
Fey dan Yosie membeku mendengar ucapan Mike. Mereka pikir, Mike akan membenci istrinya, tetapi ternyata semua salah. Ucapan Mike justru membuat tubuh mereka bergidik ngeri. Mike kembali berdiri tegak dengan senyum seringai di sudut bibirnya.
"Mike, kenapa kamu berbicara seperti itu?" Fey masih berpura-pura menjadi korban.
"Kamu masih bertanya kenapa? Karena dirimu, aku jadi kehilangan calon anakku!" seru Mike dengan sorot mata yang sangat tajam. Fey yang melihat itu semakin bergidik ngeri, tetapi dia berusaha bersikap biasa dan justru tergelak keras.
"Jadi, Cacha keguguran?" Yosie tergelak keras. "Itu artinya kalian tidak pantas bersama. Menikahlah dengan Fey dan kamu akan mendapatkan keturunan, Mike!" Yosie menatap Mike dengan tatapan meledek.
"Sepertinya aku harus segera pergi dari sini sebelum kesabaranku habis. Bersiaplah untuk pembalasan atas perbuatanmu menyakiti istriku, Nona Fey! Mungkin rasanya akan sedikit lebih sakit daripada luka tembak ini." Mike menyeringai, tubuh Fey gemetar saat melihat itu.
"Jangan macam-macam, Mike! Justru kamu yang harus bersiap menghilang dari dunia ini dan seluruh kekayaan Anderson akan menjadi milikku!" Yosie tergelak, tetapi Mike justru semakin menyeringai.
"Bilang saja hartamu nanti akan kamu berikan untuk calon anakmu yang sekarang masih di dalam rahim Nona Clara karena calon bayi itu berjenis kelamin laki-laki."
Gelakan tawa Yosie mereda seketika, beralih menjadi wajah pucat pasi. Sementara Fey yang mendengar itu, menatap sang papa dengan tatapan yang susah dijelaskan.
"Apa maksud Mike, Pa?" tanya Fey begitu menuntut jawaban.
"Fe-Fey, jangan dengarkan lelaki itu, dia hanya ingin mengadu domba kita." Yosie menjawab begitu gugup yang membuat Fey menjadi semakin curiga.
"Kalau kamu tidak percaya, tanya saja pada Nona Clara. Oh, tapi kamu harus mencarinya karena sekarang Nona Clara sudah berada di tempat yang sangat aman," ucap Mike dengan senyum puas.
"Di mana Clara?" tanya Yosie penuh penekanan.
"Aku tidak tahu." Mike mengendikkan kedua bahu dengan raut wajah yang tampak begitu santai. "Bukankah kamu sendiri yang tahu di mana apartemen Nona Clara?"
Yosie tidak menjawab, dan segera mengambil ponsel untuk menghubungi anak buahnya yang bertugas untuk mengawasi Clara. Lelaki itu menggeram kesal karena nomor anak buahnya justru tidak aktif sama sekali. Sepuluh kali mencoba, tetapi hasilnya sama saja. Hanya suara operator yang terdengar.
"Katakan padaku di mana Clara!" tanya Yosie membentak. Mike melipat tangan di dada dengan senyum licik menghiasi bibirnya.
"Pa, apa benar Clara sedang hamil anak Papa?" tanya Fey. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Fey, akan papa jelaskan semuanya." Yosie memegang tangan Fey yang justru langsung menepisnya.
"Apa yang akan kamu jelaskan, Kek? Atau kamu akan bilang pada Nona Fey, kalau kamu menyuruh Clara menggugurkan kandungannya karena putrimu ini tidak mau memiliki mama baru yang jauh lebih muda," ujar Mike. Fey menatap Mike dengan sangat lekat untuk mencari kesungguhan ucapan lelaki itu.
"Katakan semuanya tidaklah benar, Mike!" seru Fey dengan air mata yang semakin berderai.
"Tanyakan saja pada papamu, dan satu hal lagi, aku akan bilang kalau bayi yang saat ini dikandung Clara kemungkinan besar berjenis kelamin laki-laki. Bukankah kamu sangat menginginkan anak laki-laki, Kek?"
