
Seusai sarapan, kini mereka sudah berada di ruang keluarga. Meski sudah mendapat ancaman dari Mike, nyatanya Fey sama sekali tidak takut. Dia tetap saja mencari perhatian lelaki itu. Andai tidak sedang berada dalam rumah kakek neneknya, Mike sudah pasti akan memberi peringatan lebih untuk wanita itu.
"Jadi kamu anak Louis?" tanya Yosie, wajahnya terlihat terkejut. "Aku tidak menyangka kalau Louis akan memiliki putra segagah dirimu."
Mike tersenyum sinis saat mendengar ucapan Yosie. "Salam kenal, Kek. Namaku Mike." Mike berusaha tetap bersikap tenang.
"Namamu Mike? Nama yang gagah, segagah orangnya," puji Fey. Dia hendak menyentuh lengan Mike, tetapi dengan kasar Mike langsung menepisnya.
"Jangan pernah menyentuh saya, Nona. Berani menyentuh saya sedikit saja maka jangan salahkan saya kalau tangan kanan Anda terputus," ancam Mike dengan nada bicara dingin. Fey menjauhkan tubuhnya dan sedikit meringsut takut.
"Mike, jangan keras seperti itu. Fey ini saudaramu juga. Bukankah kamu tahu kalau aku adalah adik nenekmu?" tanya Yosie dengan sedikit ketus. Dalam hati, dia berusaha keras menahan kekesalannya atas sikap Mike.
"Aku tahu, Kek. Aku hanya tidak suka ada wanita lain yang menyentuhku!" Mike berbicara dengan sangat tegas. Sorot matanya menajam.
"Apa kamu sudah memiliki istri, Mike?" Yosie masih berpura-pura, padahal lelaki itu tahu tentang pernikahan Mike dengan Cacha.
"Sudah. Istriku lebih segalanya dari wanita mana pun. Apalagi hanya wanita kelas rendahan, tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan istriku," ucap Mike meremehkan.
Yosie dan Fey merasa geram, ucapan Mike seolah menyindir dirinya. Namun, Fey berusaha bersikap biasa saja karena dia harus bisa menaklukkan Mike untuk mendapatkan kekayaan Anderson. Bagaimanapun caranya.
"Sepertinya kamu sangat mencintai istrimu, Mike." Yosie berusaha tetap tersenyum.
"Tentu saja. Jangan bahas istriku lagi, aku takut akan semakin merindukannya," ucap Mike, ekor matanya melirik Fey yang sedang mengepalkan tangannya.
"Yos, maukah kamu menemani Mike ke Anderson Group?" pinta Richard, wajah Yoise langsung berbinar bahagia.
"Tentu saja, Kak. Aku bersiap kapanpun Mike membutuhkanku," ucap Yosie bersemangat. Berbagai rencana licik sudah bersarang di otak lelaki itu. Mike yang melihat raut wajah Yosie, hanya menunggingkan senyum miring.
Kita lihat saja, siapa yang akan menaklukan siapa.
***
Ketika masih asyik mengobrol, ponsel Mike berdering. Dengan gerakan cepat, dia menarik keluar ponsel dari saku celana, setelah melihat siapa yang memanggilnya saat ini, Mike pun berpamitan keluar.
"Aku malas sekali, Mike. Aku benar-benar kehilangan semangat saat jauh dari kamu," rengek Cacha. Senyum Mike semakin mengembang sempurna, andai mereka saat ini sedang bersama sudah pasti dia akan menghujami banyak ciuman di wajah istrinya.
"Bagaimana dengan pekerjaan kantor?" Mike masih berbicara dengan lembut. Dia tidak menyadari kalau Fey menguping di belakangnya.
"Ayah dan bunda sekarang di kantor. Biarkan saja, aku mager banget, Mike. Aku mau tidur seharian. Kapan kamu pulang?"
"Besok sore. Hari ini aku ada urusan di perusahaan kakek. Kalau selesai lebih awal, aku usahakan pulang pagi. Kamu merindukanku?" tanya Mike menggoda.
"Jangan bertanya yang kamu sendiri sudah tahu jawabannya, Mike. Cepatlah pulang, aku ingin memelukmu." Suara manja Cacha, membuat senyum Mike tidak sedikit pun memudar.
"Aku juga. Besok kalau aku pulang, kita akan jalan-jalan seharian. Kamu mau?" tawar Mike.
"Tentu saja. Aku ingin bermain di pasar malam, Mike. Beli permen kapas," rengek Cacha seperti anak kecil.
"Tumben sekali kamu meminta permen kapas. Aihh, aku jadi merindukan Cacha kecilku."
"Kamu menyebalkan!" Cacha mencebik, "Mike, apa kamu baik-baik saja? Rasanya aku sangat khawatir padamu," kata Cacha lirih.
"Aku baik saja, bahkan sangat baik. Nanti sepulang dari sini, akan kuceritakan—"
"Mike, Aku mencarimu. Nenek bilang kamu harus menemaniku berbelanja."
Mike menghentikan ucapannya, dan berbalik. Rahangnya mengetat tatkala melihat Fey sedang berdiri dengan senyum manis. Sementara Cacha langsung terdiam setelah mendengar suara seorang wanita yang terdengar begitu lembut.
"Mike, kenapa aku mendengar suara wanita? Siapa dia? " tanya Cacha menuntut jawaban.
Mike pun tersadar kalau panggilannya belum terputus. "Neng, aku matikan dulu ya. Nanti aku kabari lagi. Jangan lupa jaga kesehatan. Aku mencintaimu." Mike langsung mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari seberang.
Dia menyimpan ponselnya kembali ke saku, lalu berjalan mendekati Fey. Mike menyeringai tipis saat melihat wajah Fey yang terlihat begitu gugup.
"Saya tahu kalau Anda akan merusak hubungan saya dan istri saya dengan membuatnya salah paham, Nona. Baiklah, karena Anda memulai duluan maka akan saya layani," bisik Mike tepat di telinga Fey, sebelum kembali masuk ke ruang keluarga.