
Ketika mobil suaminya baru saja berhenti di pelataran mansion Alexander, Mila bergegas keluar dan berjalan tergesa setelah mendapat telepon kalau Baby Jin tidak bisa ditenangkan. Bahkan wanita itu hampir saja terjatuh di tangga kalau saja tidak berpegangan pada besi di tepi tangga.
"Hati-hati, Mil!" teriak Johan dari bawah. Lelaki itu terlihat sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja, Mas. Aku tidak sabar ingin lihat cucuku." Mila menjawab dengan kembali menaiki tangga.
Johan dan Cacha hanya menggeleng, dan menyusul langkah Mila menuju ke kamar Alvino.
Sesampainya di depan kamar Alvino, Mila segera membuka pintu kamar itu. Namun, Mila terdiam saat melihat Nathan dan Alvino sedang menggendong dua bayi itu, dan tidak ada satu pun dari kedua bayi itu yang menangis.
"Baby Jin sudah tenang?" tanya Mila, berjalan mendekat.
"Sudah, Onty. Tapi dia tidak mau menyusu sama sekali," sahut Alvino. Dia masih menimang-nimang baby Jun.
"Kok udah diem?" tanya Mila heran.
"Entahlah, Onty. Begitu digendong Nathan, si Jinny langsung diam gitu aja," papar Rania.
Mila hanya mengangguk lalu mengambil alih bayi itu dari Nathan. Beberapa kali Mila mengecup bayi yang terlihat begitu tenang. "Coba sekarang kamu susui dia, Ran. Siapa tahu tadi dia saking laparnya jadi rewel."
Mila menyerahkan Baby Jin kepada Rania untuk disusui, tetapi baru saja berada dalam gendongan sang ibu. Bayi itu kembali menangis keras, dan tidak mau menyusu sama sekali. Merasa tidak tega, Mila kembali menggendong Baby Jin tak lupa membawa susu yang sudah berada dalam botol susu.
Belum juga Mila memberi botol susu, bayi itu sudah kembali diam dan terlihat begitu tenang.
"Sepertinya Baby Jin ini bakalan satu spesies sama bunda dan Kak Nathan," celetuk Cacha diiringi kekehan.
"Amit-amit jabang bayi. Jangan sampai putriku jadi manusia berotak mesum seperti kalian." Alvino bicara kesal, dia khawatir ucapan Cacha akan menjadi kenyataan.
"Siap-siap aja kamu, Al!" Nathan tergelak keras, disambut Mila yang juga ikut tertawa. Sementara yang lain hanya memasang wajah sebal.
***
Satu minggu telah berlalu, Johan dan keluarga bersiap ke Bogor untuk menghadiri pernikahan Rendra, karena Bastian mengundang mereka. Rasanya, Cacha begitu enggan untuk datang, tetapi untuk menghormati undangan mereka dan membuktikan kalau dirinya baik-baik saja meski sudah disakiti Rendra, gadis itu pun akhirnya bersedia ikut.
Mereka berangkat dengan menggunakan satu mobil dan Nathan sebagai sopirnya. Selama dalam perjalanan, Cacha hanya diam saja karena hatinya merasa begitu gelisah.
"Kamu baik-baik saja, Cha?" tanya Nadira. Dia menoleh ke belakang dan melihat adik iparnya yang sedang cemberut.
"Baik kok, Nad." Cacha menjawab lesu.
"Dia masih di Bali, entah kapan akan pulang." Johan menjawab tenang. Dia tersenyum tipis saat melihat ekor matanya melihat Cacha yang menampilkan raut penasaran.
"Bulan depan, Mike akan menikah di Bali," ucap Mila.
"Yang bener, Bun?" tanya Nadira terperangah.
"Mana mungkin bunda bohong. Sekarang Mike sedang menyiapkan pernikahan. Jadi bulan depan kita semua akan ke Bali." Mila bicara dengan sangat antusias.
Tubuh Cacha mendadak lemas, gadis itu duduk bersandar dengan menatap ke luar jendela.
"Nanti kita bisa bulan madu lagi, Beb," kata Nathan dengan binar bahagia.
"Enak saja! Giliran Bunda dan ayah yang bulan madu!" sanggah Ibu Negara.
"Kalian 'kan pengantin lawas, buat apa bulan madu? Giliran yang muda yang bercinta dong, Bun." Nathan mendebat.
"Justru yang tua yang bercinta. Yang muda tuh semangat kerja, nyari duit yang banyak buat masa depan." Mila tetap tidak mau kalah.
"Ingat, Bun. Aku ini sedang berusaha membuatkan cucu yang gemoy buat ayah dan Bunda. Jadi—"
"Diamlah, Nat! Fokus saja pada kemudimu. Tidak ada lagi bulan madu tahun ini. Ayah sudah pusing kalau harus mengurusi perusahaan. Otak ayah sudah terlalu lelah kalau harus terus berpikir," tutur Johan menghentikan perdebatan ibu dan anak itu.
Nathan hanya menghela napas panjang, jika ayahnya sudah berbicara maka dia tidak akan berani mendebatnya. Nadira menutupi tawa saat melihat suaminya yang seperti mati kutu.
"Kenapa kamu lesu gitu sih, Cha?" Mila mengusap puncak kepala Cacha. Mencoba menghibur anak gadisnya yang tampak sedih.
"Tidak papa, Bun. Kayaknya Cacha enggak ikut ke pernikahan Mike." Cacha menjawab lesu.
"Kenapa?" tanya Mila bingung. Cacha hanya menggeleng lemah.
"Tidak ada yang tinggal di rumah! Kalian semua harus ikut. Rayhan, Tuan Al bahkan Baby JJ akan ikut semua," ucap Johan tegas. Cacha menatap sang ayah yang terlihat begitu serius.
"Tapi Yah—"
"Ayah tidak menerima penolakan!" sergah Johan. Cacha pun akhirnya terdiam dan kembali menatap ke luar jendela mobil.