Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
41


Harap kencangkan sabuk pengaman gaess


Nadira bangkit berdiri saat acara telah selesai. Semua orang yang berada satu meja dengannya menatap ke arahnya, termasuk Nathan yang menatap dengan sangat lekat. Namun Nadira berpura-pura tidak tahu.


"Kamu mau ke mana, El?" tanya Rendra. Dia bangkit dan berdiri di samping Nadira.


"Aku mau jalan-jalan. Sepertinya aku lihat kolam di belakang," sahut Nadira.


"Ayo, aku ikut. Aku juga jenuh banget di sini." Rendra merangkul pundak Nadira dan gadis itu tidak menolak sama sekali. Dia tidak peduli meski Nathan menatap penuh amarah padanya.


Mereka berpamitan pergi dari sana. Melihat Nadira dan Rendra yang begitu mesra, Cacha pun ikut menyusul.


"Nadira! Mas Rendra! Tunggu!" teriak Cacha menghentikan langkah kedua orang itu.


"Minggir!" Cacha mendorong tubuh Rendra hingga tubuh lelaki itu terhuyung ke samping.


"Astaga! Dasar penganggu!" omel Rendra dengan ketus.


"Mas Rendra!" teriak Cacha sambil memukul lengan Rendra yang menjepit kepalanya di ketiak. "Lepasin!"


Bukannya melepaskan, Rendra justru tergelak keras. "Makanya jangan suka ganggu. Kamu tahu gak sih kalau ada orang berduaan yang ketiga setan," kata Rendra. Dia melepaskan jepitan lengannya.


"Mas Rendra tuh yang setan! Setan buaya!" cibir Cacha. Namun, dia langsung menunjukkan tanda piece saat Rendra menatapnya dengan sangat tajam.


"Astaga, kepalaku pusing sekali kalau bareng kalian. Selalu saja berdebat. Udahlah aku mau sendiri aja. Jangan ada yang menganggu," kata Nadira hendak pergi dari sana.


"El!"


"Nad!"


Cacha dan Rendra memanggil bersamaan, tetapi Nadira menatap mereka dengan tatapan memohon. Akhirnya mereka berdua pun hanya bisa mengiyakan dan membiarkan Nadira pergi sendiri.


Nadira berjalan menuju ke kolam di belakang gedung. Dia berdiri di tepi kolam, melihat air yang begitu tenang. Nadira menghela napas panjang saat rasa sakit kembali menyergapi hatinya.


"Sampai kapan aku harus selalu bersabar. Seharusnya memang pernikahan ini tidak pernah terjadi." Nadira mengusap airmata yang mulai membasahi wajahnya. Dia merasa begitu bimbang. Dia ingin sekali melepaskan Nathan, tetapi hatinya seolah berbisik untuk terus bertahan.


"Nona!" Nadira menoleh. Dia segera menghapus airmata saat melihat Jasmin sedang berjalan mendekat ke arahnya.


"Ada apa, Nona?" tanya Nadira berusaha menetralkan suaranya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Nadira penasaran.


"Maukah kamu jujur, sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Kak Nathan?" tanya Jasmin tanpa basa-basi.


"Bukankah kamu tahu kalau Kak Nathan bersahabat dengan Kak Al." Suara Nadira terdengar begitu datar.


"Aku tahu itu, tapi aku merasa kalian memiliki hubungan spesial di masa lalu," tebak Jasmin.


"Jangan suka mencampuri urusan pribadi orang lain, Nona. Kalaupun aku dan Kak Nathan memiliki hubungan spesial di masa lalu, tapi itu hanyalah masa lalu. Aku permisi, Nona." Nadira hendak pergi dari sana, tapi saat berjalan sampai di sebelah Jasmin, gadis itu menahan tangan Nadira.


"Aku juga tahu hubungan kalian saat ini." Nadira membeku, dalam hati dia bertanya mungkinkah Jasmin sudah tahu tentang hubungannya dengan Nathan yang sudah sah menjadi suami istri?


"Aku ingin kamu melepaskan Kak Nathan! Kalian tidak pantas bersama," ucap Jasmin. Nadira menoleh dan menatap Jasmin yang sedang menyeringai ke arahnya.


"Silakan kamu bilang sendiri pada Kak Nathan. Bukan aku yang tidak mau melepaskan, tapi Kak Nathan yang bersikukuh tetap ingin mempertahankan. Asal kamu tahu, Nona! Aku tidak bahagia hidup dengan Kak Nathan!" teriak Nadira. Suara gadis itu sampai menggelegar diiringi airmata yang kembali membasahi wajahnya.


"Kalau kamu tidak bahagia, kamu bisa pergi dari hidupnya. Aku lihat Tuan Rendra sangat menyayangi kamu," kata Jasmin.


"Lepaskan tangan kamu, Nona. Kamu tidak berhak mengatur hidupku." Nadira menyingkirkan tangan Jasmin dengan kasar.


Namun, Jasmin justru menarik tubuh Nadira, hingga mereka jatuh tercebur ke kolam bersamaan suara tembakan yang terdengar di sekitar sana.


"Tolong! Tolong!" teriak Jasmin. Beberapa orang yang mendengar suara tembakan dari arah kolam, segera berlari ke sana.


"Jasmin!" Nadira terdiam, tapi tetap berusaha berenang saat mendengar Nathan justru memanggil nama Jasmin.


"Uhukk uhukk, Kak Nathan tolong aku! Aku tidak bisa berenang!" teriak Jasmin sambil terus melambaikan tangan ke atas. Mendengar itu, Nadira berusaha menolong Jasmin, tapi ternyata sial. Kakinya tiba-tiba kram dan dia tidak bisa lagi berenang.


"Ahh! Tolong aku!" teriak Nadira. Nathan begitu bimbang melihat kedua orang itu, tapi kemudian dia menceburkan diri ke kolam dan menolong Jasmin.


Nadira yang sudah tak kuasa lagi, akhirnya tidak lagi berteriak. Dia membiarkan tubuhnya tenggelam. Matanya terpejam saat tubuhnya dengan tenang hampir mencapai dasar.


"Mommy, daddy, Kak Al, Bi. Aku sayang kalian." Airmata Nadira mengalir bercampur dengan air kolam. Kini dirinya telah menyerah. Jika memang harus pergi saat ini, dia akan merasa sangat ikhlas. Bayangan Nathan yang lebih memilih menolong Jasmin, seolah memberi tanda kalau dirinya tidak berharga apa-apa untuk lelaki itu.


"Seharusnya aku sudah sadar dan mengalah sejak awal," batin Nadira sebelum ia tidak mengingat apa pun.