan-segan memotong lidahnya!"
Tubuh lelaki itu meringsut mendengar ucapan Mike yang terdengar begitu tegas. Namun, pada akhirnya lelaki itu mengangguk lemah dan bersedia menerima tawaran dari Mike serta berjanji tidak akan mengkhianatinya. Mike pun tersenyum puas, dan memberi perintah apa saja yang harus dilakukan pria tersebut.
***
Mike baru saja memarkirkan mobilnya di garasi. Tubuhnya merasa begitu lelah karena harus menempuh perjalanan cukup jauh dan juga bolak-balik. Baru saja turun dari mobil, Mike sudah disambut istrinya yang berlari kencang dan langsung memeluknya erat.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Mike, dia menatap jam dinding yang sudah menunjuk angka sepuluh.
"Aku tidak bisa tidur tanpamu, Mike." Cacha menjawab dengan begitu manja. Mike yang merasa gemas pun, akhirnya tak kuasa untuk tidak mencium bibir tipis istrinya.
"Kalau begitu sekarang kita harus tidur. Ingat, besok pagi ibu presdir harus kembali bekerja." Mike membopong Cacha yang langsung melingkarkan tangan di leher suaminya.
"Sudah. Aku kan sudah bilang kalau itu bukan masalah yang serius." Cacha tidak lagi menyahut ucapan Mike. Dia hanya membenamkan wajah di dada bidang suaminya yang terasa begitu nyaman.
Ketika sudah sampai di kamar, Mike segera menidurkan istrinya di atas kasur, lalu dia juga ikut merebahkan tubuhnya di samping Cacha. Semua tulang lelaki itu terasa begitu kaku. Tangan Mike melingkar, memasukkan tubuh mungil Cacha masuk dalam dekapannya dan tak lupa dia membenamkan ciuman di puncak kepala wanita itu.
"Tidurlah. Ini sudah malam, begadang tidak baik untuk kesehatan." Mike berbicara dengan sangat lembut. Cacha hanya mengangguk lemah. Namun, baru saja memejamkan mata, terdengar perut Cacha yang berbunyi memecah keheningan di antara mereka. Mata Mike sontak terbuka lebar.
"Kamu belum makan?" tanya Mike, melerai pelukannya dan menatap Cacha yang masih saja memejamkan mata.
"Jangan berpura-pura tidur." Mendengar suara Mike yang meninggi, Cacha pun membuka mata dan tersenyum takut ke arah suaminya. Melihat senyum istrinya tersebut, Mike pun menghela napas panjangnya.
"Aku menunggumu, Mike. Aku ingin makan malam denganmu." Cacha berbicara dengan lirih.
"Makanlah kalau kamu lapar. Tidak perlu menungguku. Jangan sampai kamu sakit." Mike menangkup wajah Cacha, dan menatap wanita itu penuh dengan cinta.
"Baik, Mike."
"Kalau begitu sekarang kita makan. Ayo aku gendong. Aku ingin mengingat masa kecilmu dulu." Mike bangkit duduk, sedangkan Cacha bangkit berdiri dengan sangat antusias. Dia pun segera naik ke punggung Mike.
"Astaga, semoga saja tulangku yang sudah tua ini tidak patah menggendong kamu. Ternyata kamu tidak seringan dulu," seloroh Mike. Dengan kesal Cacha memukul punggung suaminya.
"Dulu aku hanya lima belas kilo, Mike, dan sekarang sudah empat puluh lebih jadi jangan disamakan," cebik Cacha.
"Ya, ya. Aku tahu itu. Sekarang bersiaplah kita akan terbang."
"Aahhh, Mike!" Cacha berteriak saat Mike yang masih menggendongnya berlari menuruni tangga. Tangan Cacha pun semakin memeluk dan berpegangan erat.
"Aku takut jatuh, Mike!" pekik Cacha.
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan pernah membuatmu jatuh kecuali satu ...." Mike menghentikan ucapannya sesaat. "Jatuh cinta padaku!"
Wajah Cacha merona merah saat mendengar gombalan dari suaminya. Dia semakin memeluk erat Mike dan menaruh kepala di ceruk leher suaminya.
Aku juga mencintaimu, Mike.
💦💦💦
Selamat siang gaes
Aih belum pada bosen 'kan?
Thor, kok enggak pakai visual? Aduhh othor bingung nih
Othor memang sengaja enggak pakai visual karena takut merusak imajinasi. So ... Maaf ya, kalian bisa bayangin mereka sesuai keinginan masing-masing nih.
Jangan lupa terus beri dukungan kalian gaes, selamat beraktivitas, semoga kita selalu diberi kesehatan dan dalam lindungan-Nya.