Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
87


Mike memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah cukup mewah milik Rendra. Begitu mobil berhenti dia segera turun dan tak lupa membukakan pintu untuk nona mudanya itu.


"Mike, kamu ikut masuk ke dalam ya," perintah Cacha, tapi Mike langsung menggeleng cepat.


"Saya menunggu di sini saja, Nona," tolak Mike, sedikit membungkuk hormat.


"Sepertinya aku akan lama, Mike. Atau kamu mau pulang dulu?" tanya Cacha tanpa beranjak sedikit pun dari samping mobil.


"Saya tetap akan menunggu Anda, Nona." Mike masih bicara dengan sangat sopan.


"Baiklah, kalau nanti kamu bosan karena terlalu lama menunggu di sini. Kamu tinggal masuk saja, Mike," perintah Cacha.


Mike hanya mengangguk mengiyakan, Cacha pun berjalan masuk ke rumah. Jujur, jantungnya sekarang berdegup kencang karena begitu grogi hendak bertemu orang tua Rendra. Dia takut, kalau kedua orang tua Rendra akan curiga dan mengetahui kebohongan mereka.


"Hallo, Sayang. Kamu sudah datang?" Rendra berjalan menyambut Cacha, setelah berdiri di samping gadis itu, dia segera merangkulnya dan memberi kode pada Cacha dengan kedipan mata.


Cacha tidak menjawab. Dia hanya melirik tangan Rendra yang berada di pundaknya. Tubuhnya yang berjarak begitu dekat dengan Rendra, membuat jantung Cacha semakin berdebar-debar.


"Maaf, Om, Tante. Sudah membuat kalian menunggu lama." Cacha menepis tangan Rendra perlahan, lalu menyalami dua orang paruh baya yang sedang duduk di sofa dengan bibir tersenyum lebar.


"Tidak apa. Silakan duduk, Nak Marisa," kata Bastian dengan sopan. Cacha terdiam sesaat mendengar panggilan lelaki paruh itu kepadanya. Dia menatap Bastian dengan terheran-heran.


"Om tahu namaku?" tanya Cacha menuntut jawaban. Bastian mengangguk mengiyakan.


"Ya, siapa yang tidak tahu dan kenal dengan putri bungsu Tuan Johan Saputra," sahut Bastian. Cacha tersenyum canggung lalu duduk di depan kedua orang tua Rendra.


"Oh iya, Nak Marisa ...."


"Panggil Cacha saja, Tante." Cacha memotong perkataan Nirmala, karena dia tidak pernah dipanggil dengan nama asli kecuali di sekolah dulu. Bahkan, ibunya saja dulu sering memanggilnya Cacha Maricha Hehey yang membuatnya kesal setengah mati.


Cacha hanya menanggapi dengan anggukan lemah. Entah mengapa, dia merasakan perasaannya mendadak tidak nyaman. Dia menatap tangan Rendra yang menggenggam erat tangannya seolah menyalurkan ketenangan. Cacha menoleh dan menatap lekat Rendra yang juga sedang menatap ke arahnya. Tatapan mata yang seolah menyiratkan kalau semua akan baik-baik saja.


"Apa kalian sudah lama berpacaran?" tanya Nirmala.


"Sudah!"


"Belum!"


Cacha dan Rendra menjawab bersamaan, tapi dengan jawaban berbeda. Membuat kening kedua orang tua Rendra terlihat mengerut, sedangkan Mario yang sedari tadi berdiri di belakang Rendra, hanya menghela napas panjangnya.


"Sayang, kita 'kan udah pacaran satu bulan dan bagiku itu waktu yang cukup lama." Rendra berusaha memberi penjelasan agar orang tuanya tidak curiga.


"Mas, bagiku itu baru sebentar. Bahkan ada yang berpacaran sampai bertahun-tahun," timpal Cacha. Dia langsung terdiam saat ingatan tentang James tiba-tiba berkelebat dalam bayangannya. Kembali membuka luka hatinya hingga dia merasakan nyeri di sana.


"Nak Cacha, apa kamu pernah berpacaran sebelumnya?" tanya Nirmala lagi.


"Pernah, Tante." Cacha menunduk. Dia menatap genggaman tangan Rendra yang semakin terasa erat.


"Jangan malu-malu. Kamu tenang saja. Kita juga pernah muda, kok." Nirmala tersenyum simpul, Cacha pun kembali mendongak dan membalas senyuman wanita paruh baya itu.


"Ren, bagaimana kalau besok kita ke Jakarta saja?" Rendra menautkan alisnya saat mendengar pertanyaan sang ayah.


"Ngapain ke Jakarta, Yah?" tanyanya bingung.


"Untuk bertemu Tuan Johan sekaligus melamar Nak Cacha," kata Bastian santai.


"Apa?!" pekik Cacha dan Rendra bersamaan. Raut terkejut terlihat jelas memenuhi seluruh wajah mereka.