Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
72


Alvino dan lainnya sedang makan bersama di salah satu restoran. Wajah mereka terlihat begitu berbinar, hanya Nadira saja yang terlihat begitu lesu dan tidak bersemangat.


"Nad, makanlah yang banyak. Jangan sampai tubuhmu semakin kurus." Febian menaruh nasi ke piring Nadira.


"Sudah jangan banyak-banyak, Bi." Nadira menahan tangan Febian yang hendak mengambilkan nasi lagi untuknya.


"Makanlah yang banyak, Nona." Jasmin membuka suara, Nadira hanya menanggapi dengan senyuman.


"Udah, gak usah canggung gitu. Kan kalian bakal jadi saudara ipar," ucap Febian dengan sedikit ketus. Nadira tidak menjawab, dia hanya menonyor kepala Febian dengan gemas.


Ekor mata Jasmin melirik seseorang yang duduk paling ujung, sedang menutup wajahnya dengan buku menu. Jasmin pun segera bangkit berdiri lalu berpamitan ke toilet. Raut wajahnya terlihat begitu tenang, karena Jasmin tidak ingin menimbulkan kecurigaan.


Di saat Jasmin berjalan ke toilet, orang itu pun ikut bangkit dan berjalan mengekor di belakangnya. Jasmin menghentikan langkahnya di depan pintu toilet, lalu berbalik.


"Keluarlah, Kak!" panggil Jasmin. Nathan segera keluar dari tempatnya bersembunyi.


"Kamu memang menyebalkan, Jas." Nathan mendengus kesal, lalu berdiri di samping Jasmin.


"Sudah ku duga kalau Kak Nathan bakal nyusul ke sini. Dasar bucin!" ledek Jasmin. Dia menggeleng tak percaya melihat kebucinan Nathan.


"Jangan banyak protes lah, Jas. Cepat beritahu aku di mana dan kamar berapa istriku menginap?" tanya Nathan tanpa basa basi.


"Ngapain sih, Kak. Tahan bentar lagi. Kita akan balik ke Jakarta," sahut Jasmin dengan begitu santai.


"Jas, aku udah enggak sabar ketemu istriku," rengek Nathan. Jasmin menghembuskan napas kasar.


"Sabar sih, Kak!" Jasmin melipat kedua tangan di dada.


"Ayolah, Jas. Bantu aku, nanti aku naikin gaji kamu dua kali lipat," rayu Nathan.


"Kak, aku bukan cewek matre!" timpal Jasmin. Walau bibirnya menolak, tapi Jasmin tetap mengeluarkan ponselnya dan dengan segera menghubungi nomor Febian, kekasihnya.


"Hallo, Bi." Jasmin terdiam sesaat. "Bolehkah aku minta tolong Nona Nadira untuk mengantar tas ku ke toilet?"


"Memang ada apa, Sayang?" tanya Febian heran.


"Aku tiba-tiba kedatangan tamu bulanan dan pembalutku ada di sana," sahut Jasmin beralasan. Nathan tersenyum lebar.


"Jangan! Aku udah di dalam toilet wanita. Nona Nadira saja jangan yang lain. Aku enggak enak sama suami mereka." Ucapan Jasmin terdengar begitu meyakinkan.


"Baiklah, tunggu sebentar." Panggilan itu terputus, Jasmin mendecakkan lidah saat melihat senyum Nathan semakin mengembang sempurna.


"Kamu memang paling bisa di andalkan, Jas." Nathan menepuk pundak Jasmin, merasa begitu bangga dengan gadis itu.


"Ingat! Gajiku naik dua kali lipat," ucap Jasmin sambil menunjukkan tanda piece dengan kedua jarinya.


"Lah katamu tadi, kamu buka cewek matre?" tanya Nathan dengan senyum meledek.


"Aku memang bukan cewek matre, tapi perjanjian tetaplah perjanjian. Kalau Kak Nathan enggak mau menepati, terpaksa aku bongkar semuanya," ancam Jasmin. Bibirnya tersenyum licik ke arah Nathan.


"Baiklah," kata Nathan pasrah.


Jasmin pun menyuruh Nathan masuk ke toilet wanita yang kebetulan tidak ada seorang pun di sana. Nathan awalnya menolak, tapi Jasmin memaksanya.


Akhirnya, mau tidak mau Nathan pun menuruti perintah Jasmin masuk ke salah satu ruangan toilet itu dan menunggu dengan harap-harap cemas.


Nadira berjalan ke toilet dengan membawa tas Jasmin, sebenarnya dia begitu enggan, tapi dia tidak mungkin menolak permintaan Jasmin. Dia membayangkan jika dirinya berada di posisi Jasmin. Pasti dia akan malu jika meminta tolong pada orang yang belum dikenalnya dengan baik.


Nadira masuk ke toilet dan mengamati tiga pintu toilet yang berada di sana. Hanya pintu toilet paling ujung yang tertutup rapat dan Nadira yakin kalau Jasmin berada di sana.


Nadira melangkah ke ujung, lalu mengetuk pintu itu sembari memanggil nama Jasmin berkali-kali. Membuat Nadira begitu kesal karena tidak ada sahutan. Nadira hendak kembali melangkah pergi karena dia yakin bukan Jasmin yang berada di dalam toilet itu.


Ceklek!


Pintu itu terbuka membuat Nadira mengurungkan langkahnya. Dia melihat pintu itu hanya setengah terbuka. Nadira segera menyodorkan tas itu.


"Ini tas Anda, Nona." Nadira terlonjak saat tiba-tiba tangannya di tarik hingga dirinya masuk ke dalam toilet.


"Apa yang Anda lak ...." Nadira terdiam begitu saja saat melihat siapa yang sedang berdiri di depannya saat ini.


"Kak Nathan," panggil Nadira masih belum percaya.