
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Clara bahkan sampai wajah wanita itu menoleh ke samping. Clara memegang pipinya dan mengusap sudut bibir yang mengeluarkan sedikit darah. Yosie yang baru saja sadar telah menampar Clara, dengan segera meminta maaf kepada wanita itu.
Belum juga mendapat kata maaf dari Clara, tubuh Yosie kembali menegang saat dua anak buah yang ditugasi untuk memutus kabel rem mobil Mike, justru berjalan mendekat bersama dengan Nathan dan Rayhan. Sementara dari arah belakang, Johan dan Mike mendekat dengan senyum yang tidak sedikit pun memudar.
"Bodoh! Bagaimana kalian bisa tertangkap!" Yosie membentak dua anak buah yang saat ini sedang menunduk. Tanpa ada yang tahu, Yosie diam-diam memberi kode pada anak buah bayangan saat merasakan posisinya saat ini terancam. Apalagi saat mendengar suara sirine polisi membuat wajah Yosie semakin terlihat sangat gugup.
Baru saja mobil polisi tiba, Yosie sudah berlari kencang dan masuk ke mobil anak buah bayangan tadi. Polisi itu pun kembali menyalakan mobilnya dan mengejar mobil Yosie yang saat ini sedang melaju kencang. Johan dan Mike pun segera mengejar, sedangkan Nathan dan Rayhan membawa anak buah itu ke kantor polisi sekaligus mengamankan Clara.
***
Mobil hitam yang dikendarai anak buah Yosie melaju cepat secara asal, banyak kendaraan yang menyingkir dan juga bunyi klakson saling bersahutan. Sementara di belakang, terdengar suara sirine mobil polisi yang masih berusaha mengejar, dan satu polisi yang lain meminta bantuan yang lain untuk mencegat dari arah depan.
"Percepat lajunya! Kita masih dikejar!" bentak Yosie yang begitu panik. Dia beberapa kali menoleh ke belakang dan mengumpat saat melihat mobil polisi itu masih mengejar. Mereka berdua semakin panik saat dari arah depan juga ada mobil polisi yang bersiap mengepung mereka.
"Bodoh! Kita terkepung!" Yosie memukul dashboard mobil dengan kencang.
"Berpeganglah, Tuan." Anak buah Yosie masih tetap terlihat begitu tenang dan mengemudikan mobil itu dengan lihai. Menerobos mobil polisi tersebut. Yosie yang melihat itu, tersenyum sangat puas saat mereka bisa melarikan diri lagi. Namun, kebahagiaan itu hanya sesaat karena tiba-tiba ada container dari arah depan yang berada tepat di depan mereka.
"Awas!" teriak Yosie sebelum akhirnya mobilnya bertabrakan dengan container tersebut. Mobil Yosie berputar di aspal, menabrak pembatas jalan, jatuh ke dalam jurang, dan ....
Boom!
Terdengar suara dentuman keras dari dasar jurang. Banyak kendaraan yang menghentikan lajunya. Polisi yang barusan mengejar pun segera turun dan melihat ke arah jurang di mana mobil hitam itu sudah terbakar. Johan dan Mike yang baru tiba juga terkejut saat melihat itu.
Salah seorang polisi di antara mereka segera meminta bantuan untuk melakukan evakuasi. Tidak ada setengah jam, anggota penolong itu datang dan segera turun ke lokasi.
"Yah, apa Kakek Yosie akan selamat?" tanya Mike tanpa memutus pandangan dari dasar jurang.
"Kemungkinan besar tidak. Lihatlah kobaran api itu, aku yakin kalau dia sudah terpanggang di dalam sana. Ini balasan untuk orang yang serakah." Johan pun menjawab tanpa mengalihkan pandangan. Lelaki itu menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan.
Mike merogoh saku celana dan mengambil ponsel dari dalam sana. Dia menghubungi kakeknya untuk memberi tahu kejadian tadi.
***
"Kenapa perasaanku tidak enak?" gumam Fey. Sedari tadi dia merasakan jantungnya berdebar tak karuan dan rasanya sangat tidak nyaman.
"Nona, apa ada yang mengganggu pikiran Anda?" tanya Alan sopan.
"Aku tidak tahu kenapa perasaanku tiba-tiba sangat tidak nyaman seperti ini. Aku merasa ada hal buruk yang terjadi." Fey memegang dada saat merasakan debaran jantungnya semakin terasa cepat.
