Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
157


"Mbak Arum, cerai sama suami?" tanya Cacha setelah kesadarannya kembali.


"Iya, Nona. Saya yang meminta cerai karena suami saya suka main pukul." Cacha kembali terperangah mendengar penuturan Arum.


"Kok bisa?" tanya Cacha, kening gadis itu terlihat mengerut dengan tatapan yang tak lepas menatap janda muda di depannya.


"Entahlah, Nona. Saya tertipu dengan penampilannya yang tampan saja. Ternyata, dia seorang yang tempramental bahkan tidak jarang main tangan." Wajah Arum tampak begitu sendu. Dia yakin kalau kenangan itu pasti menjadi kenangan buruk bagi wanita itu.


"Maafkan aku, Mbak." Cacha merasa tidak enak hati. Dia merasa bersalah sudah membuka luka lama yang mungkin sudah susah payah Arum lupakan.


"Tidak apa, Nona. Anda tenang saja. Tidak ada yang tahu status saya, termasuk Tuan Nathan sekalipun." Arum kembali tersenyum simpul, menandakan kalau wanita itu baik-baik saja.


"Kalau Nona Muda kenapa belum menikah? Masih sibuk berkarir?" tanya Arum, Cacha menggeleng lemah.


"Aku belum siap, Mbak. Aku tipikal orang yang susah bergaul dengan lawan jenis. Eh, giliran ada yang deket malah nyakitin mulu. Aku jadi takut, Mbak." Kali ini, Cacha beralih meletakkan kepala di atas meja dengan berbantal kedua lengannya. Bibir gadis itu cemberut, tetapi justru membuatnya terlihat menggemaskan.


"Nona, saya yakin akan ada seseorang yang mencintai Anda dengan sangat tulus. Jangan mencari seorang pria yang hanya tampan maupun mapan secara finansial karena itu bukan jaminan. Carilah seorang lelaki yang mencintai Anda dengan sangat tulus. Mau menerima semua kekurangan Anda dan menjadi garda terdepan di saat ada bahaya mengancam Anda."


"Tapi Mbak ... kalau enggak mapan secara finansial, apa kita bisa kenyang hanya makan cinta?" tanya Cacha, jari gadis tersebut mengetuk-ketukan meja dengan perlahan.


"Setiap manusia sudah ada rezeki masing-masing dan setiap rumah tangga sudah ada garis takdirnya masing-masing. Rezeki pasti ada. Syukur-syukur, sudah dapat suami yng mencintai kita dengan tulus, tampan, mapan pula! Saya doanya begitu." Arum tergelak, sedangkan Cacha hanya mendecakkan lidahnya.


"Aku tuh lagi galau, Mbak?" Suara Cacha yang terdengar lesu, seketika menghentikan gelakan tawa Arum, janda muda menatap lekat ke arah Cacha.


"Kenapa, Nona?" tanya Arum, alis wanita tersebut terlihat saling bertautan.


"Ada seseorang yang mencintaiku dengan tulus, tapi aku menolaknya karena dia bukan orang kaya dan usianya sangat jauh berbeda dengan aku. Sekarang, dia mau nikah sama orang lain, dan hatiku rasanya sakit." tutur Cacha.


Arum menghela napas panjang, lalu menghembuskan secara perlahan. Bibir Arum tersenyum saat melihat Cacha yang masih merebahkan kepala di atas meja.


"Kamu lagi ngapain, Cha?" Cacha mengangkat kepala saat mendengar suara dari arah belakang. Dia berbalik dan melihat Nadira sedang berdiri di pintu dapur dengan tatapan heran.


"Makan," sahut Cacha ketus, dan kembali merebahkan kepalanya.


"Ish! Kamu menyebalkan!" Nadira berjalan mendekati Cacha dan duduk di sebelah gadis tersebut.


"Kamu ngapain sih, Nad? Bangun jam segini, emang laki elu enggak nyariin?" tanya Cacha dengan meledek. Dengan gemas, Nadira menonyor kening Cacha, tetapi gadis itu justru tergelak sangat keras.


"Cha!" panggil Nadira, tetapi Cacha justru memejamkan mata. Nadira mendengkus kasar sebelum akhirnya telapak tangannya kembali mendarat di kening gadis tersebut. "Malahan tidur nih anak. Anak Kambing bangun oe!"


Namun, Cacha tetap memejamkan mata seolah sedang tertidur lelap. Melihat itu, Nadira memutar bola mata mencari ide untuk menjahili adik iparnya. Kemudian, dia menaruh telunjuk di depan bibir, meminta Arum dan pelayan lain untuk diam.


Nadira menghirup napas dalam, dengan senyum licik di sudut bibirnya, "Kamu tidak jadi ke Bali, Mike!"


Cacha membuka mata lebar, lalu mengangkat kepala dengan kilat, dan berbalik menatap ke arah pintu.


Namun, tidak ada siapa pun di sana. Bahkan sekedar bayangan pun tidak ada. Nadira tergelak dengan sangat keras, bahkan gadis itu sampai memegang perutnya yang terasa kram.


Merasa dikerjai, Cacha kembali berbalik dan menatap Nadira dengan sorot yag begitu tajam, tetapi Nadira tetap tergelak tanpa takut sedikit pun.


"Elvina Nadira Alexander! Nyonya Muda Kaleng Rombeng!" seru Cacha dengan tangan terkepal erat.


"Kamu bilang apa, Cha!"


Suara dari pintu dapur, seketika membuat Cacha menelan salivanya susah payah, bahkan tawa Nadira langsung lenyap seketika. Sementara Arum yang barusan ikut tertawa, kembali berpura-pura sibuk dengan kegiatannya.


Jempol jangan lupa tekan like