Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
286


Melihat Febian yang berjalan mendekat dengan terburu-buru, Leona dengan cepat memasang wajah serius supaya sepupunya itu tidak curiga. Raut kekhawatiran tampak terlihat jelas memenuhi wajah Febian, dan membuat Leona tergelak sendiri di dalam hati.


"Le, Ara tidak ada di kolam renang." Febian menghempaskan tubuh secara kasar di sofa.


"Lalu dia di mana, dong?" tanya Leona santai dengan tangan bersidekap.


"Aku juga tidak tahu. Astaga, aku bisa gila karena mencari istriku." Febian mengusap wajahnya secara kasar. Dia benar-benar terlihat begitu frustrasi.


"Mungkin di taman belakang, Kak," ucap Leona. Membuat Febian terdiam sesaat.


"Ah, iya. Aku baru ingat kalau belum mencari di sana."


Sumpah, demi apa pun, rasanya Leona tak kuasa menahan tawa melihat kebodohan kakak sepupunya itu. Namun, sebisa mungkin dia mencoba untuk tetap terlihat santai.


"Mau ke mana, Kak?" tanya Leona saat melihat Febian bangkit berdiri dan hendak pergi.


"Nyari Ara di taman belakang." Febian hendak melangkah pergi.


"Carilah, Kak. Kalau tidak ketemu, kita harus kembali ke kantor. Ingat! Kita ada rapat penting." Leona terkekeh dan itu terdengar oleh Febian.


Febian berbalik dan menatap Leona yang berusaha menahan tawa dengan curiga. Leona pun berusaha keras melipat bibir supaya tawanya bisa meredam.


"Le, katakan padaku di mana Ara?" tanya Febian menuntut. Dia berjalan mendekati Leona dan menahan tubuh wanita itu supaya tidak bisa kabur.


"A-aku tidak tahu." Leona menjawab gugup, dan itu semakin membuat Febian curiga.


"Aku tahu kamu berbohong, Le. Mana mungkin Ara menghilang dan kamu biasa saja. Katakan di mana Ara atau aku akan memberimu lemburan sampai kamu tidak bisa pulang seminggu!" ancam Febian. Sorot matanya terlihat mulai menajam.


"Aku bisa meminta Bara untuk menginap di kantor dan kita bisa gituan di sana. Kalau punya anak namanya Cetor alias cetakan kantor." Leona berseloroh lalu tergelak keras, Febian pun berusaha menahan tawa disela kemarahannya.


"Le! Katakan di mana Ara!" Suara Febian kembali meninggi.


"Ara!" teriak Leona mengelabui. Febian dengan cepat menoleh ke samping, tetapi sesaat kemudian dia mengerang karena Leona menginjak kakinya dengan kencang bahkan sampai tubuhnya terhuyung ke belakang. Melihat Febian sedang kesakitan, Leona segera melarikan diri menuju ke kamar tamu di mana Ara bersembunyi.


"Leona!! Kembali kamu!" bentak Febian.


"Buka pintunya! Leona!" Febian menggedor pintu dengan kencang. Namun, Leona di dalam justru terbahak-bahak, sedangkan Ara menggeleng tidak percaya dengan kelakuan jahil sahabatnya.


"Leona!" Kesabaran Febian hampir habis. Dia sudah lelah dan marah dengan sepupunya itu. Dia berbalik dan hendak mengambil kunci duplikat. Namun, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Tangan Febian terkepal erat saking kesalnya.


"Leona! Kamu kena—" Febian berbalik dan bungkam begitu saja saat melihat Ara sedang berdiri dengan senyum mengembang di bibir. Febian mengucek mata karena belum sepenuhnya percaya.


"Ara menghilang, apa aku jadi gila?" gumam Febian. Membuat senyuman di bibir Ara berubah menjadi gelakan tawa.


"Ini memang aku, Mas," ucap Ara lembut.


Febian dengan cepat memeluk tubuh Ara masuk dalam dekapannya dan mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya.


"Jangan sembunyi lagi," ucap Febian lembut.


"Cieee, cieee." Febian menoleh ke arah Leona yang sedang tersenyum meledek ke arahnya. Bahkan wanita itu menjulurkan lidah saat Febian menatapnya tajam.


"Le—"


"Diamlah, Kak! Sudah sana masuk dan lepaskan rasa rindu kalian. Aku beri waktu satu jam, selesai tidak selesai kita harus ke kantor!" Leona mendorong tubuh Febian dan Ara masuk ke kamar.


"Kamu jangan gila, Le!" pekik Febian.


"Kamu yang gila karena tidak tahan, Kak," ledek Leona lagi. Dia menutup pintu itu dan mengunci dari luar.


"Le!" teriak Febian dari dalam diiringi ketukan pintu berkali-kali.


"Sudah, celup keris saja. Jangan lupa, Oh yes, oh No-nya jangan keras-keras. Ingat! kamar ini tidak ada peredam suaranya!" teriak Leona. pelayan yang mendengar itu pun tak kuasa menahan tawa. Apalagi saat melihat Leona berjalan anggun dan duduk di sofa, seolah tanpa dosa.


Ciee, ada yang nungguin enggak nih?


masih mau lagi enggak?