
"Bajing*n!" umpat Herman geram. "Berani-beraninya kamu berkhianat!"
"Tentu saja berani, Tuan! Karena Anda sudah membunuh kekasih saya!" jawab Ujang berteriak. Herman mengerutkan keningnya, dia merasa tidak pernah membunuh siapa pun kecuali seorang gadis yang akan dia perkosa tengah malam.
"Kekasihmu yang mana!" tanya Herman masih terus meronta.
"Yang Anda bunuh tengah malam karena melawan saat Anda akan memperkosa nya." Suara Ujang terdengar parau, bayangan kematian Kinanti dua bulan lalu kembali mengusik pikirannya.
"Jang, aku tidak tahu kalau dia kekasihmu! Lagi pula saat itu aku tidak sengaja melakukannya karena dalam keadaan mabuk!" elak Herman, tetapi Ujang tidak peduli.
"Sengaja atau tidak sengaja, karena Anda saya kehilangan orang yang sangat saya cintai, Tuan! Dan sekarang saya ingin membalas semuanya!" Herman mulai meringsut. Dia tahu bagaimana Ujang saat dalam keadaan emosi, dia bisa membunuh tanpa pikir panjang. Andai saja dia tahu gadis itu kekasih Ujang, mungkin Herman tidak akan pernah membunuhnya.
"Jang, tunggu sebentar lagi. Biar mereka mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Tuan Dharma dan Jasmin masih dalam perjalanan," ucap Alvino yang sedari tadi diam. Dia berusaha meredam emosi Ujang. Dia tidak ingin ada nyawa yang melayang di mansion ini.
Setelah mereka tertangkap, Nathan berjalan mendekati Nadira yang sedari tadi diam ketakutan. Nadira melarang Nathan mendekatinya, tapi lelaki itu tidak peduli dan tetap mendekati istrinya.
"Pergilah, Kak! Fel, kenapa kamu tidak jadi membunuhku?" Nadira menghindari padangan dari Nathan. Dia menatap Felisa yang masih terus meringis karena luka tembak di lengannya.
Tanpa banyak bicara, Nathan langsung merengkuh tubuh Nadira masuk dalam dekap eratnya. Nadira meronta sekuat tenaga, tapi Nathan justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepaskan aku, Kak! Biarkan aku mati! Aku mau menyusul mommy dan daddy!" teriak Nadira meronta sekuat tenaga.
"Saya tidak akan pernah membiarkan Anda pergi, Nona! Sampai mati pun saya akan menjaga Anda!" tandas Nathan. Nadira mulai berhenti meronta, tapi airmatanya masih saja mengalir membasahi seluruh wajahnya.
"Aku benci, Kak Nathan! Aku benci, Kak Nathan!" Nadira memukul dada Nathan diiringi isak tangis yang mengeras.
Mereka yang berada di kamar, hanya menatap mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Nathan tidak menjawab, dia membiarkan Nadira menangis dalam dekapannya. Tanpa sadar, airmata Nathan pun mengalir dari sudut matanya.
"Saya janji, setelah ini saya akan menyayangi Anda, Nona Muda!" Suara Nathan terdengar begitu parau. Nadira kembali memukul dada bidang suaminya.
"Jangan pernah berjanji yang kamu sendiri tidak yakin bisa menepati, Kak." Nathan tidak menjawab, dia hanya mengeratkan pelukannya.
Sementara Cacha hanya terdiam menatap James, kekasihnya yang ternyata melukai hatinya. Dirinya benar-benar tidak menyangka. Sakit? Tentu saja hati Cacha merasa begitu sakit. Dia merasa sudah dikhianati oleh kekasihnya itu.
Nadira memohon kepada Nathan untuk melepaskan pelukannya karena dia ingin ke kamar mandi. Nathan pun menurut, dia membantu Nadira turun dari tempat tidur. Namun, di saat itu pula James menginjak kaki anak buah Johan, hingga cekalannya terlepas. Dengan gerakan cepat dia mengambil pisau dan mengarahkan ke punggung Nathan. Cacha yang melihat itu justru terdiam di tempat karena dia begitu ragu akan menarik pelatuknya. Nadira yang melihat James mengangkat pisau segera memeluk tubuh Nathan dengan erat dan berbalik.
"Cha! Jangan lupa pelatukmu!" bentak Johan saat Cacha hanya diam saja melihat James mengarahkan pisau. Dengan berusaha mengembalikan kesadaran, Cacha segera menembak kedua kaki James hingga lelaki itu mengerang kesakitan dengan tubuh terkulai di lantai.
"Ah!" rintih Nadira bersamaan dengan suara tembakan menggema di kamar itu. Nadira memejamkan kedua matanya saat merasakan pisau itu berhasil menancap di punggungnya.
Nathan belum menyadari jika ada pisau menancap di punggung istrinya. Dia menatap Nadira yang sedari tadi mengernyit.
"Nadira," panggil Nathan dengan lirih.
Nadira tersenyum simpul, senyum yang terlihat begitu cantik bagi Nathan. "Terima kasih tidak lagi memanggilku Nona Muda. Aku mencintaimu, Kak." Sudut mata Nadira mengeluarkan airmata. Dengan lembut dia mencium bibir Nathan, menyalurkan perasaan sayang dan cinta untuk lelaki itu.
Nathan awalnya terdiam, tapi dia lalu tersadar saat merasakan tangannya basah oleh darah yang mengalir."Nad!" panggil Nathan menyadarkan Nadira yang sudah terpejam. "Bangun, Nad! Bangun!" Nathan menepuk pipi Nadira untuk menyadarkannya. Namun, Nadira masih tetap terpejam dengan wajah yang mulai memucat. Airmata Nathan mengalir saat melepas pisau dari punggung istrinya. Dengan cepat dia membopong istrinya menuju ke rumah sakit.
Wajah Nathan terlihat sangat khawatir. Tepat saat hendak masuk ke mobil, Jasmin datang bersama Dharma dan lima anggota kepolisian.
"Kak Nathan, maaf aku terlambat," ucap Jasmin lirih.
"Tidak apa, Jas. Nanti kita bicarakan semuanya. Aku harus segera membawa Nadira ke rumah sakit, dia tertusuk pisau." Jasmin terkejut mendengar jawaban Nathan. Kemudian dia membiarkan Nathan membawa Nadira pergi sebelum terlambat.
"Ndra! Kita harus cepat!" suruh Nathan dengan membentak karena rasa khawatir dan takut yang menyelimuti hatinya. Rendra yang juga sedang cemas pun, berusaha sebisa mungkin melajukan kendaraannya.
"Aku mohon bertahanlah, Nad." Nathan mencium kening Nadira dengan sangat lembut. Bahkan airmata Nathan sampai menetes di atas wajah istrinya itu. Nathan tidak bisa membayangkan seandainya Nadira benar-benar pergi meninggalkannya.
"Ndra! Cepat, Ndra!" perintah Nathan lagi dengan bentakan yang lebih keras.
___________________________________
Wah, 3 bab sudah mendarat ya gaess
Ketemu hari jum'at lagi nih.
Othor bawa satu nama yang beruntung sudah setia sama karya Othor dari pertama sampai sekarang ini.
Untuk yang belum dapat, jangan sedih ya gaes
Terus beri dukungan, siapa tahu jum'at depan nama kalian yang Othor pilih.
Selamat pagi semoga hari kalian menyenangkan gaess 😍
Silakan Japri saya ya kak