Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
75


Nathan berdecak kesal saat mobil yang dikendarai anak buah ayahnya, berhenti di Kediaman Saputra. Kemudian, dirinya digiring turun dan dituntun masuk ke dalam rumah di mana Johan dan Mila sudah duduk menunggu di sofa.


"Lepasin!" teriak Nathan, tapi ketiga orang itu tidak peduli.


"Nathan," panggil Mila. Dia bangkit berdiri dan berjalan mendekati putranya.


"Bunda, lihatlah anakmu yang tertampan ini. Aku ini CEO Saputra Group, seorang pengusaha muda yang sudah terkenal," angkuh Nathan, "tapi aku digiring macam maling daleman perawan aja!" cebiknya kesal. Mila melipat bibirnya berusaha menahan tawa.


"Astaga, Nat! Mulutmu ini seperti siapa kalau ngomong?" tanya Mila disela tawanya.


"Tentu saja mirip Bunda. Memang siapa lagi?" Nathan balik bertanya dengan sebal.


"Jonathan Saputra!" panggil Johan tegas. Nathan menatap ayahnya yang terlihat begitu serius, bahkan sorot matanya terlihat penuh amarah, sedangkan Mila langsung menghentikan tawa nya. "Kamu ini benar-benar memalukan!" hardik Johan.


"Emang kenapa, Mas?" tanya Mila bingung karena Johan belum mengatakan yang sebenarnya. Yang dia tahu, Nathan dipaksa pulang karena akan diberi kejutan.


"Anak kesayanganmu itu, mengajak bercinta Nona Muda di toilet restoran." Kedua mata Mila melebar mendengar ucapan Johan. Dia beralih menatap Nathan tidak percaya.


"Kamu malam pertama dengan Nadira di toilet restoran?" tanya Mila memastikan.


"Bun, aku ini belum bercinta. Baru sebatas unyel-unyel doang," sahut Nathan santai.


"Kenapa enggak sekalian bercinta? Emang adik kecilmu enggak gatel?" tanya Mila begitu saja. Johan memijat pelipisnya karena rasa pusing tiap kali mendengar obrolan Mila dan Nathan.


"Gimana mau bercinta, Bun. Baru sekali des*h aja udah ketahuan si Al!" Nathan bicara dengan ketus. Dalam hati dia benar-benar mengumpati kakak iparnya itu.


Mila tergelak keras. "Lagian kamu itu, ngajak bercinta di toilet kenapa enggak di semak-semak sekalian?" ledek Mila. Nathan mendengus kasar.


"Bun ...."


"Mila! Nathan!" bentak Johan. Mereka berdua langsung terdiam seketika. "Kalian bertiga bawa Nathan untuk berganti pakaian. Sebentar lagi acara pernikahan akan segera dimulai!" titah Johan dengan tegas. Ketiga lelaki itu mengangguk.


"Pernikahan siapa, Yah?" tanya Nathan heran.


"Pernikahan kamu, memang siapa lagi?" sahut Johan dengan ketus. Kening Nathan terlihat mengerut.


"Yah, 'kan Nadira masih di Jogja," ucap Nathan lesu.


"What!" pekik Nathan hingga suaranya menggema di ruangan itu. "Ayah yang benar saja!" bentak Nathan tanpa sadar. Namun, tubuh Nathan langsung meringsut takut saat melihat sorot tajam ayahnya yang hendak melahap habis dirinya.


"Kamu sudah keterlaluan, Nat. Lagi pula, bukankah sebentar lagi kalian akan berpisah? Kamu sudah terlalu menyakiti Nona Muda," kata Johan dengan santai.


"Yah, Nathan enggak mau pisah sama Nadira," ucap Nathan. Suaranya terdengar parau karena menahan tangis. Dia menatap penuh memelas ke arah Johan dan Mila bergantian.


"Ayo, Mil. Kita harus bersiap-siap menyambut anak menantu kita." Johan mengajak Mila pergi dari sana. "Kalian bertiga harus menjaga Nathan jangan sampai kabur, kalau bocah nakal ini kabur maka aku tidak akan segan-segan memenggal kepala kalian bertiga!" ancam Johan.


"Baik, Tuan." Ketiga pengawal itu mengangguk paham.


"Ayah! Bunda! Nathan enggak mau pisah sama Nadira!" pekik Nathan, tapi Johan maupun Mila tidak ada yang peduli dan tetap berjalan meninggalkan Nathan bersama pengawal.


"Ayo, Tuan Muda. Kita harus bersiap, satu jam lagi acara akan dimulai," kata salah seorang pengawal.


"Enggak mau!" tolak Nathan tegas.


"Tuan Muda, kami mohon. Jangan sampai Tuan Johan memenggal kepala kita bertiga," timpal yang lainnya.


"Biarin aja!" geram Nathan, tapi ketiga pengawal itu tidak peduli dan tetap memaksa Nathan untuk ikut bersama mereka.


"Ayah kejam! Aku putranya yang tertampan harus menyandang gelar duda tapi perjaka," gerutu Nathan sambil menghentakkan kaki.


"Tuan Muda, karena itulah Tuan Johan menikahkan Anda sebelum berpisah dengan Nona Muda agar tidak menyandang status duda," ledek pengawal dengan berusaha menahan tawa.


"Diamlah!" bentak Nathan. Mereka bertiga pun diam dan memaksa Nathan masuk ke mobil. "Bunda, tolonglah anakmu yang paling tampan ini. Heh botak!" panggil Nathan kepada salah satu pengawal yang sudah duduk di balik setir kemudi.


"Saya, Tuan?" tanyanya. Nathan mencebik kesal.


"Iyalah, memang yang botak selain kamu siapa lagi?" kata Nathan ketus. "Menurut kamu, aku dan Kak Rayhan lebih tampan mana? Jujur!" tanya Nathan memaksa.


"Tentu saja lebih tampan Tuan Rayhan. Lebih gagah juga," sahutnya santai.


Nathan menatap tajam dengan gigi yang sudah bergemerutuk. "Kamu ....!"


"Saya botak, Tuan. Saya juga bicara jujur," sahutnya masih tenang. Dia lalu menginjak pedal gas, sedangkan Nathan memukulkan tangan yang terikat ke keningnya karena merasa begitu geram.