"Mungkin karena Anda merindukan Tuan Yosie dan pergi tanpa berpamitan Nona." Alan berusaha menenangkan.
"Bisa jadi. Maukah kamu menghubungi nomor papa. Aku ingin berbicara padanya," pinta Fey dengan penuh memohon.
Alan tidak menjawab, hanya mengangguk cepat lalu mengambil ponsel untuk menghubungi nomor Yosie, tetapi tidak terhubung sama sekali. Alan tak putus asa, dia menghubungi nomor anak buah Yosie yang lain untuk mencari tahu. Alan hampir menggeram marah karena tidak ada panggilannya yang terhubung. Masih ada satu anak buah bayangan yang pasti tahu keberadaan Yosie. Namun, hasilnya tetap sama.
"Bagaimana?" Pertanyaan Fey mengagetkan Alan. Lelaki itu menjawab dengan tergagap saat mengatakan tidak ada satu pun nomor yang bisa dihubungi.
Fey menghela napas panjang untuk sedikit mengurangi kegelisahan di hatinya. "Kita nanti coba lagi saja. Mungkin saat ini mereka sedang sangat sibuk."
Alan mengangguk mengiyakan, bola matanya menatap lekat tubuh Fey yang sedang mengarahkan kursi rodanya ke arah dapur. Lelaki itu pun mengikut di belakang, berjaga-jaga kalau Fey akan membutuhkan bantuannya.
Fey mengambil air dingin dari kulkas dan menuangkan ke dalam gelas. Kemudian, dia melajukan kursi roda itu kembali ke ruang santai untuk menonton televisi. Namun, baru saja televisi menyala, tubuh Fey dan Alan sama-sama menegang saat mendengar ucapan reporter berita di chanel itu.
Sebuah kecelakaan menimpa adik ipar dari pengusaha ternama Richard Anderson yaitu Yosie William, mengakibatkan Yosie dan Frederic, sopir mobil meninggal di tempat setelah mobil itu meledak karena masuk ke dasar jurang.
Prang!
Gelas yang dipegang Fey jatuh berhamburan di lantai. Namun, Fey tidak peduli dan masih berusaha mencerna berita itu. Alan yang berdiri di belakang Fey pun menjadi begitu panik.
"Papa," gumam Fey. Air mata berderai membasahi wajah cantiknya saat melihat siaran televisi itu sedang menampilkan video proses evakuasi jenazah. Fey menutup mulut saat melihat gambar mobil sang papa yang sudah hangus terbakar.
"Aku harus bertemu papa sekarang!" Fey begitu panik. Dia melajukan kursi roda dengan cepat dan Alan segera mengejarnya.
"Anda harus tenang, Nona." Alan memegang kursi roda untuk menghentikan lajunya.
"Bagaimana aku bisa tenang! Bukankah kamu lihat sendiri kalau tadi papa ...." Fey tidak mampu lagi meneruskan kata-katanya. Hanya menutup mulut untuk meredam isakannya.
"Saya akan mengajak Anda pulang, tetapi Anda harus tenang." Alan berbicara dengan lembut. Fey pun akhirnya menurut dan mengusap air mata yang sudah memenuhi seluruh wajahnya.
Setelah melihat Fey sudah kembali tenang, Alan segera mengajak wanita itu pulang ke rumah. Alan pun sebenarnya sama, merasa begitu terkejut dan kehilangan. Dia tidak menyangka kalau Yosie akan meninggal dalam keadaan setragis itu.
Hampir dua jam menempuh perjalanan, mobil yang dikendarai Alan masuk ke area rumah sakit. Dia membantu Fey turun dari mobil dan hendak mencari keberadaan sang papa. Di saat hendak bertanya kepada perawat, Mike dan Johan sudah terlebih dahulu mendekati Fey.
"Mike, aku lihat berita papa kecelakaan?" tanya Fey lemah.
"Ya. Kamu yang sabar, Nona. Semua sudah takdir." Mike pun menceritakan kronologi kejadian yang merenggut nyawa Yosie. Fey kembali menangis, tetapi dia berusaha ikhlas.
π¦π¦π¦
Wah, Othor kepagian
Minta kopi dong π
Kalau Othor bilang sudah tamat, kalian percaya enggak? π
Selamat pagi dan selamat beraktivitas gaes