
Semenjak pernikahan Leona, kini Ara memilih tinggal di kos-kosan. Padahal Ardian dan keluarganya sudah menyuruh Ara tetap tinggal di sana, tetapi gadis itu menolak. Dia tidak mau merepotkan dan takut merasa canggung karena Leona sekarang sudah hidup bersama Bara. Setelah merasa penampilannya rapi, Ara mengambil tas selempang kecil dan segera berangkat ke kantor menggunakan angkutan umum.
Sesampainya di kantor, Ara langsung menuju ke ruangan khusus karyawan. Dia bersikap tidak peduli pada Diska yang sedang menatap tajam padanya karena merasa tidak memiliki masalah apa pun dengan wanita itu.
"Kasihan sekali sekarang tidak ada yang membela," sindir Diska, tetapi Ara justru membuatkan kopi untuk Febian yang saat ini sudah menjadi rutinitasnya.
"Bagai anak kehilangan induknya," imbuh Sekar, teman baik Diska.
Ara tidak menyahuti apa pun dan lebih memilih untuk fokus mengaduk kopi dalam cangkir. Dia tahu kenapa mereka berani berbicara seperti itu karena saat ini Leona sedang cuti untuk berbulan madu. Setelah sudah siap, Ara hendak membawa ke ruangan Febian, tetapi Diska menahan lengan gadis itu.
"Tolong aku sebentar!" suruh Diska penuh penekanan.
"Tolong apa, Mbak?" Ara masih bersikap dengan baik.
"Beliin aku pembalut di depan, aku malu karena sudah tembus celana." Diska berbalik dan menunjukkan noda merah yang terlihat di celana. Ara begitu ragu, tetapi merasa tidak tega akhirnya gadis itu pun berjalan keluar ruangan.
Ketika Ara sudah pergi dari ruangan itu, Diska dan Sekar ber-tos ria. Ara tidak tahu kalau Diska hanya berpura-pura karena noda merah di celana itu hanyalah obat merah. Diska mendekati kopi buatan Ara dan menaruh sesendok garam ke sana lalu mengaduk kembali. Diska dan Sekar tersenyum puas karena mereka yakin setelah ini Ara akan dimarahi habis-habisan oleh Febian bahkan mereka berharap Ara akan dipecat hari ini juga.
Hampir sepuluh menit berlalu, Ara baru saja kembali dengan membawa sebungkus pembalut dan menyerahkan kepada Diska. Setelahnya, dia membawa nampan itu ke ruangan Febian dengan sedikit terburu. Kali ini, Ara tidak lagi menggunakan tangga karena dirinya sudah diajari Leona bagaimana cara memakai lift.
Ketika telah sampai di lantai dua puluh, Ara bergegas keluar, tetapi dia justru bertabrakan dengan Febian sehingga kopi yang masih cukup panas itu tumpah mengenai baju yang dikenakan. Ara terdiam sesaat karena terkejut, sebelum akhirnya dia membungkuk di depan Febian dengan menahan rasa panas yang menjalar.
"Maaf, Tuan." Ara berkata dengan sedikit ketakutan.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Febian khawatir. Ara mengangguk cepat sembari tersenyum simpul.
"Maaf, Tuan. Akan saya buatkan kopi yang baru untuk Anda." Ara mengambil cangkir dan nampan yang tergeletak di lantai. Beruntung sekali cangkir itu tidak pecah.
"Tidak perlu. Aku sedang buru-buru." Febian menarik tangan Ara dan mengajaknya masuk ke lift. Ketika berada di dalam lift, Ara hanya memeluk nampan itu. Rasa panas karena kopi itu masih cukup terasa, tetapi dia berusaha tetap terlihat tenang.
"Jangan lupa kamu obati lukamu," suruh Febian. Ara hanya mengangguk dengan cepat. Setelahnya, Febian melangkah lebar keluar dari kantor karena dia ada urusan yang begitu mendesak.
Sementara Ara kembali ke ruangan dengan wajah yang tampak sedikit sayu. Diska dan Sekar tersenyum senang karena dia yakin Ara baru saja dimarahi Febian apalagi saat mereka melihat bekas kopi di baju Ara.