Tangan Yosie terkepal erat dengan rahang mengeras. "Katakan di mana Clara berada!" tanya Yosie membentak.
"Katakan semuanya, Pa!" bentak Fey tidak sabar. Yosie menoleh, menatap putrinya yang masih menangis. "Apa semuanya benar?" tanya Fey mulai melirih.
"Maafkan papa, Fey." Suara Yosie terdengar penuh sesal.
Mendengar itu, tangan Fey terkepal erat. "Pergilah, Pa! Aku benci, Papa! Aku benci!" teriak Fey. Suaranya terdengar menggelegar di ruangan itu. Yosie berusaha mendekati putrinya, tetapi wanita itu justru melempar gelas yang berada di meja kecil.
"Fey, tenanglah." Yosie masih terus berusaha menenangkan putrinya.
"Pergi! Aku tidak mau lihat Papa lagi! Aku benci, Papa!"
Yosie yang panik mendengar putrinya terus berteriak, akhirnya dia menekan tombol nurse untuk memanggil perawat untuk menangani Fey. Beberapa saat kemudian, seorang perawat masuk dan saat melihat Fey yang terus berteriak, perawat itu pun segera menyuntikkan obat penenang.
"Aku ... benci ... Papa," gumam Fey sebelum akhirnya kedua matanya tertutup rapat. Yosie menatap putrinya dengan sangat lekat.
Lelaki itu tidak menyangka kalau Mike akan membongkar semua rahasia yang sudah dia tutup rapat dari putrinya. Bahkan Mike seolah menambah percikan api dengan mengatakan jenis kelamin bayi yang dikandung Clara adalah laki-laki. Yosie pun memilih pergi dari ruangan itu dan menyuruh anak buahnya untuk menjaga Fey karena dia akan ke apartemen Clara untuk mencari keberadaan wanita itu.
***
Setelah Mike kembali masuk ke ruangan istrinya, Richard dan Elie segera berpamitan pulang karena langit mulai terlihat gelap, kedua lansia itu berjanji besok akan mengunjungi rumah sakit lagi. Cacha pun mempersilakan dan tak lupa mengucapkan banyak terima kasih.
"Neng, ayo makan dulu. Biar aku suapi," ucap Mike lembut, tetapi Cacha menggeleng cepat.
"Aku masih kenyang, Mike." Cacha menarik selimut sampai sebatas leher, lalu memejamkan mata.
"Kenyang makan apa? Kamu bahkan belum menyentuh makananmu sama sekali." Mike mengambil makanan Cacha dan hendak menyuapi, tetapi wanita itu masih saja memejamkan mata.
"Aku tidak mau makan, Mike. Aku mau tidur aja." Cacha beralih memiringkan tubuhnya. Mike yang melihat itu hanya mendesah kasar lalu meletakkan piring itu kembali ke atas meja.
"Kamu yakin tidak mau makan?" tanya Mike memastikan. Cacha tidak sedikit pun menjawab. "Mungkin setelah ini aku harus bersiap mendapat hukuman dari Ayah Johan karena tidak memberimu makan."
"Ayah tidak akan ke sini. Jadi, kamu tenang saja, Mike. Aku mau tidur, kuharap kamu tidak berisik, Mike!" Cacha berbicara dengan ketus.
"Tidurlah. Kalau butuh apa-apa, panggil aku." Mike mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya sebelum akhirnya memilih duduk di sofa dan pandangan mata yang tidak sedikit pun lepas dari brankar.
Cacha pikir, Mike sudah pergi dari ruangan itu karena dia mendengar suara pintu yang ditutup, padahal yang keluar adalah anak buah Mike. Suasana di ruangan itu terasa begitu senyap, Cacha meremas selimut dengan cukup kuat untuk menyalurkan segala rasa sakit yang kini terasa menghujam jantungnya.
Mike bangkit berdiri dan berjalan mengendap mendekati brankar saat mendengar isakan Cacha yang begitu menyayat hati.