Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
297


Suasana di ruangan itu mendadak senyap karena Ana maupun Nadira merasa tidak enak hati. Sementara Rania menjadi begitu canggung.


"Kamu ingin mengendong Aksa?" tanya Febian menawari untuk mencairkan suasana. Dengan wajah berbinar, Ara menggendong bocah kecil itu karena dia memang sangat menyukai anak-anak.


"Om Bi." Patricia mendekati Febian dan meminta duduk di atas pangkuan lelaki itu.


"Patrick! Mama kamu mana?" tanya Febian meledek. Patricia bersidekap dengan bibir mengerucut.


"Jangan panggil aku Patrick, Om! Atau aku akan menembakmu!" ketus Patricia, bukannya takut Febian justru tergelak keras.


"Kamu masih kecil, tapi kenapa kamu sudah berani mengancam seperti itu?" Febian mencium pipi Patricia. Namun, langsung diusap lagi oleh bocah itu.


"Jangan menciumku, Om! Papa bilang hanya Papa, Mama, Oma, sama Opa yang boleh cium aku!" Patricia berkata dengan tegas.


"Papamu benar-benar sangat pintar mendidikmu. Aku yakin kamu akan menjadi gadis yang sangat tangguh." Febian akhirnya hanya mengusap puncak kepala Patricia dengan penuh sayang.


"Bobby! Sini!" panggil Leona. Bobby yang sedang bermain mobil remot pun langsung mendekati Leona, diikuti Jinny di belakang.


"Kenapa kamu selalu ikut denganku, Kak!" Bobby mendelik ke arah Jinny yang justru melipat kedua tangan di depan dada.


"Memangnya kenapa?" tanya Jinny balik tanpa takut.


"Aku benci kamu!" Bobby kembali mendekati Leona tanpa peduli pada Jinny yang masih mengikuti.


"Sudahlah, kalian jangan bertengkar. Sini Onty pengen gendong kamu," suruh Leona. Bobby segera duduk di pangkuan Leona, tetapi Nadira langsung menyuruh Bobby untuk segera turun.


"Kenapa, Mi?" tanya Bobby heran.


"Ada adik kecil di dalam perut Onty Leona. Jangan sampai kamu menyakitinya," sahut Nadira. Bobby dan Jinny menatap perut Leona dengan lekat.


"Kalian sudah dari tadi?" sapa Nathan dan Alvino yang kebetulan sampai di mansion Alexander bersamaan.


"Sudah. Kak Al, Kak Nathan dari mana?" tanya Febian.


"Habis kerja."


"Habis dari rumah sakit." Jawaban Alvino dan Nathan bersamaan, tetapi berbeda.


"Papi, kata Mami Nadira, Onty Leona punya adik bayi di dalam perut. Apa itu karena sengat lebah bersarung juga?" tanya Jinny polos yang membuat mereka melongo, sedangkan Nathan menelan ludah kasar dan bersiap pasang kuda-kuda untuk segera kabur.


"Kaleng Rombeng! Jangan Kabur!" seru Alvino, Nathan sudah berlari, tetapi langkahnya hanya di tempat karena Alvino berhasil memegang kerah bajunya. "Mau lari ke mana kamu!"


Nathan menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Alvino sembari menunjukkan rentetan gigi putihnya. Dua jari tanda damai berada tepat di depan wajah Alvino, tetapi langsung di tepis oleh lelaki itu.


"Aku 'kan mengatakan dengan perumpamaan saja, Al. Salah siapa anak gadismu sangat cerewet dan terus saja bertanya kenapa perut wanita bisa membesar." Nathan memberi alasan, tetapi Alvino justru menjewer telinga lelaki itu dengan kencang.


"Auu! Auu! Sakit, Al!" teriak Nathan, mengusap telinganya yang telah memerah.


"Rasain!" umpat Alvino kesal. "Bisa sesat kalau putriku sering bersamamu." Alvino mengembuskan napas secara kasar.


"Salah siapa putrimu sangat lengket denganku," timpal Nathan, tetapi lelaki itu langsung berlari mendekati istrinya untuk menghindar dari kakak iparnya.


"Bisakah kalian berdua tidak bertengkar sekali saja?" tanya Nadira kesal.


"Tidak!" sahut Nathan dan Alvino bersamaan. Mereka yang mendengar pun hanya menggeleng tidak percaya, sedangkan Tom Jerry itu hanya saling melempar tatapan tajam.


"Kak, aku mau ke kamar dulu." Febian bangkit berdiri sembari menggandeng tangan Ara. Rania pun mengambil alih Aksara dari gendongan Ara.


"Sudahlah, Kak. Ara itu bukan gadis pemarah dan pecemburu. Dia itu wanita yang sangat berpikiran dewasa." Leona mencoba menenangkan. Alvino dan Nathan yang belum tahu pun hanya mengerutkan keningnya karena bingung.


"Memang kamu bilang apa, sih, Na?" tanya Alvino heran.


"Maaf, Al. Aku keceplosan soal Bi yang dulu memiliki perasaan dengan Rania."


Mendengar jawaban Ana, embusan napas kasar terdengar dari mulut Alvino.


"Semoga saja hubungan mereka baik-baik saja," ucap Alvino. Mereka pun hanya mengamini dan melanjutkan obrolan, sedangkan Leona juga ikut berpamitan untuk berisitirahat.


***


Febian mengunci pintu kamar setelah istrinya masuk. Wajah Ara yang barusan masih terlihat senyum tipis, kini tampak begitu muram. Bahkan, tatapan mata wanita itu begitu sayu, dan Febian tahu apa penyebabnya.


"Sayang, aku minta maaf." Febian duduk di depan Ara yang saat ini sudah berada di tepi tempat tidur.


"Kenapa kamu meminta maaf?" tanya Ara lembut.


"Aku sudah menyakitimu." Febian menghela napas panjangnya, dan menatap Ara dengan sangat lekat.


"Kamu tidak pernah menyakitiku, Mas." Bibir Ara tersenyum sebagai tanda dirinya baik-baik saja.


"Kamu yakin tidak apa-apa setelah tahu aku pernah mencintai Rania?" tanya Febian ragu. Dia takut akan kembali menyinggung perasaan Ara.


"Mas, bukankah aku pernah bilang kalau semua manusia pasti punya masa lalu? Kamu pernah jatuh cinta dengan siapa, pernah menjalin hubungan dengan siapa, itu hanyalah sebuah masa lalu," ucap Ara.


Febian menarik tubuh Ara masuk dalam dekap eratnya, "Aku sangat bahagia bisa mendapatkan istri luar biasa sepertimu." Febian mencium kening Ara dengan lama untuk menyalurkan semua perasaannya.


"Aku juga merasa sangat bahagia memiliki suami sehebat dirimu." Ara melingkarkan tangan, membalas pelukan suaminya dengan erat.


"Kalau begitu lebih baik kita istirahat saja. Kamu pasti sudah sangat lelah." Febian mengajak Ara untuk tidur, tetapi wanita itu justru tetap bergeming.


"Kenapa?" tanya Febian saat melihat wajah istrinya yang tampak bingung.


"Mas, aku ingin sesuatu," sahut Ara lirih.


"Apa?" Febian bertanya lagi.


"Aku ingin martabak Bandung."


Febian terdiam mendengar permintaan istrinya karena setahu dirinya, makanan itu bukanlah makanan kesukaan istrinya.


💦💦💦


Selamat siang Gaess


Semoga kalian tetap bertahan dengan kisah ini yaa


Jangan lupa mampir juga di karya sahabat Othor nih.


hayukk mampir yuk