"Kenapa bajumu basah, Ra?" tanya Sekar berpura-pura.
"Tidak sengaja kopinya tumpah." Ara menjawab jujur, tetapi mereka kira kalau gadis itu sedang berbohong saat ini.
"Pasti kamu dipecat 'kan?" tukas Diska dengan senyum mengembang. Namun, senyumnya seketika memudar saat melihat gelengan kepala Ara. Bahkan, mereka tidak percaya.
"Kalau begitu saya izin membersihkan baju saya dulu, Mbak." Ara memilih pergi karena dia tidak mau meladeni Diska yang selalu membuat masalah padanya. Ara sebenarnya tahu kalau dua wanita itu selalu menindasnya, Ara bukannya takut, tetapi dia tidak suka bermasalah dengan orang lain.
"Ada apa, Tuan?" tanya Ara heran. Dia begitu kewalahan menyeimbangi langkah Febian.
Lelaki itu tidak menjawab, hanya menyuruh Ara masuk ke mobil dan melajukannya dengan kencang. Ara terus saja bertanya, tetapi Febian sama sekali tidak memberikan jawaban sedikit pun. Hanya fokus pada kemudinya.
Kening Ara mengerut saat mobil Febian berhenti di depan area rumah sakit dan lelaki itu mengajaknya masuk. Ara tidak lagi bertanya karena baginya semua percuma. Namun, Ara terkejut saat melihat ayahnya sedang terbaring di atas brankar.
"Bapak!" pekik Ara berlari mendekati brankar. "Bagaimana Bapak bisa berada di sini?" tanya Ara tidak percaya. Lelaki paruh baya itu hanya mengarahkan pandangannya kepada Febian. Ara yang sudah tahu maksudnya, segera berbalik dan menatap Febian dengan seksama.
"Anda yang membawa bapak saya ke sini, Tuan?" tanya Ara menuntut jawaban. Febian hanya mengangguk sebagai jawabannya. "Kenapa Anda bisa tahu rumah saya?"
"Aku tahu kalau kamu selalu kepikiran bapakmu yang jauh. Sekarang biarkan bapakmu dirawat di sini dan melakukan terapi pengobatan supaya bisa sembuh lagi," ucap Febian dengan santai.
"Ta-tapi, Tuan—"
"Jangan pikirkan soal biaya. Semua sudah kutanggung sampai sembuh. Aku juga sudah menyuruh seorang anak buahku untuk berjaga di sini selama kamu bekerja."
Febian terkejut saat tiba-tiba Ara bersimpuh di depannya dengan dua tangan tertangkup di depan dada. "Terima kasih. Terima kasih banyak, Tuan." Mata Ara mulai terlihat berkaca-kaca.
"Bangunlah!" suruh Febian tegas, tetapi Ara tetap pada posisinya dengan kepala yang semakin menunduk dalam.
"Saya tidak tahu bagaimana lagi harus membalas kebaikan Anda, Tuan. Anda boleh tidak menggaji saya untuk mengembalikan semua uang yang telah Anda berikan. Saya akan bekerja dengan sangat ikhlas," ucap Ara dengan penuh haru.
"Bangunlah. Aku tidak suka melihatmu bersimpuh di depanku seperti ini!" Suara Febian terdengar lebih tegas, tetapi Ara tetap saja bergeming.
"Tuan, katakan apa yang harus saya lakukan untuk membalas semua kebaikan Anda." Ara masih saja menangkup kedua tangan di depan dada.
"Aku ikhlas menolongmu." Febian menjawab pelan.
"Saya mohon, Tuan. Apa pun yang Anda minta akan saya penuhi. Saya tidak mau terlalu banyak berhutang budi." Ara begitu memohon. Febian pun berjongkok di depan Ara untuk menyamakan posisi mereka.
"Kamu yakin akan menuruti apa pun yang aku inginkan?" tanya Febian memastikan. Ara mengangguk cepat tanpa ragu.
"Saya berjanji akan menurutinya, Tuan." Ara menjawab dengan sangat yakin.
"Hal yang harus kamu lakukan adalah ...." Febian terdiam sesaat, sedangkan Ara sudah menunggu dengan harap-harap cemas. Febian menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan.
"Menikahlah denganku!"